
“Ayah mau ajak mantu Ibu menangkap belut? Kasihan dong Yah, masa anak cakep begitu nanti dibiarkan belepotan lumpur”
“Hm.. Ibu, dulu saja Ayah waktu masih cakep-cakepnya tak pernah tuh Ibu bilang begitu, tak ada kasihan-kasihannya sama sekali. Malah bilangnya bawa belut yang banyak ya Yah” Ayah berbicara dengan bangganya
Zi dan Za mendengar obrolan kedua orangtuanya inipun tertawa. Ibu pun hanya terkekeh
“Ayah siap-siap ya Yah bakalan punya saingan nih” celetuk Zi
“Nak Za, ayo tambah lagi Ibu menambahkan lagi nasi dan lauk di piring Za”
“Tuh kan benar Yah, Zi saja lewat gara-gara menantu kesayangan”
Semuanya tertawa mendengar ocehan putrinya itu.
Malam ini Alhamdulillah Zi secara perlahan sudah menunjukkan keceriaannya kembali, setelah tragedi hari kemarin yang telah menguras emosi dan perasaannya.
Za membantu istrinya membawa beberapa barang dari rumah
“Tak usah Pak, biar Zi sendiri saja”
“Mau jatuh lagi?” Zi pun merengut tak berani melawan pria yang telah menjadi suaminya kini
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, dan memeluk mereka erat. Zi pun masuk terlebih dulu ke dalam mobil. Za terlihat masih sedikit berbincang dengan Ayah
“Kalau ada masalah dengan orangtua mu beritahu Ayah ya Nak” Ucap Pak Rizal sambil menepuk bahu menantunya
Merekapun pergi meninggalkan kampung yang akan selalu dirindukan itu. Setelah satu jam perjalanan, karena bosan dengan suasana sepi di mobil itu, menyalakan radio atau lagu sudah.
Zi akhirnya memberanikan diri membuka percakapan
“Pak Za lebih baik kita tetap tinggal terpisah ya, teman-teman kantor kan belum ada yang tahu juga, Zi tak ingin nanti timbul fitnah”
__ADS_1
Sebenarnya Za ingin mengatakan sesuatu, cukup mudah baginya untuk sekedar menyampaikan pengumuman pernikahan dirinya dengan gadis itu, tapi ia menahan diri karena mempertimbangkan perasaan gadis di sampingnya kini.
Mungkin dia perlu waktu fikirnya, ditambah lagi kedua orang tua Za yang memang belum bertemu dengan gadis itu.
*****
Pasangan suami istri itu pun kembali pada rutinitasnya. Za kembali menjadi CEO dengan beberapa pekerjaan yang sedikit tertunda karena cutinya yang mendadak.
Sedangkan Zi kembali menjadi Ketua Tim Drafter yang menerima laporan dari partner kerjanya saat ini.
Pukul sepuluh tepat telepon di meja Zi berdering, ternyata Boss nya yang memanggil. Zi sempat heran, karena rasanya tak ada yang perlu dilaporkan hari ini.
Tahukan anda panggilan itu untuk apa?
Setelah Zi sampai di ruangan CEO itu, dia baru tahu tujuan pria tadi memanggilnya, Ternyata hanya untuk dibuatkan kopi.
Oh jadi sekarang Anda mulai berani sengaja meneleponku Ya Tuan hanya untuk sekedar membuatkan kopi, apakah karena sekarang Anda sudah menjadi seorang suami, jadi dengan seenaknya menyuruhku yang berstatus sebagai karyawan disini.
Ahirnya Zi memanggil cleaning service, mengajarinya takaran yang Zi gunakan, lalu memintanya mengantar ke meja CEO.
Za yang tampak heran ketika yang mengantar adalah petugas cleaning service pun bertanya, dan dijawab dengan "Nona Zi yang menitipkan dan menyuruh saya mengantarkan, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
Keesokan harinya, Za kembali meminta gadis itu membuatkan kopi, alasannya karena petugas cleaning service sedang sibuk dan Silvi sedang tak di tempat.
Zi yang tak bisa menolak pun akhirnya beranjak naik satu lantai, dimana CEO nya itu berada.
Saat Zi akan menyerahkan kopi, terlihat Boss nya itu sedang duduk di sofa dan berbicara dengan klien wanita yang terlihat masih muda dan berpakaian minim
Apakah semua klien wanita Pak Za berpakaian seperti itu? Sungguh mengerikan
Saat akan meninggalkan ruangannya, terlihat wanita itu seperti sengaja menggeser duduknya agar semakin dekat dengan Boss nya itu. Zi berdehem
__ADS_1
“Maaf Pak kopinya saya simpan di meja”
Tak terdengar jawaban dari pria itu. Zi memilih untuk segera beranjak, daripada emosinya terpancing, karena tak dihiraukan sama sekali.
Saat itu memang terlihat pria muda itu sedang mengerutkan keningnya, seolah berfikir keras, sedangkan wanita tadi terlihat ikut membaca berkas tapi tak lama malah menatap wajah Za lekat.
Pura-pura tak mendengar, benar-benar tak terdengar atau sama sekali tak mau dengar. Bersabarlah Zi ini belum seberapa. Mungkin dia benar-benar sedang serius sampai tak mendengar ucapan mu, pria kan dominan bukan mahluk multitasking
Jam kerja pun usai, Zi memilih untuk segera pulang ke kosannya karena badannya masih terasa letih efek dari perjalanan kemarin.
Saat itu tiba-tiba dia menginginkan makan mie instan tapi stok di kamarnya habis. Zi akhirnya memutuskan untuk pergi ke supermarket yang tak jauh dari kosannya.
Saat kembali, betapa terkejutnya dia, karena laptopnya kembali raib. Laptop yang ia beli dari uang hadiah saat bertanding bersama Leo dulu di Supermarket.
Dia lupa tak menutup jendelanya, karena berfikir tak perlu waktu lama untuk menuju supermarket kecil di depan gang, toh tak pernah ada kasus pencurian juga sebelumnya.
Zi pun melaporkan hal tersebut pada pemilik kosannya, ternyata tak hanya Zi yang kehilangan barangnya, tapi 2 kamar lainnya pun menjadi korban, hanya berbeda jenis barang yang diambilnya saja.
Saat Zi dikejar deadline laporan project, dia akhirnya memutuskan meminta izin atasannya, meminjam laptop kantor untuk dibawa pulang, setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang terjadi di kamar kos nya tempo hari.
*****
Seperti biasa, kebiasaan pria itu meminta Zi membuatkan kopi masih tak berhenti, selalu dengan alasan yang sama, petugas cleaning service yang sedang sibuk dan Silvi yang sedang tak berada di tempat.
Hari itu kembali Zi melihat Boss nya sedang berbicara dengan klien wanita yang berbeda, kali ini pakaiannya panjang, tapiiii rok nya terbelah di bagian samping hingga menampakkan paha mulusnya, baju yang digunakan pun kemeja panjang, tapi juga extra ketat sehingga tampaklah tonjolan yang terlihat jelas di bagian atas sana.
Jangan tanya apakah pakaian dalamnya tampak atau tidak. Wanita itu seperti dengan sengaja melepas jas blazer nya, karena pakaian dalamnya terlihat sangat kontras dengan kemeja yang ia gunakan.
Zi hanya ber istighfar dalam hati, sudah 2 kali ini dia melihat klien wanita Boss nya menggunakan pakaian yang tak bisa dikatakan sopan. Zi mungkin sedikit syok, karena selama di kampus tak ada yang berani menggunakan pakaian seperti itu, jika tak ingin berhadapan dengan dekan atau rektor di sana
Situasi hari ini berbeda dengan kemarin, bedanya kemarin dia tak tau jika Pria itu sedang menerima tamu, tapi kali ini dia tahu bahwa pria itu kembali sedang menerima tamu wanita muda yang menggoda iman, akhirnya gadis itu memiliki satu ide.
__ADS_1