Hanya Zi

Hanya Zi
Jangan Berani Menjauh


__ADS_3

Saat Zi turun dari kamar akan menuju ruang tengah, Za baru datang masuk ke pintu apartemennya, sambil mengucapkan salam. Zi menjawab salam suaminya sambil mencium tangan pria itu takzim.


Za masih menatap istrinya, hari itu Zi memutuskan untuk mulai membuka hijabnya tanpa malu-malu di depan suaminya.


“Jelek ya?”


“Sangat cantik sayang” Za mengelus pipi istrinya lembut


“Kenapa sekarang sering sekali memanggilku sayang? Jangan-jangan saat Zi tenggelam kemarin Kak Za juga benar-benar memanggilku sayang. Itu bukan halusinasi?”


“Memangnya kamu dengar?”


“Dengar tapi tak yakin, Zi fikir telinga Zi saja yang kebanyakan terisi air jadi salah dengar begitu”


“Mana ada suara air berubah jadi terdengar bunyi sayang? ” Zi hanya nyengir kuda.


Malu karena ditatap terlalu lama oleh suaminya, Zi hendak beranjak menuju dapur, menyiapkan makanan untuk mereka makan malam.


Za yang sudah tak kuat menahan peluh di badannya, segera beranjak menuju kamar mandi untuk membuat rileks badannya di dalam bath tub.


Saat maghrib menjelang mereka melaksanakan sholat Maghrib berjama’ah, setelah selesai berdikir, Zi mendekati suaminya.


“Kak, maaf Zi ingin menyampaikan ini” Za mulai kaget, mengira gadisnya ini akan membahas kejadian tadi siang. Pria itu masih menatap Zi serius


“Kak, jika Kak Za tidak lelah, alangkah lebih baiknya setiap melaksanakan sholat fardhu dilakukan di mesjid Kak”


Ahh.. syukurlah, aku pikir dia akan membahas kejadian tadi siang


“Disini dekat dengan mesjid tidak Kak?”


“Ada, tapi lumayan sedikit jauh”


“Jika Kak Za mau, Zi akan menemani Kak Za menuju masjid, agar lebih semangat” Zi mengangkat satu tangannya memberi semangat


“Insya Alloh ya, aku usahakan sekuat tenaga, kamu boleh ikut jika tak lelah, tapi jangan dipaksakan ya, toh untukmu memang lebih baik sholat di rumah bukan?” Zi mengangguk


“Jika Alloh memberikan kita rizki untuk membelikan rumah, Zi boleh minta sesuatu kak?”


“Apa itu?”


“Kita cari rumah yang dekat dengan mesjid, tak perlu besar dan mewah yang terpenting nyaman dan terasa hangat” Za mengiyakan sambil mengecup puncak kepala istrinya

__ADS_1


"Zi tak mau suami Zi nanti jadi pria solihah"


"Loh kok pria Sholihah? "


"Iya pria yang rajin sholat, tapi malas sholat di mesjid jadi sama saja seperti wanita, bukan Sholih tapi Sholihah haha"


“Terima kasih ya, sudah mengingatkanku akan hal penting yang kadang aku lupakan”


Setelah selesai melipat sejadah dan mukena, mereka beranjak untuk makan di ruang tengah sambil menonton televisi.


Kali ini Za yang memiliki inisiatif untuk menyuapi istrinya dengan tangan langsung. Ya Za sudah lihai makan dengan menggunakan tangan seperti istrinya, tak lama Zi pun melakukan hal yang sama menyuapi suaminya sambil memberikan senyum manis.


Mereka makan, sambil sesekali tertawa melihat acara komedi di TV.


Setelah menyelesaikan makan malam dan mencuci piring kotor, Zi memilih berdiri di depan jendela besar itu, kembali menatap pemandangan di bawahnya.


“Kenapa Hm…, sedang memikirkan sesuatu?”Tanya Za yang saat ini ada di sampingnya, merengkuh pinggang ramping Zi. Zi hanya tersenyum sedikit dipaksakan


“Kak, Zi ingin keluar, tapi takut nanti pusing”


“Sini aku temani” Za menuntun tangan istrinya, menuju balkon di depan kaca besar tadi. Kali ini Zi memandang pemandangan indah di depannya langsung, keinginan yang sejak awal dia menginjakkan kaki di apartemennya ini, tapi selalu ia urungkan.


Bagian kanan dan kiri balkon itu ternyata sudah ditutup partisi tak permanen oleh suaminya, sehingga saat Zi keluar tanpa mengenakan hijab, aman tak akan terlihat oleh penghuni samping apartemennya.


Semakin lama benar saja Zi merasakan pusing, mengerjapkan matanya lalu mengedarkan pandangannya tak lagi ke bawah melainkan lurus, lalu melihat langit.


“Kak lihat, bintangnya indah” Zi menolehkan kepalanya ke kiri, sambil menunjuk bintang yang ia maksud


“Apa sayang?”


“Itu bintang yang itu indah kak” Zi kembali menoleh yang langsung dihadiahi kecupan di bibirnya.


“Kak Za pura-pura tak dengar?”


“Tak boleh?” Zi hanya tersenyum, masih tak bergeming dari posisinya, Za kembali mencium bibir gadis itu lama, semakin lama, hingga Zi membalikkan badannya dan berkata


“Kak Za tahu”


“Apa Hm..?” Ucap Za lembut


“Kejadian tadi siang, benar-benar baru membuat Zi sadar, sepertinya tak mudah untuk Zi berada di samping seorang pria sesempurna Kak Za” Za masih tak faham maksud pembicaraan gadis itu

__ADS_1


“Maksudmu?”


“Zi tak tahu, Zi bisa kuat bertahan atau tidak, jika banyak sekali gadis yang mengejar Kak Za seperti tadi. Baru satu saja, Kak Silvi yang dengan beraninya memeluk Kak Za sudah membuat lutut Zi lemas, perasaan Zi tak karuan, dan rasa takut yang teramat sangat. Takut jika Kak Za tak bisa menjaga diri dari wanita-wanita di luar sana”


“Hei, mana Zi gadis kuat yang dulu sering melawan dan membantahku hm..” Za mengelus pipi gadis itu


“Kamu tak ada bandingannya dibanding wanita yang ada di luar sana, sama sekali tak ada. Yang ada di hatiku cuma gadis cantik menggemaskan ini, tak ada yang lain”


“Bukan itu Kak, Zi seperti tak siap jika harus melihat gadis-gadis itu mengejar Kak Za, Zi bingung harus bersikap seperti apa, bukan semata-mata karena Zi cemburu, tapi Zi takut suami Zi tak bisa menjaga jarak dengan yang bukan mahromnya, takut ia terjerumus ke dalam lubang dosa yang terkadang tak ia sadari” Zi mulai menunjukkan wajah sedihnya.


“Tetap jadi Zi yang kuat, jangan mundur karena aku tak akan melepaskan genggaman tangan ini. Aku minta maaf ya, untuk hal satu itu sepertinya aku memang masih harus banyak belajar"


"Saat bersalaman dengan klien-klienku, aku masih berjabat tangan seperti biasa dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang mungkin membuatmu merasa tak nyaman. Beri aku waktu ya, untuk merubahnya”


Zi memeluk pria itu erat. Hingga perintah dari suaminya kembali terdengar


“Jangan berani-berani menjauh dariku ya” Zi mengangguk sambil tersenyum manis


“Asal Kak Za tidak macam-macam” Sejak tadi pria itu sebenarnya sudah melihat gerakan bibir istrinya saat berbicara panjang lebar, mencurahkan isi hatinya. Terlihat menggemaskan, tapi situasi tadi tak memungkinkan untuk menjahili istrinya.


Tapi kali ini ia kembali tak bisa menahan diri melihat godaan di depan matanya.


“Sudah tak marah kan?”


“Zi tak marah”


“Cemburu?”


“Zi tak cemburu kak, tapi….” gadis itu menghentak-hentakan kakinya, belum selesai ia bicara Za kembali mendaratkan bibirnya lembut


“Kak Za kenapa suka sekali menciumku tiba-tiba siiiih”


“Tak boleh?” Zi memilih untuk segera meninggalkan balkon itu, saat gadis itu membuka handle pintu, Za dengan segera menggendong badan istrinya sebelum ia kembali protes


*


*


*


Untuk seorang pria, jika tak sedang udzur (sakit atau berhalangan) lebih utama melaksanakan sholat fardhu di masjid hukumnya Fardhu 'Ain berbeda dengan sholat sunnah.

__ADS_1


Jadi jangan merasa bangga jika suamimu menjadi imam sholat fardhu saat di rumah ya, minta ia untuk beranjak segera pergi ke mesjid agar istri pun mendapat nilai kebaikan darinya..


🤗🤗🤗💖💖💖


__ADS_2