
Malam harinya
“Assalaamu’alaikum Zi kamu apa kabar?” Suara Zahra di seberang telepon
“Alhamdulillaah sehat kakakku, Alhamdulillah tadi siang Zi sudah menyelesaikan sidang Kak Zahra”
“Masya Allah luar biasa kilat ya Zi, biar cepat apa Zi?
“Biar cepat kerja lah kak, Oh iya Kak Zahra sudah dapat kerja Kak?”
“Alhamdulillah sudah Zi, tak lama dari kakak wisuda, kamu rencananya mau pulang kampung atau mau cari pekerjaan di sini Zi?”
“Hm.. setelah difikir-fikir sepertinya Zi kerja di Jakarta dulu Kak masalahnya kalau pulang kampung, Zi masih belum terbayang akan melamar kerja dimana, terus peluangnya juga rasanya kecil Kak di sana. Kak Zahra mungkin ada info lowongan buat jurusan aku Kak?”
“Kalau sekarang sih sepertinya belum, tapi nanti kalau sudah ada info lowongan Kakak pasti kasih tahu kamu”
*****
Zi masih menikmati masa-masa bebasnya setelah wisuda, mencari info-info lowongan pekerjaan di media cetak, media sosial, website resmi beberapa perusahaan dan akhirnya dia mencoba melamar ke beberapa perusahaan yang dirasa bagus.
Satu minggu kemudian
“Ki bisa keruangan gue sebentar?” Panggil Za dari meja kerjanya.
Tak lama Rizky Pun masuk sambil mengucapkan salam
“Kenapa Za, ada yang bisa gue bantu?”
Za mulai menjelaskan bahwa saat ini mereka memiliki beberapa project dengan schedule penyelesaian yang hampir bersamaan.
Artinya perusahaannya ini memerlukan beberapa karyawan baru yang berkualitas jika perlu yang memang sudah berpengalaman.
Akhirnya Za meminta tolong Rizky untuk mencarikan karyawan baru untuk mengejar deadline di perusahaan mereka, karena Za percaya Rizky bisa merekomendasikan beberapa kenalannya yang berpengalaman, kalaupun belum berpengalaman setidaknya orang tersebut bisa dan mau bekerja giat.
“Apa tak sebaiknya melibatkan HRD saja Za?”
__ADS_1
“Sudah tak perlu, untuk urusan ini gue percayakan sama lo Ki, untuk HRD nanti biar gue yang atasi, jadi nanti berkas-berkas lamarannya supaya dikirim ke meja lo saja ya”
Rizky pun hanya bisa mengangguk mendengar permintaan sahabatnya itu.
*****
“Assalaamu’alaikum Zi ini ada lowongan, barangkali mau dicoba” pesan dari Iqbal
Zi tertegun, ini sih perusahaan besar antara yakin dan tidak untuk mencobanya, karena jujur Zi sendiri tak cukup percaya diri dengan kemampuannya saat ini, tapi tak ada salahnya mencoba bukan.
Akhirnya Zi memutuskan untuk memasukan lamaran pada perusahaan tersebut.
*****
Dari Lantai 14 Gedung Hartono Group, seorang pria memandang beberapa berkas lamaran yang ada dihadapannya saat ini. “Gila banyak juga ya, padahal hanya share di grup arsitektur kampus saja”
Tak lama, dari sekian banyak berkas yang masuk dia tertegun memandang sebuah nama di depannya “Oh iya ya, kenapa gue tak terfikir memberi tahu anak ini, benar-benar pekerjaan membuatku lupa dengan urusan perempuan”.
Setelah berunding dengan Za diputuskan mereka akan memanggil 20 orang yang akan diseleksi 9 wanita dan 11 pria setelah memilih dari 50 berkas yang masuk.
Senin pagi mereka sudah siap di ruang interview, Zi menggunakan setelan rok dan blazer hitam yang sengaja dia beli setelah mendapatkan info lulus seleksi pemberkasan, tanpa melupakan hijab lebarnya yang ia biarkan terurai diluar blazer nya.
Penampilan Zi saat itu nampak “asing” diantara peserta interview lainnya, karena diantara mereka hanya Zi yang menggunakan hijab lebar sedangkan satu gadis lainnya menggunakan hijab pendek yang dililit ke lehernya.
Iqbal mendapatkan urutan no.9 sedangkan Zi mendapatkan nomor pamungkas. Saat semua peserta sedang menunggu antrian untuk interview, Za, Kepala HRD dan Rizky masuk melewati mereka ada yang memasang wajah takjub, takut dan terkejut.
Oh jadi Kak Rizky dan Kak Za karyawan disini juga. Fikir Zi dan Iqbal
Saat seorang pria memperkenalkan mereka satu persatu, betapa terkejutnya ekspresi Zi, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Astaghfirulloh, musibah apalagi ini. Bagaimana mungkin dan bagaimana bisa aku terperangkap di tempat ini. Yang benar saja, mana bisa aku bekerja dengan orang sedingin es dan se flat wajahnya itu. Ish Pede sekali aku, diterima di perusahaan sebonafide ini saja belum tentu”
Sambil menunggu antriannya yang memang masih lama, Iqbal dan Zi memilih untuk melaksanakan sholat duha terlebih dulu, di mushola yang terletak di Lantai 1.
Iqbal memilih untuk segera meninggalkan mushola itu, sedangkan Zi memutuskan untuk bertilawah dulu di sana, agar membuat pikiran dan hatinya lebih tenang.
__ADS_1
*****
“Gimana Bal, lancar?” Ternyata tak enak ya jadi urutan akhir dag dig dug nya terlalu lama"
“Alhamdulillah lancar Zi, tenang saja Insya Allah kamu bisa, kalau sudah Rizkinya Insya Alloh lisan kamu nanti dimudahkan”
“Bagaimana pertanyaannya seram tidak, aduh tak terbayang jadi ketua BEM saja kadang mengerikan, ini jadi Boss” Zi mulai meremas-remas tangannya, tingkat kecemasan yang lebih tinggi dia rasakan dibandingkan saat dia menjalani sidang skripsi.
“Bal, aku mending ketemu dosen killer saja daripada ditanya sama orang seperti Kak Za”
Iqbal terkekeh
“Tidak ko, tidak seram hanya memang pertanyannya kadang mengejutkan”
“Ya sama saja kalau begitu”
Tak lama tiba giliran Zi, Zi terlihat komat kamit sambil menunggu 3 orang di depannya ini sedang membaca berkas yang dia berikan.
1,2,3,10 pertanyaan yang dilontarkan secara bergantian oleh 3 orang yang ada didepannya ini bisa Zi jawab dengan baik, meskipun ada satu pertanyaan yang tak dijawab sempurna sehingga dilengkapi langsung jawabannya oleh CEO berwajah flat itu.
“Apa alasan kamu melamar di perusahaan ini?” Tanya Za kembali
“Karena menurut saya, saya bisa mengembangkan diri dan mewujudkan mimpi saya di perusahaan ini” Jawab Zi tegas
“Kenapa bisa begitu yakin?” Rizky mulai penasaran
“Saya membaca beberapa profile tentang perusahaan ini, saya pikir meskipun berita yang muncul di media bukan wujud perusahaan ini yang seutuhnya, tapi saya memiliki feeling bahwa perusahaan ini perusahaan yang cukup di akui di Indonesia”
“Jika ternyata mimpi kamu tak bisa terwujud disini, dan perusahaan ini tak sesuai dengan ekspektasi kamu, apa yang akan kamu lakukan?” kali ini Kepala HRD yang bertanya
“Jika tak terwujudnya mimpi saya karena kesalahan yang saya perbuat sendiri, saya akan mencoba memperbaiki diri, tapi jika mimpi saya tak tercapai karena perusahaan ini mengecewakan saya, saya menyangsikan hal itu, karena tak mungkin karyawan sebanyak ini bisa bertahan jika tempat ia menggagas kan ide, tenaga dan pikirannya tak mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan kerja keras yang ia lakukan. Saya rasa perusahaan ini sangat profesional dalam memperlakukan karyawan-karyawannya”.
“Kamu yakin berpenampilan seperti itu saat bekerja?” tanya HRD kembali
“Sangat yakin Pa, karena sejauh ini apa yang saya kenakan tak pernah membatasi ruang gerak saya, apalagi mempengaruhi kinerja saya. Tapi jika perusahaan keberatan dengan cara saya berpakaian mungkin saya akan kehilangan kesempatan untuk bekerja disini”
__ADS_1