
Hm… bahkan kasur di kantormu ini saja, mengapa terasa nyaman sekali, jangan-jangan harganya lebih mahal dari kasur di apartemenmu, apa anda berniat bermalam setiap hari di sini Tuan
Tak lama terdengar suara pintu ruangan suaminya terbuka, Zi melirik dari kaca besar transparan disana, ia pikir suaminya yang datang, ternyata Silvi, gadis itu menyimpan secangkir kopi di meja kerja Za. Tak lama Silvi keluar, kali ini benar-benar suaminya yang masuk.
Zi berniat menjahili suaminya dengan mengagetkannya nanti, menunggu apa yang dilakukan pria itu saat ini, memandang wajah pria itu dari jauh sesuka hatinya.
Ia mengingat kembali perbincangannya dengan Sarah tadi siang, yang membuat ia semakin bersyukur memiliki suami sesempurna pria ini.
Za terlihat memandang kopi itu dengan tersenyum
Pasti dia pikir itu kopi buatanku, kenapa wajahnya lucu begitu saat mesem-mesem seperti orang sedang jatuh cinta saja. Hei suami itu bukan kopi buatanku, masa kamu tak bisa membedakannya, katanya cinta masa rasa kopi buatan istrinya saja lupa.
Terlihat Za mengerutkan keningnya, seolah ada yang salah dengan kopi yang ada di hadapannya kini, tapi pria itu kembali tersenyum dan menghabiskan kopinya.
Saat Zi hendak keluar ruangan untuk menginterupsi suaminya, langkahnya terhenti dengan kedatangan Silvi
Ia mengurungkan niatnya membuka pintu, ingin mengetahui sebenarnya setiap hari apa saja yang dilakukan suaminya dengan sekretaris cantiknya itu.
Mereka terlihat mengobrol, membahas laporan dengan posisi berhadapan di meja kerja Za.
Hingga tak lama, gelagat aneh mulai nampak dari Za, pria itu mulai menggosok-gosok tengkuk lehernya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang kelelahan, menundukkan kepalanya sambil meremas rambutnya
Kak Za kenapa? Apa dia sakit?
Tanpa disangka, dengan berani SIlvi mendekati Za, berjalan ke samping kursi suaminya itu, Zi mendekatkan telinganya ke kaca, memastikan apa yang ia dengar. Tapi percuma, ketebalan kaca tak akan sanggup menembus suara yang ingin Zi dengar dari dalam sana.
“Za kamu kenapa?”
“Ga tau Sil, badanku panas, aku seperti demam”
Silvi memegang dahi Za seolah mengecek suhu tubuhnya
Eh apa-apan itu, Kak Silvi pegang-pegang suami Zi, Kak Za kenapa lagi diam saja
“Tidak kamu tidak demam Za”
Za terlihat berdiri berjalan modar-mandir mendekati sofa tempat ia meeting dengan kliennya.
“Tolong kurangi suhu AC nya Sil”
Silvi terlihat menuruti perintah itu, tapi Za tetap merasa tubuhnya panas, Za akhirnya melonggarkan dasinya
“Sini aku bantu” Za mulai terlihat tak bisa berkonsentrasi, dia bahkan membiarkan saat Silvi membantu membuka jas dan dasinya. Tapi tunggu, kenapa Silvi ikut-ikutan membuka blazer miliknya sendiri.
Za terlihat akan melangkah menuju ruangan pribadinya, tempat dimana Zi sejak tadi memandang apa yang sedang mereka lakukan.
Tapi Silvi menarik lengan pria itu, yang sudah seperti orang kebingungan, Silvi menyuruh Za untuk membaringkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
“Kamu kepanasan kan Za, aku akan membuka kemejamu”
“Ahhhh…” Za terlihat kembali hendak berdiri, tapi bertolak belakang dengan keinginan tubuhnya yang saat ini sangat ingin disalurkan. Silvi kembali menarik tubuh Za ke sofa, dia berusaha mendekatkan wajahnya pada pria itu, hendak menciumnya.
Dengan segera, wanita yang sejak tadi memandang adegan tak wajar dari balik kaca, membuka pintu dengan luapan emosi yang tak bisa tertahan kala itu.
“Kak Silvi!” Zi sudah tak kuasa menahan diri
“Kak Silvi mau apa?” Silvi terlihat kaget, karena Zi yang tiba-tiba muncul dari ruangan itu
“Apa yang Kak Silvi lakukan pada suami Zi?” Silvi terlihat gelagapan tak bisa membela diri, gadis itu segera pergi meninggalkan ruangan itu dan meja kerjanya, bahkan ia sampai melupakan blazer yang tadi ia buka, karena malu rencananya dipergoki gadis itu.
Zi dengan segera mengunci pintu ruangan suaminya dan kembali mendekati Za
“Kak Za kenapa?” Za tak menjawab hanya membolak-balikkan badannya di sofa itu, terlihat gelisah. Zi mendudukkan suaminya
“Kak lihat, siapa aku?” Za masih meremas kepalanya sambil memandang gadis cantik di hadapannya, mencoba memulihkan kesadarannya
“Zi tolong badanku panas”
“Ayo, Kak Za istirahat ya” Zi membopong badan pria itu ke ruangan pribadinya. Setelah Za terlentang, ia menarik tangan Zi hingga badan gadis itu menindihnya
“Tolong aku sayang” dalam hitungan detik pria itu mendaratkan ciuman pada bibir gadisnya, sedikit kasar, tak seperti biasanya
“Kak Za kenapa, tak biasanya kasar begini?”
“Aku mau kamu pliiss” Zi yang masih tak yakin dengan kesadaran suaminya kembali mengusili suami yang sudah tak karuan bentuk rupanya itu
“Zi”
“Zi siapa?”
“Zidna Ilma sayang” Zi tersenyum puas mendengar jawaban suaminya itu, mengecup bibirnya sayang, lalu memenuhi apa yang pria itu inginkan.
Kak Za kenapa, kenapa tadi dia aneh sekali.
Pria itu masih tertidur disampingnya, karena Zi tak bisa menahan rasa curiganya, dia mencari info di embah embah segala bisa di hp smart phonenya, dengan posisi lengan Za yang masih ada di pinggangnya.
Mungkinkah Kak Silvi melakukan hal buruk itu tadi?
Za terlihat mulai menggeliat, mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sekeliling
Waaah.. benar-benar suamiku sepertinya memang sedang tak sadar
“Kak Za ingat tadi Kak Silvi berbuat apa?”
“Aku memintanya menurunkan suhu AC karena badanku panas”
__ADS_1
“Lalu?”
“Entahlah, sepertinya aku mulai linglung” Za kembali memeluk istrinya, yang sama-sama masih tak mengenakan sehelai benangpun di bawah selimut
“Memangnya dia melakukan apa padaku?”
“Dia membuka jas, dasi dan hendak membuka kemejamu Kak. Lalu yang lebih parahnya lagi dia hendak menciummu. Zi tak tahu apa yang akan terjadi kalau Zi tadi tak berada di ruangan ini” gadis itu mulai terisak
Za terlihat mengingat-ingat kejadian tadi
“Hei.. ssst.. maafkan aku, aku tak sadar, tadi aku seperti bukan diriku sendiri, badanku panas, lemas tapi dilain sisi hasratku tak terkendali”
“Tapi Zi tak bisa membayangkan hal buruk apa yang mungkin saja kalian lakukan jika Zi tak ada disni Kak.. Huaaa..” Tangisan Zi semakin kencang
“Tak mungkin Zi, aku tak mungkin mengkhianati kamu”
“Iya, Kak Za mungkin tidak, tapi tidak dengan wanita-wanita di luar sana yang tak bisa berdiam diri melihatmu Kak.. Huuuuu.. Huuuu...”
“Ssstt.. sayang.. buktinya tadi aku mengingatmu kan, aku hanya mau kamu, tidak yang lain, apa tadi aku memeluk Silvi? Tidak kan?”
“Kak tadi itu nyaris Kak, nyaris Kak silvi akan mencium bibir Kak Za, bibir milikku”
“Iya sayang iya, sebelum kamu datang aku sudah berniat mendorongnya karena menyadari wajah di depanku itu bukan kamu”
“Sungguh?”
“Iya sayang”
“Pokoknya Kak Za jangan meminum apapun yang orang lain buatkan , kecuali istrimu ini yang membuatkannya ya?”
“Memangnya tadi itu bukan kopi buatanmu?”
“Bukaaaaan Kak” Zi menghentak-hentakkan tangan dan kakinya, saking kesal karena keteledoran suami tampannya ini. Bayangkan saja, suaminya nyaris saja berzina dengan wanita lain, wanita yang tak semestinya.
“Pantas saja, kenapa rasanya berbeda”
“Kalau berbeda, kenapa tetap dihabiskan Kak,, Ihhh nyebelin” Zi memukul-mukul dada suaminya gemas
“Iya maaf ya sayang, maaf.. Pokoknya nanti aku akan minum kopi dari tangan istriku langsung, tidak dari tangan yang lain” Zi kembali memeluk erat suami yang nyaris “ternodai” itu.
“Zi sayang..”
“Hmm..”
“Kamu sudah berjanji lembur kan hari ini?”
“Iya, tadi aku sudah menyelesaikan tugas lembur ku, sebelum masuk ke ruangan ini”
__ADS_1
“Belum sayang, tugas lembur mu belum usai, jika tak mau aku pecat”
“Tugas apalagi Kak?”