Hanya Zi

Hanya Zi
Dia yang Semakin Manis


__ADS_3

“Itu mah bukan hanya jalan-jalan tapi namanya haji dan umroh”


“Haha” Zi tak bisa menahan tawanya


Kenapa pria ini begitu baik, aku telah salah menilainya selama ini.


Tapi akankah kebahagiaanku terus hadir seperti ini. Robb Kamu begitu baik mempertemukan ku dengan pria sesempurna ini, sebenarnya apa yang tak bisa ia lakukan, bahkan memasak pun sepertinya ia lebih pandai dariku.


Aku begitu berkecil hati dengan diriku sendiri yang tak bisa memberikan apapun untuknya. Termasuk memberikan diriku seutuhnya, karena sampai saat ini aku tak tahu perasaanmu yang sebenarnya. Kamu hanya kasihan kah? Menciumku hanya terbawa suasana sajakah? Aku tak tahu. Yang pasti hari ini aku bahagia sekali berada di sampingnya.


Zi mulai berani menatap suaminya secara terang-terangan


“Kenapa menatapku terus, ganteng ya?”


Zi tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tanpa Zi sadari pria itu menarik satu tangan Zi, menggenggamnya lalu mengecupnya.


“Kak Za kenapa begitu manis pada Zi?”


“Sudah tugasku bukan?” Zi langsung teringat kejadian pertama kali saat mereka terjebak di dalam mobil hanya berdua. Sungguh kaku dan serba salah, berbanding terbalik dengan hari ini, suaminya itu sudah mulai banyak bicara bahkan sudah berani melakukan yang lebih dari itu.


"Kak Za ingat, waktu kita terpaksa harus pulang berdua. Kak Za merasakan apa saat itu?"


Pria itu tersenyum, manis sekali "Entahlah aku pun bingung, karena tak pernah terjadi sebelumnya"


"Pantas saja, Kak Za terlihat menyebalkan sekali" Za kembali menarik tangan gadisnya kembali mengecup jemari itu


"Maaf ya, jika dulu aku tak bersikap seperti itu, apa kamu tetap akan menerimaku Zi?" Gadis itu tak menjawab.


Sebenarnya bukan karena sikap pria itu padanya yang membuat ia menerima pinangan Za, tentu saja jika karena hal itu Zi akan dengan serta merta menolaknya tanpa perlu pikir panjang.


Tapi sikap baiknya yang tak diketahui banyak orang, hingga perubahan-perubahan yang terjadi pada pria itu yang membuat ia yakin bahwa Za sebenarnya adalah pria yang baik, tak seperti yang terlihat selama di kampusnya dulu.


*****


“Waaaahhhh bagus Kak, besar sekali” Ucap Zi sedikit keras

__ADS_1


“Sssttt jangan keras-keras malu, kamu suka?” Zi mengangguk mantap


“Sekarang kita mau main apa dulu?”


“Pokokny Zi mau semuanya, SEMUANYAAA!” gadis itu berteriak sambil memutar tubuhnya, sungguh lucu sekali.


“Ya sudah berurut dari depan saja ya” mata Zi kembali berbinar. Mereka mulai mencoba beberapa wahana yang masih di level ringan, hingga sampai di satu wahana


“Kak itu yang rajawali* sepertinya seru”


Za seolah tersambar petir, dia pernah menaiki wahana itu bersama teman-temannya, dan alhasil perutnya meronta dan akhirnya jackpot, tak kuat menahan mual yang terus mendesak.


“Adik manis, mending kita main yang lain dulu saja ya, istana boneka saja dulu deh, tuh di sana tuh”


“Kenapa jadi adik sih?” Zi tampak merengut


“Habisnya kamu manggil aku Kak Kak melulu, lama-lama orang-orang benar menyangka kita adik kakak lagi”


“Sudah yang ini dulu saja ya, kan biar berurut nanti baru istana boneka ya” Zi langsung menarik tangan suaminya tanpa ampun.


Za yang tak mungkin mengakui kalau dia tak sanggup, hanya mengikuti langkah istrinya itu, daripada harga dirinya hancur dalam sekejap


Saat mereka turun, Zi yang tak menyadari kondisi suaminya, sudah berjalan menuju istana boneka sesuai janjinya tadi. Za yang dari tadi berdiam diri membuat Zi heran, tapi masih terus berlanjut memasuki wahana itu


“Kak, kok Zi malah jadi mengantuk ya hehe” Za yang masih tak menggubris, hanya tersenyum terpaksa. Dia masih menahan gejolak perutnya yang semakin membabi buta.


Dan saat mereka keluar dari wahana itu, Za segera berlari mencari tempat yang bisa menuntaskan hajat perutnya itu.


Zi yang nampak terkejut pun ikut berlari mengikuti Za, yang langsung diusir secara harus oleh Za, agar dia sedikit menjauh, takut gadis itu menjadi jijik karena melihat muntahannya.


“Kak Za kenapa? Sakit? Zi carikan obat dulu ya?” Gadis itu berlari meninggalkan Za dengan perasaan sedikit khawatir, kemudian kembali dengan tergesa-gesa.


Dia melihat pria itu sudah duduk dengan wajah yang sudah tak terlalu pucat


“Kak maaf Zi tak menemukan tempat medisnya, Zi bingung, tempatnya besar sekali, ada penunjuk arah tapi Zi malah berputar-putar tak jelas. Maaf Zi hanya membawa ini”

__ADS_1


Zi menyerahkan segelas teh manis hangat, dan air mineral.


“Maaf ya Kak, pasti gara-gara permainan tadi” Zi tertunduk karena merasa bersalah. Sekarang ia tahu salah satu kelemahan suaminya, meskipun bukan hal penting juga. Za mengusap-usap kepala gadis itu sambil tersenyum


“Sekarang lebih baik Kak Za saja ya yang pilih permainannya, Zi akan menurut kemanapun Kak Za pergi, atau kita mau langsung pulang saja?” Zi masih merasa bersalah, ia tak mau sampai suaminya terlihat tersiksa seperti tadi, sungguh malang nasibmu suami meladeni istri yang sangat bersemangat bermain.


“Kita makan dulu saja ya” Ajak Za sambil menggenggam tangan gadis itu.


Karena kebersamaan mereka selama ini yang sudah memiliki banyak kemajuan, mereka sudah tak pernah memikirkan apakah nanti mereka akan bertemu dangan orang mereka kenal atau tidak.


Yang jelas hari ini mereka sedang sangat bahagia menikmati harinya.


“Sepertinya aku sedang ingin makan-makanan berkuah dan pedas, aku makan mie instan saja ya” Usul Za


“Jangan Kak, itu kurang bagus, apalagi tadi Kak Za baru muntah kasihan perutnya kalau dikasih mie” Zi mulai mengedarkan pandangannya. “Kalau mau berkuah itu ada soto dengan bakso, Kak Za mau apa?”


“Bakso saja ya” Pinta Za


“Tapi tak pakai mie ya, pakai bihun saja” Za bahagia sekali mendapatkan perhatian dari istrinya itu. Dia pun mengangguk setuju.


Setelah selesai makan dan sholat Dzuhur, mereka kembali mengitari arena permainan itu. Sesuai perjanjian awal sekarang Za yang menentukan wahananya, tangan mereka kembali saling menggenggam, benar-benar sudah tak perduli apapun.


Tak terasa waktu sudah beranjak malam, mereka hampir mengitari semua wahana kecuali tornado, karena khawatir perut Za akan kembali berontak, dan baru akan menaiki bianglala saat ini, setelah mereka menunaikan sholat maghrib.


Saat bianglala itu beranjak naik, Zi melihat pemandangan itu


“Masya Allah kak, indah sekali lihat lampu-lampu itu. Tapi Zi tak berani menatap lama-lama kebawah pusing” Za yang memandang wajah istrinya yang semakin cantik saat terlihat bahagia, memutuskan untuk berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Zi.


*


*


*


Wahana rajawali, wahana yang terdiri dari 4 lingkaran, dengan permainan posisi kursi naik turun diputar ke kanan ke kiri. Dijamin pusing haha

__ADS_1


Istana boneka wahana yang lebih cocok untuk anak-anak karena mengenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan menggunakan boneka-boneka berpakaian adat.


Bianglala, wahana yang berbentuk seperti kincir lebih indah saat dinaiki malam hari karena lampu-lampu kota akan terlihat indah di pelupuk mata.


__ADS_2