Hanya Zi

Hanya Zi
Kotak "Harta Karun" Za


__ADS_3

“Bapak merasakan bahagia saat apa?”


“Saat melakukan hobi ku, saat targetku tercapai, saat aku mengganggu Bi Euis. Sekarang giliran saya bertanya, kamu pernah merasa bahagia saat melihat orang yang kamu cintai memilih orang lain?”


“Hah?” Zi tampak bengong kembali mencerna kata-kata pria itu dan mengulangnya“Merasa bahagia saat orang yang kamu cintai bersama orang lain? Sepertinya tak pernah”


Benar-benar wanita loading. Ya karena memang aku yang mengalaminya


“Saya tak pernah berani mencintai seseorang Pak, karena saya tak cukup percaya diri untuk melakukannya, bahkan saat bersama Kak Riz…..” Zi menghentikan ucapannya, takut jika pria itu tak berkenan membahasnya.


“Dunia kita berbeda Pak, daripada Zi terlarut dalam mimpi ini terlalu lama, lebih baik Zi bangun saat ini juga kan Pak” Za terlihat beranjak mendekati sofa milik Zi.


Zi yang sudah membaca gelagat yang tak beres akan keusilan atasannya ini memilih untuk berdiri mengelilingi sofa di ruangan itu


“Bapak mau apa?” Seperti bocah yang sedang main tangkap-tangkapan


“Kamu pikir aku akan melakukan apa hah?”


Za berdiri di depan sofa yang tadi Zi duduki, sedangkan gadis itu saat ini berada di belakang sofa yang tadi Za duduki, bertukar posisi.


“Kenapa jadi seperti petak umpet begini sih?” Za mulai gemas


“Jawab dulu Bapak kenapa berdiri lalu berjalan ke sofa ku?”


“Untuk bicara, memangnya untuk apalagi?” Zi menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan tak percaya dengan yang pria itu katakan.


Saat Za kembali duduk, Zi segera berlari ke arah pintu keluar setelah sebuah suara kembali terdengar


“Tunggu di basement, jangan membantah”


Ternyata pria itu lebih dulu sampai di basement sudah menunggunya di dalam mobil. Zi duduk di samping pria itu, tak lama Za melemparkan sebuah selimut tipis yang selalu ia bawa di mobilnya


“Pakai ini, daripada kamu nanti kena dashboard lagi”

__ADS_1


“Astaghfirullohal’adzim, Bapak ini aneh, Bapak yang menyuruh semua karyawan mengikuti pelatihan Attitude dan Soft Skill *lalu table manner*, sedangkan Bapak sendiri memberikan barang saja dilempar seenaknya, sungguuuhhh Anda ini ajaib Tuan” Zi kembali menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti


“Memangnya kamu pikir, kamu berbicara denganku sesuai attitude hah?” Zi kembali melongo, bingung harus mengatakan apa


Benar juga ya hehe..


Setelah mobil mereka hampir mendekati pos security, Zi dengan sengaja membuka selimutnya, tiba-tiba dia berubah pikiran


“Assalaamu’alaikum Pak Zul” Pak Zul yang tampak kaget karena melihat gadis ramah itu di mobil Bos besar nya


“Loh Mbak Zi kenapa tumben sekali bisa satu mobil dengan Pak Za”


“Ya Pak terpaksa, tadi saya banyak sekali diberikan tugas, sampai jam sepuluh begini, Pak Za merasa bersalah jadinya saya DIPAKSA ikut pulang bersama beliau Pak” Zi tersenyum penuh arti pada security kantornya, dengan menekankan kata-kata dipaksa agar bisa didengar jelas pria di sampingnya.


Pak Zul hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman karena sebelum ia menjawab mobil itu sudah melesat meninggalkan kantornya. Daripada gadis itu bicara aneh-aneh lagi pikir Za


*****


“Pa gimana masalah anak kita, kenapa Papa diam saja sih saat Za membawa gadis itu ke rumah ini” Bu Lidya memulai pembicaraan


“Ya Papa bujuk Za lah, supaya berpisah dengan gadis itu”


“Gadis itu punya nama Ma, kenapa bicaranya selalu gadis itu gadis itu”


“Habisnya Mama kesal, Papa setiap kali Mama ajak bicara masalah ini selalu saja tak merespon, memangnya Papa mau punya menantu seperti dia?”


“Lah memang apa salahnya? Zi bukan koruptor bukan pencuri dia gadis baik-baik


“Papa tahu darimana dia gadis baik-baik, memangnya Papa tak pernah berpikir kalau gadis itu berusaha secara perlahan merebut kekayaan Za lalu beralih jadi merebut kekayaan Papa hah?” Bu Lidya kembali emosi


“Mama itu berlebihan, tidak semua mahluk di muka bumi ini melulu berorientasi pada materi Ma. Lagipula Mama sendiri kan yang bilang, bahwa saat Mama dan Za bicara di ruang kerja Papa, Za mengakui memang mencintai gadis itu bukan, pernikahan mereka bukan karena paksaan siapapun, jadi kenapa Mama bingung”


“Ihhh.. Mama benar-benar tak faham ya dengan pola pikir Papa, memangnya Papa nanti tidak malu jika ada relasi bisnis Papa mempertanyakan asal usul besan kita Pa?”

__ADS_1


“Ya jawab saja, apa susahnya”


“Ihhhhhh…” Bu Lidya tampak mengepalkan tangannya kesal, lalu meninggalkan pria yang sudah selama 30 Tahun mendampinginya itu.


Sepulang menjalani pengobatan di London kondisi Pa Hartono sudah semakin membaik sehingga ia sudah tak harus menjalani pengobatan di sana, cukup melakukan check up rutin di rumah sakit di Indonesia.


Sedangkan Ayesha adik Za masih melanjutkan sekolah di sana, baru menginjak semester 2 dengan mengambil sekolah Bisnis sesuai Passionnya.


Bu Lidya tampak memasuki kamar anak prianya di Lantai dua, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata untuk menyingkirkan menantu yang sama sekali tak seperti bayangannya.


Tak ada yang aneh dengan lemari bajunya, masih tertata rapih seperti biasanya. Laci dan meja nakas ia buka satu persatu, nihil sama sekali tak menemukan apapun.


Sedikit penyesalan menyusup hatinya, banyak waktu yang ia sia-siakan tanpa mendampingi anak pria satu-satunya itu. Tak pernah sekalipun mendengarkan ceritanya, keluh kesahnya bahkan tau anaknya pernah jatuh cinta pada seorang gadis pun tak pernah, kecuali hari itu saat ia membawa istrinya ke rumah megah itu.


Lidya kembali menatap semua sudut di kamar ber cat abu muda itu, matanya menatap lemari pakaian paling kanan yang tadi belum ia buka. Ia menatap dari atas lemari hingga ke bawah, terdapat satu buah box sedikit berdebu di sana.


Sepertinya Za sengaja melarang pegawai di rumah ini untuk menyentuh lemari khusus itu.


Bu Lidya sampai dengan sengaja duduk di lantai membongkar semua isi box berdebu itu, berharap ada sesuatu yang berharga yang ia temukan di sana.


Dia tahu satu hal, bahwa anaknya tak akan mau dipaksa menikahi seorang gadis yang sama sekali tak ia sukai, apapun alasannya, meskipun ia harus menggadaikan kekayaan yang Za miliki saat ini sekalipun, atau bahkan dengan terpaksa harus meninggalkan jabatan tertinggi di kantornya saat ini, tentu akan ia tinggalkan dengan suka cita, karena sejak awal ia memang tak menginginkannya.


Jadi percuma saja berdebat dengannya untuk mengenalkan gadis berlusin-lusin jika hasilnya tetap akan DITOLAK.


Setelah perjuangan selama 15 menit, akhirnya Lidya menemukan sesuatu yang membuat ia tersenyum menang. “Aku harus menemukan gadis ini”


Disaat Lidya sibuk dengan kotak harta karun itu, Pa Hartono pergi menuju ruang kerjanya sambil memikirkan sesuatu


*


*


*

__ADS_1


Pelatihan Attitude dan Soft Skill mempelajari bagaimana cara bersikap yang baik dan sopan, serta mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang sangat diperlukan di dunia kerja.


Table manner adalah aturan atau prinsip yang mengatur bagaimana proses dan tatacara makan dalam jamuan yang resmi


__ADS_2