
Setelah perjuangan selama 15 menit, akhirnya Lidya menemukan sesuatu yang mmembuat ia tersenyum menang. “Aku harus menemukan gadis ini”
Disaat Lidya sibuk dengan kotak harta karun itu, Pa Hartono pergi menuju ruang kerjanya sambil memikirkan sesuatu
“Ternyata kamu memang benar-benar anak Papa Nak”
Pak Hartono mengingat kembali memory puluhan tahun silam, saat dia berada di kampus dan tertarik pada seorang gadis sederhana, yang juga adalah sahabat dari Lidya istrinya kini.
Saat itu Lidya tahu dengan pasti bahwa Hartono muda tertarik pada sahabatnya yang sederhana, cantik, anggun dan cerdas itu.
Lidya tak pernah sekalipun berniat merusak hubungan mereka, meskipun ia tahu antara Hartono dan gadis itu belum memiliki ikatan apapun, tapi tatapan mata keduanya mudah sekali ditebak olehnya.
Saling tertarik tanpa terucap apapun diantara mereka, itu yang ia tahu. Ternyata tak hanya Lidya yang menyadari ketertarikan gadis itu pada Hartono, sebaliknya gadis itu pun menyadari se sadar-sadarnya pancaran rasa bahagia saat Lidya menatap Hartono muda.
Itulah alasannya kenapa ia sama sekali tak berani mendekat pada pria yang jauh sekali berada di atas levelnya.
Sama seperti Zi, gadis itu memiliki keberuntungan otak yang cerdas sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa di tempat kuliah cukup bonafide pada masanya. Tapi apa daya, takdir berkata lain gadis itu meregang nyawa saat menolong Lidya yang akan diculik saingan bisnis Almarhum ayahnya dulu, yang tak lain adalah kakeknya Za.
Perasaan bersalah menyelimuti hati Lidya muda, hingga ia meminta izin pada ke dua orang tua gadis itu, untuk membawa beberapa barang-barang pribadi yang berada di kamar kos sederhananya dulu, meskipun sampai saat ini ia tak berani membukanya, karena ia mengira di dalam catatan pribadinya pasti akan banyak tertulis nama Hartono seperti pemikirannya saat ini.
*****
Tanpa Lidya tau, semenjak Za membawa istrinya ke rumah itu, Hartono menyelidiki asal-usul keluarga Zi, hingga penyebab ayahnya dulu mengalami kebangkrutan saat tinggal di Jakarta.
Ayah Zi memang bukan pengusaha besar, tapi dengan kekayaan yang dimilikinya waktu itu, cukup membuat ia jadi tempat dimintai pertolongan oleh beberapa keluarga mereka yang mencoba mengambil keuntungan dari kesuksesannya.
Hingga suatu saa, sahabat Ayah Zi sendiri melakukan penipuan pada kerjasama yang mereka lakukan, hingga mau tak mau semua aset yang mereka miliki saat itu harus dijual untuk melunasi hutang karena penipuan itu.
Untung saja, mereka masih memiliki sisa uang untuk membeli rumah yang sangat sederhana di sebuah desa di Tasikmalaya, jauh dari semua keluarga yang sama sekali tak berniat membantu keterpurukan mereka.
__ADS_1
Ayah Zi menjadi buruh tani serta guru mengaji di kampung, sedangkan Ibu membantu ayah menerima jahitan dari tetangga yang masih tak seberapa.
3 Bulan Pernikahan
Za, Silvi, Rio, Iqbal dan Zi malam ini akan menghadiri jamuan makan malam atas undangan kolega mereka. Za membelikan istrinya gaun berwarna hitam elegan, tentu saja atas pilihan karyawan butik, karena tak mungkin seorang Za bisa memilihkan gaun yang pas untuk istrinya.
Saat ini mereka berada di ballroom sebuah hotel di lantai 2. Silvi tampak tak percaya dengan gaun yang Zi gunakan.
Itukan terlihat mewah, mana mungkin gadis itu bisa membelinya, bahkan gajiku saja lebih besar dari gajinya, apa jangan-jangan pemandangan yang aku lihat di lift hotel waktu itu, bukan hanya kebetulan. Apakah mereka benar-benar menjalin hubungan? Aku tak percaya ini, gadis itu ternyata benar-benar murahan.
Saat mereka semua asyik menikmati jamuan, Silvi mengajak Zi menuju ke kolam renang yang ada di lantai satu, Zi pun berjalan mengikuti sekretaris suaminya itu. Mereka berbicara di samping kolam renang, Silvi yang menuntunnya untuk mengobrol di sana
“Zi apa kamu memiliki hubungan khusus dengan Pak Za?” Zi tampak kaget, tapi dia berusaha mengendalikan ekspresinya
“Tidak”
“Lalu darimana kamu bisa mendapatkan gaun mahal itu?”
Astaghfirullohal’adzim, aku lupa dengan mengenakan gaun ini justru akan menimbulkan kecurigaan orang lain, karena harganya terlihat sangat mahal
“Aku mendapatkan ini dari klienku”
Iya klien di rumah
“Kak Silvi memanggilku hanya untuk menanyakan ini?” Silvi pun tersenyum palsu, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu katakan.
Zi memutuskan untuk pergi meninggalkan gadis itu, saat ia berusaha untuk mengangkat gaunnya, karena gaunnya yang sedikit panjang, Silvi justru dengan sengaja menginjak gaun yang Zi kenakan hingga Zi terjungkal tak bisa menahan keseimbangan, lalu jatuh ke dalam kolam renang.
Zi yang tak bisa berenang, terlihat berusaha keluar dari kolam itu dengan susah payah, Silvi dengan tanpa rasa berdosa nya justru meninggalkan Zi, karena telah dibutakan rasa cemburu.
__ADS_1
Di dalam ballroom Za mulai mencari keberadaan istrinya, lalu menanyakan hal itu pada Iqbal, tapi pria itu juga tak mengetahuinya, entah kenapa instingnya mengatakan untuk beranjak mendekati kaca Ballroom itu yang bisa menampakkan posisi kolam renang dengan sangat jelas.
Betapa terkejutnya ia, karena matanya yang masih sangat awas, dia melihat seseorang yang sangat ia cintai sedang bersusah payah mempertahankan hidupnya. Za segera berlari dan ternyata pemandangan itu terlihat dengan jelas oleh Silvi.
Za berlari sekuat tenaga menuju kolam renang, di sana terlihat Zi sudah mulai kehilangan tenaganya, gadis itu mulai kehabisan nafas. Tanpa berfikir panjang Za hanya melepas sepatunya, lalu berusaha menolong Zi
Setelah berada di pinggir kolam, Za menepuk pipi gadis itu sedikit keras
“Zi.. bangun Zi” gadis itu masih tak juga sadarkan diri
“Sayang.. bangun sayang” Za tampak semakin khawatir.
Dia berusaha mengedarkan pandangannya, tampak tak ada seorangpun di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk memberinya nafas buatan.
Saat Za memberikan pertolongan itu, Silvi datang dengan jarak yang sedikit jauh dan matanya memerah menahan tangis, pria yang selama ini bersikap dingin pada wanita manapun, saat ini sedang menolong gadis itu menempelkan bibirnya di sana.
Tak kuat dengan pemandangan di depannya, silvi memilih untuk pulang meninggalkan jamuan itu, hatinya sudah hancur sungguh hancur tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
Ternyata benar kecurigaannya, mereka pasti memiliki hubungan.
Setelah beberapa kali memberikan nafas bantuan. Za kembali menepuk-nepuk pipi Zi
“Zi bangun Zi..”
“Sayang banguuuunnn..” Za terlihat meneteskan air matanya. Tak lama Zi terbatuk-batuk mengeluarkan air kolam yang tadi masuk ke mulutnya
“Uhukkkk Uhukkk… “ Tak membutuhkan waktu lama, Za langsung memeluk erat gadis itu yang sudah basah kuyup sama seperti dirinya
“Kamu kenapa bisa ada disini hm…” Za mengusap pipi gadis itu
__ADS_1