Hanya Zi

Hanya Zi
Zona Teritorial


__ADS_3

Bukannya mandi, Zi malah melihat-lihat seperangkat alat mandi dan kosmetik yang digunakan suaminya itu. Zi takjub melihat pemandangan yang ada di depannya kini.


Hm.. benar-benar untuk menjadi tampan dan cantik kadang memang butuh isi kantung ekstra. Ini pasti mahal, karena aku tak pernah melihatnya di iklan tv hehe..


Setelah selesai dengan ritualnya, Zi memutuskan untuk kembali ke ruang tengah. Saat Zi menuju sofa, ternyata makanan yang Za pesan sudah tersedia.


Za menyuruhnya untuk segera makan bersamanya. Zi memilih untuk makan dengan duduk diatas karpet dan makan dengan menggunakan tangannya.


“Kenapa di bawah?”


“Hm.. lebih nyaman Pak, apalagi saat makan langsung dengan tangan seperti ini, lebih nikmat sambil mengacungkan jempolnya”


“Memangnya pengaruh makan dengan tangan bisa menjadi lebih nikmat?”


“Menurut Zi sih pengaruh Pak, katanya di tangan kita juga ada enzim, asal sudah cuci tangan ya, jadi rasanya berbeda sekali dengan kita menggunakan sendok, apalagi jika kita makan disuapi langsung oleh orang yang kita sayangi"


"Dulu saat Zi masih suka disuapi Ibu, Zi bisa tambah makan beberapa kali, karena rasanya berbeda sekali mungkin ada bonus cinta kasih di sana” Zi berbicara sambil membayangkan sang Ibu di pelupuk mata.


“Kamu beruntung Zi”


“Kenapa?” Pertanyaan itu tak ia dijawab. Tapi Zi menebak seolah-olah ada masa-masa yang hilang dari pria yang berada di sampingnya ini


“Bapak pernah makan pakai tangan?”


“Tak pernah”


“Masa, tak pernah atau tak bisa?”


“Tak bisa karena tak pernah sama sekali”


Masa iya sih di dunia ini ada orang yang tak bisa makan langsung menggunakan tangan, apakah hanya terjadi di Indonesia? Memangnya negara lain tak ada yang menggunakan tangan? Ah ada ko, lalu kenapa dengan pria ini?


Akhirnya mereka sama-sama telah menghabiskan makan malamnya tak bersisa.


Selain obrolan tadi, mereka sepakat untuk masih merahasiakan pernikahan mereka dari orang-orang kantor, sampai Za punya kesempatan bertemu dengan kedua orangtuanya menjelaskan apa yang terjadi pada mereka.


Zi pun menyetujui hal itu, toh saat Zi cuti kemarin Zi tak memberitahukan alasan ia cuti, rencananya teman-teman di kantornya baru akan ia beri tahu saat pembagian undangan resepsi, tapi apa mau dikata Takdir Allah berkata lain.

__ADS_1


Za beranjak menuju ruang kerjanya, sedangkan Zi berniat mengambil bantal dari kamar tidur untuk tidur di sofa, karena matanya sudah tak bisa diajak kompromi. Saat Zi hendak tidur


“Kenapa tidur disitu?”


“Tak kenapa-napa Pak”


“Tidur saja di kamar, biar saya saja yang tidur disini”


“Mana bisa Pak, ini kan tempat tinggal Bapak, saya hanya penghuni baru, jadi rasanya tak mungkin saya bersikap tak sopan pada pemilik rumah bukan?”


“Setau saya, seorang istri tak boleh membantah suaminya bukan, mau sampai kapan kita berdebat soal tempat tidur?”


What istri? Dia menyebutku istri?


Mau tak mau Zi menuruti kemauan pria itu. Dia beranjak menuju kasur, dengan perasaan tak menentu. Sedangkan sofa tadi sudah diisi oleh pria tadi.


Zi membolak balikkan badannya kesana kemari, bukan karena kasurnya tak nyaman, lebih dari nyaman bahkan. Zi yakin harga kasur ini bisa sampai dua puluh kali lipat dari yang ia miliki di rumah.


Ya Allah, kenapa pria itu membuatku merasa berdosa. Apa yang harus aku lakukan, akupun belum bisa mengendalikan perasaanku, karena semua ini masih terasa seperti mimpi. Meskipun aku mengenal pria itu, tapi situasi seperti ini sama sekali tak pernah terbayangkan.


“Pak….Pak…” Zi membangunkan pria itu yang sudah terlelap. Karena tak ada tanda-tanda kehidupan, Zi menarik pelan lengan baju pria itu tanpa menyentuh kulitnya sedikitpun. Akhirnya pria itu pun tersadar


Merekapun akhirnya tidur dikasur yang sama, dengan dibatasi guling dibagian tengah sebagai zona teritorial.


*****


Keesokan paginya, Zi bangun pagi sekali antara tidur dengan kondisi tak nyaman atau berdo’a semoga waktu berjalan cepat sehingga pagi segera menjelang.


Zi hanya sempat menyiapkan nasi goreng telur ceplok yang sebelumnya sudah disetujui sang empunya apartemen.


Setelah menghabiskan sarapannya, Zi pamit ke kantor terlebih dahulu menggunakan ojeg online agar bisa segera sampai ke kantor.


Hari itu berjalan seperti biasa, hingga waktu jam makan siang, pesan masuk ke ponsel Zi


“Sore nanti kita bawa barang-barang dari tempat lamamu”


“Baik Pa, saya akan sewa mobil saja, Bapak silakan langsung kembali ke apartemen”

__ADS_1


“Kirim alamatnya!”


Apa apaan ini, pakai tanda seru tanda seru segala, sudah seperti kompeni


Tanpa berfikir panjang Zi mengirimkan alamat kosannya, dengan menegaskan bahwa pria itu tak perlu ikut membantu proses pindahan, karena tak enak jika ada yang melihat.


Za hanya memandang gadis itu mondar mandir keluar masuk gang beberapa kali, berhubung mobil tak bisa masuk ke lokasi kosannya.


Ya Za menepati janji untuk tak ikut saat pindahan, dia hanya mengontrol gadis itu dari dalam mobil mewahnya itu. Hingga saat Zi membawa beberapa barang di tangan kanan kirinya, Zi terjatuh dan kakinya terkilir.


Za yang melihat pemandangan itu segera berlari.


“Tuh kan, kalau kerasa kepala itu akibatnya begini” Zi tak bisa membantah, karena saat ini ia sedang menahan rasa sakitnya.


“Masih bisa jalan? kamu masuk mobilku” Zi mengangguk pelan. Lebih baik dia berjalan tertatih menahan rasa sakitnya, daripada dia harus dipapah oleh pria ini.


“Masih ada barang yang tertinggal tidak?” Zi hanya menggeleng. Pria itu lalu menghampiri pengemudi mobil sewaan tadi dan menunjukkan alamat kemana barang-barang itu harus dikirim.


Setelah memberikan beberapa uang tips, pria itupun pergi meninggalkan apartemen Za. Jangan ditanya bagaimana Zi bisa naik ke atas. Za meminta tolong petugas wanita di apartemennya untuk membantu memapah Zi, karena gadis itu sepertinya masih ingin menjaga jarak dari suaminya ini.


Zi menjulurkan kakinya di atas sofa, sambil sesekali meringis. Za mengambil obat salep dari kotak P3K nya.


“Kenapa kamu mudah sekali terkilir sih?”


“Bukan saya yang mau Pak”


“Tahan ya”


“Eh Bapak mau apa?”


“Kamu pikir saya mau melakukan apa?”


“Nanti saja Pak, kita cari tukang urut wanita” cecar Zi


“Kamu tahu tidak, bagaimana tadi pandangan wanita yang membantumu berjalan? Kamu berhijab lebar berdua-duaan dengan seorang pria, tinggal bersama di sebuah aparteman, tapi pria itu membiarkan gadis itu berjalan bersama orang lain, seolah aku bukan suamimu dan aku bukan pria yang bertanggung jawab”


“Bapak kenapa jadi pidato sih”

__ADS_1


“Kamu mengerti mahrom kan? Tahan ya”


Zi menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan rasa sakit yang sejak tadi dia rasakan.


__ADS_2