
Instingnya mengatakan agar tangannya mulai bergerak, Za mulai membuka kancing baju Zi, setelah sebelumnya melepaskan pagutan bibirnya. Membuka sambil menatap wajah gadis yang sangat dicintainya itu.
"Kak Za, tutup mata!” Zi menaruh kedua tangannya di depan kedua mata Za
“Kenapa?”
“Zi malu kak” Saat ini baju bagian atas Zi hampir terbuka semua.
“Aku suamimu sayang, lupa?” setelah Za berhasil membuka baju atas Zi dia kembali mendaratkan ciumannya.
“Ini bukanya bagaimana?” Za menunjuk ke arah bra, Zi mengangkat tubuhnya sedikit, meminta Za membuka bagian belakangnya. Zi kembali menaruh kedua lengannya di depan mata Za.
“Sudah ya sayang, kita tak akan berdiskusi di saat seperti ini bukan?” Za kembali melancarkan aksinya. Disaat mereka sudah tak mengenakan sehelai benang pun, Zi meminta Za untuk menutupi badan mereka dengan selimut.
“Kak Za, Zi takuuuutt”
“Bismillaah.. baca do’a ya sayang”
“Sudah dari tadi Kak, Zi sudah baca berbagai macam do’a”
“Kenapa kamu menggemaskan sekali sih”
*****
Setelah mereka selesai melakukan ibadah itu
“Terimakasih banyak ya sayang..” Za mengecup puncak kepala istrinya sambil tertidur ditutupi selimut, karena mereka masih tak mengenakan apapun
“Untuk?”
“Kamu sudah menjaga dirimu untukku”
Za kembali mengecup puncak kepala istrinya yang saat ini sedang dipeluknya. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan gadis yang berharga ini.
“Kak, bagaimana jika Zi hamil?”
“Alhamdulillaah dong, itu kan rezeki”
“Tapi kan orang-orang belum tahu kalau kita sudah menikah”
“Kita rencanakan resepsi kita secepatnya ya”
“Tapi Mama Papa Kak Za?”
“Aku akan mengurusnya segera". Tatapan mata Za kembali berubah, kembali menatap istrinya lekat.
"Sekali lagi ya?”
“Apanya?”
__ADS_1
Za langsung meringsek masuk ke dalam selimut, mencari sesuatu yang mulai saat itu akan menjadi tempat kembar favoritnya
“Kak Za hentikaaaann!!!”
“Kenapa berteriak, aku tidak sedang memperkosamu bukan?” Zi hanya tersenyum, dan menerima ciuman bertubi-tubi di bibirnya
Kak Za, Kamu membuatku menjadi wanita paling bahagia malam ini.
Keesokan Harinya
Za menatap wajah gadis yang sedang tidur miring menghadapnya, berada di sampingnya membelai wajah itu lembut mengusap kepalanya sayang.
Terima kasih Ya Alloh, Engkau telah mempercayaiku memiliki gadis menakjubkan ini. Menjaganya sepanjang hayatku. Aku tak menduga, Engkau memberikanku kesempatan mendampinginya, wanita yang membuatku enggan untuk mendekat, karena merasa diri ini tak layak, sama sekali tak layak.
Zi mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan pria yang saat ini sedang di sampingnya, membelai lembut wajahnya.
“Kak Za sedang apa?” masih menatap suaminya
“Memandangi keajaiban”
“Sikapku kah yang ajaib?” Tanya Zi heran
“Semuanya sayang”
Kembali mendengar kata-kata manis itu, giliran Zi yang menatap pria nya penuh rasa takjub.
“Kenapa kamu menatapku?” masih membelai pipi gadis itu
"Tak boleh?”
“Ish begitu saja marah, kenapa?”
“Aku takut bermimpi Kak” Pria itu segera memeluk gadisnya, memastikan bahwa ia sungguh nyata berada di depan matanya. Kembali mencari bibir gadisnya, mengusapnya lagi.
“Kenapa bibir bawel yang selalu banyak bicara dan membantahku ini sangat menggemaskan hm…” Za kembali mencium gemas bibir istrinya
“Kak Za berhenti!!! Sudah mau subuh ini”
“Kan belum, masih lima belas menit lagi, aku menginginkannya lagi sayang” Za masih menciumi bibir istrinya lembut sambil tangannya bekerja rodi kesana kemari
“Kak Za.. Hhhhmmppp.. Kenapa Zi hmmmppp…. Seperti mainan baru Kak Za saja Hmmmppp..”
Zi berbicara di tengah-tengah ciuman yang membabi buta itu. Za seketika menghentikan pagutannya.
“Enak saja mainan, lebih dari itu sayang, kamu segalanya..”
Terserah Anda saja Tuan, sepertinya aku sudah mulai diabetes dan sering merasa lemas dengan sikap-sikap manis mu
Setelah menyelesaikan pertarungan ke tiga kalinya, Za pun menyerah karena sudah diancam dengan suara Adzan Subuh yang terdengar lebih merdu dari sebelumnya di telinga Zi, masih dengan posisi berpelukan Za kembali berkata
__ADS_1
“Terimakasih ya, kamu bersedia memberikanku kesempatan hari itu, lalu kenapa kamu bersedia menerima pria yang sering membuatmu marah dan jengkel”
“Kak, sudah masuk waktu subuh, Zi mandi duluan ya” Zi pergi seolah menghindari pertanyaan suaminya itu. Zi berlari masuk ke kamar mandi lalu terkejut
kenapa badanku merah-merah begini.
Zi keheranan
lalu dengan tergesa mengenakan handuk kimono nya dan berjalan keluar malu-malu.
“Kak Za punya obat allergy?”
“Ngga punya, untuk apa?”
“Badan Zi merah-merah semua Kak, sepertinya Zi allergy, tapi anehnya Zi tak merasakan gatal sama sekali” Za terkekeh
“Yang gatal itu aku Zi sayang, itu semua hadiah dariku tadi malam” Zi merengut, mulai menyadari sesuatu. Tadi malam suaminya itu benar-benar tak melewatkan satu inci pun dari tubuh Zi
“Kak Za….!!!” Za menutup telinganya, mendengar amarah gadis yang ia cintai itu.
*****
Pagi harinya, mereka berjalan beriringan keluar dari pintu apartemen. Za mulai berani menggenggam tangan gadis itu secara terang-terangan
“Lepas Kak, tak enak dilihat orang, Zi pamit duluan ya. Assalaamu’alaikum” Zi segera berlari meninggalkan pria itu, setelah sebelumnya mencium tangan suaminya.
Setelah sampai di kantor dengan mengenakan taxi online, ya semenjak hubungan mereka membaik Zi tak diizinkan suaminya menggunakan ojeg, takut jika driver dengan leluasa bermodus-modus ria dengan istrinya.
Meskipun ia tahu Zi pasti akan menyimpan tas nya di depan sebagi pemisah.
Zi hendak memasuki lift kantornya, tapi ia merasakan tatapan karyawan-karyawan lain mulai berubah. Tapi Zi berusaha untuk menepis prasangka buruknya itu.
Ternyata di Hartono Group mulai tersebar desas desus bahwa Zi gadis penggoda CEO nya. Tersebar beberapa foto saat Zi keluar dari lift saat di puncak, saat mereka berada di kolam renang sedang berpelukan, juga saat gadis itu membuatkan Za kopi tanpa mereka berdua sadari.
Tentu saja semua itu adalah ulah Silvi. Dia tak bisa menahan rasa amarah dan cemburunya, saat tahu seorang Za tergoda oleh wanita yang diangggap sok alim itu.
Bahkan hari itu dia bertindak sungguh berani, tak biasanya gadis itu menggunakan baju minim saat bekerja. Menggunakan rok mini, serta kemeja lengan pendek ketat tanpa blazer.
Beberapa karyawan di kantor, memandang gadis itu heran, karena sebelumnya ia tak pernah menggunakan pakaian yang terlihat kurang sopan itu.
Za yang sedikit heran dengan penampilannya hari itu, menatap Silvi sebentar lalu berkata
“Kau kenapa?” tapi tak dijawab apapun oleh Silvi
*****
Zi yang masih merasa ada yang janggal dengan tatapan karyawan di Lantai 14, akhirnya bertanya pada Suci yang masih menjadi anggota timnya.
Mata Zi terbelalak mendengar apa yang Suci sampaikan. Dia sudah menduga sepertinya ini ulah Silvi, dan mengingat kejadian di kolam renang tempo hari, sepertinya dia berniat kembali melakukan hal buruk padanya.
__ADS_1