
Zi membuka apartemennya dengan perasaan lemas, seolah tak mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Dia terduduk di sofa sesaat, kemudian memutuskan mengambil air putih dari dalam kulkas, dan diminumnya dengan tiga teguk kan, sesuai dengan sunnah Rosul kita.
Dia teringat tadi pria itu menyuruhnya membuka sebuah kotak di kamarnya. Zi beranjak dan bertanya-tanya dengan isi kotak itu, saat membukanya Zi tertegun
Masya Allah cantik sekali, apakah dia memintaku menggunakan dress ini? Ini pasti lebih mahal dari dress yang aku berikan pada Kak Zahra. Anda sungguh berlebihan Tuan, aku tak akan terlihat jadi lebih cantik hanya karena sebuah baju bukan?
Setelah melaksanakan sholat Ashar Zi memutuskan untuk bertilawah menenangkan hatinya. Ia hanya memohon pada Sang Penggenggam Segala Hati, jika memang ia dan suaminya benar-benar berjodoh, semoga Robb berkenan melembutkan hati kedua orang tua pria itu. Sebuah pesan kembali masuk
“Maaf sepertinya saya terlambat, kita akan berangkat setelah sholat maghrib”
Baiklah Tuan terserah anda saja, aku sudah tak punya tenaga untuk membantah mu
Pukul lima sore, bel di apartemen tersebut berbunyi. Saat Zi buka, wanita itu memperkenalkan diri. Dia penata rias yang diminta suaminya untuk datang mendandani Zi.
Sebenarnya anda ingin melihatku seperti apa sih, apa wajahku terlihat memalukan untuk dibawa ke depan orangtuamu. Kalau begitu kenapa berani sekali menikahi ku
Zi kemudian memutuskan untuk mengambil wudhu terlebih dahulu, agar nanti saat maghrib tiba ia tinggal melaksanakan kewajibannya tanpa harus merusak make up yang telah sengaja disiapkan oleh suaminya itu.
Setelah wanita itu berpamitan, Zi memandang pantulan dirinya di depan cermin yang ada di ruang olahraga suaminya.
Benarkah ini aku? Bagaimana mungkin riasannya terlihat sangat natural tapi membuat wajahku tampak asing. Apakah wajah seperti ini yang Kamu inginkan Tuan? Sungguh sepertinya anda salah memilih wanita, karena aku tak pandai bersolek, dan tak memiliki niat untuk memiliki keahlian itu.
Saat mendengar suara pintu apartemennya yang terbuka, Zi memutuskan keluar dari ruangan itu. Za yang melihat pemandangan di depannya tak mengedipkan mata barang sedetik.
“Maaf jika terlihat aneh, dan tak sesuai ekspektasi anda Pak”
__ADS_1
“Hm… Kamu sudah siap? Saya akan sholat dan berganti baju dulu sebentar”
Orang itu maunya apa sih, apakah ini benar-benar terlihat buruk? Apakah aku tak layak dipuji sama sekali. Zi
Kenapa gadis itu cantik sekali, kalau bukan karena Mama Papa aku tak akan membiarkan wajah gadisku dilihat oleh orang lain. Za
Sepanjang perjalanan Zi tak mengoceh seperti biasanya. Za sangat memahami hal itu, dia membiarkan gadis itu berusaha untuk mengendalikan perasaannya.
Satu hari setelah pernikahan mereka, Za langsung memberikan kabar pada Papa Hartono dan Mama Lidya, jangan tanya bagaimana reaksi mereka tentu saja sangat terkejut dan marah, tapi Za berusaha menjelaskannya sebaik mungkin hingga mampu meredam sedikit kemarahan mereka, dan hari ini Za memenuhi janjinya untuk membawa gadis itu ke hadapan mereka.
Za mengucapkan salam sambil membuka pintu rumahnya, Zi memilih berjalan di belakang suaminya karena perasaan gugupnya yang tak bisa ia kendalikan.
Terdengar ucapan salam dari dalam, ternyata di sana sudah ada Mama, Papa dan Bi Euis.
Za mencium tangan kedua orangtuanya, disusul dengan Zi.
“Eh non jangan, tak usah jangan seperti itu pada Bibi” Bibi dengan segera menarik tangannya, yang hanya dibalas senyuman gadis itu.
Tapi dari sepanjang sejarah, baru kali ini Za mencium tangan mereka, kesambet apa anak ini pikir sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi itu.
Bu Lidya menatap Zi lekat, dari ujung kepala hingga ujung kaki, Za yang menyadari itu segera meminta Zi untuk duduk.
Setelah obrolan kesana kemari, mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam yang sudah disiapkan Bi Euis. Hidangannya tampak sedikit berlebihan untuk jumlah orang yang ada di meja saat ini.
Zi yang biasanya mengambilkan makan untuk suaminya, dia mati kutu, seorang Zi mati kutu hingga tugasnya itu hari ini dilakukan oleh suaminya. Papa Hartono memandang kedua pemuda pemudi itu dengan tatapan penuh senyuman, berbeda sekali dengan sang istri.
__ADS_1
Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, Papa Hartono beranjak menuju kamarnya sebentar untuk mengecek pesan di ponselnya. Sedangkan Bu Lidya meminta Za untuk mengikutinya ke ruang kerja Papa, Zi hanya memandang kedua punggung itu menjauh darinya menuju sebuah ruangan dengan pintu berwarna turquoise muda.
Zi bingung sendiri harus melakukan apa, dia memutuskan untuk membantu Bi Euis di dapur membersihkan dan membereskan bekas makan mereka tadi, yang ditolak berkali-kali oleh wanita baik itu.
“Jangan Non, tak usah nanti Tuan Za malah marah sama saya gimana Non?” Bi Euis hanya berbasa-basi karena tak mungkin Bos kesayangannya itu memarahinya.
“Tak mungkin Bi.. Bibi tenang saja, Tuan Za sudah jinak sama saya” Ucap Zi dengan pede nya sambil tersenyum
Saat Zi bertanya dimana kamar mandi, Bibi menunjukkan pintu di sebelah ruangan tadi Za dan Bu Lidya masuk. Zi pun melangkah kesana sambil menatap bangunan rumah itu yang sangat mewah.
Rumah ini mewah, tapi terasa sepi, mungkin karena jumlah penghuninya yang tak sebanding dengan luas bangunan ini.
“Za, kamu serius akan melanjutkan pernikahan ini?”
“Tentu saja serius Ma, sejak kapan Za main-main untuk hal sepenting ini”
“Apakah kamu tidak punya kandidat lain untuk dijadikan sebagai istri. Bahkan adikmu saja, sekarang sedang berpacaran dengan seorang pengusaha besar batu bara di negara kita”
“Tak ada Ma, tak ada wanita lain”
“Za coba lihat Mama baik-baik, kamu pernah pikirkan bagaimana tanggapan relasi Papa jika mereka tahu latar belakang istrimu yang hanya berasal dari keluarga biasa. Kamu bisa lihat dandannya sangat jauh berbeda dari gadis-gadis teman Papamu yang selama ini sudah menunjukkan ketertarikannya padamu"
"Coba dipikirkan lagi Za, cara berpakaiannya saja tak pernah terbayangkan oleh Mama, tak ada elegan-elegannya sama sekali, meskipun kamu menyuruhnya menggunakan pakaian semahal apapun, tetap saja sangat terlihat kelas kita berbeda jauh Za”
“Mama ini sebenarnya sedang mencari seorang menantu, atau sedang membuka nominasi ajang kecantikan sih?” Za mulai tak faham dengan cara berpikir ibunya.
__ADS_1
“Jangan bercanda kamu Za Mama serius. Mama akan pilihkan kamu wanita yang jaaauh lebih baik dari gadis itu. Awalnya Mama tak ingin melakukan ini Za, karena Mama percaya pada pilihanmu, tapi setelah melihatnya secara langsung, Mama kecewa padamu Za, kecewa sekali karena kamu tak mengerti menantu seperti apa yang Mama inginkan. Secepatnya lebih baik kamu tinggalkan gadis itu, toh kamu menikahinya karena terpaksa bukan?”