Hanya Zi

Hanya Zi
Bi Euis yang Berjasa Besar


__ADS_3

"Tadi Zi kepleset Pak, uhukk… uhukkk…” Za kembali memeluk gadis itu, tak siap jika tadi ia benar-benar akan kehilangannya, jika tadi ia terlambat datang sedikit saja.


Sepertinya tadi aku mendengar seseorang memanggilku sayang. Apakah karena aku terlalu lama di dalam air, sehingga bunyi air di telingaku seperti berbunyi sayang, halusinasi macam apa ini


“Kita pulang ya.. nanti kamu sakit, apa perlu kita ke rumah sakit?” Zi menggeleng, lebih memilih untuk segera kembali ke apartemennya.


Za memberikan selimut tipis pada istrinya agar ia tak kedinginan, tentu saja kali ini tak ia lempar bahkan ia menyelimutinya langsung. Jika dilempar bisa dijamin gadis ini akan pergi meninggalkannya tanpa tedeng aling aling.


Saat mereka telah sampai di apartemen


“Kamu bisa ganti baju sendiri?” Zi yang masih terlihat lemas mengangguk


“Pak Za tak apa-apa menunggu sebentar di luar? Sepertinya Zi akan mengganti baju di kamar saja, tak berani ke kamar mandi” Za pun mengangguk, dan memilih untuk membuat minuman hangat untuk mereka.


Setelah selesai giliran Za yang berganti baju, membilas tubuhnya di kamar mandi.


Mereka memilih duduk di atas karpet meminum minuman hangat yang tadi Za buat sambil menonton TV, terlihat Zi masih sedikit menggigil, padahal AC sudah dimatikan sejak tadi.


Za beranjak mengambil selimut yang ada di kamar, lalu memakaikannya di punggung Zi.


Zi yang tanpa sengaja menyentuh lengan suaminya saat akan mengambil remote, membagi selimut itu berdua


“Bapak pakai juga ya, sepertinya Bapak kedinginan” Za pun tersenyum. Saat ini mereka duduk berdekatan berdampingan dibawah satu selimut


“Kamu masih belum menemukan panggilan untuk suamimu?” Zi menggeleng sambil tersenyum. Za merengkuh bahu gadis itu, membiarkan kepalanya bersandar di bahunya lalu berucap


“Lain kali lebih hati-hati ya, kalau tak bisa berenang jangan dekat-dekat air” Zi pun mengangguk, dia berniat menyembunyikan kejadian tadi di hotel pada suaminya ini.


Berharap Silvi tak akan melakukan hal buruk lagi padanya.


*****


Hari itu Jumat sore, sepasang suami istri itu pulang ke apartemen tepat waktu hanya berselang beberapa menit. Zi sudah berniat akan menyiapkan makan malam spesial untuk suaminya itu.


Zi pergi ke sebuah supermarket yang tak jauh dari sana untuk membeli ikan segar. Tapi dia tak menemukan ikan filet yang ia cari, hingga akhirnya dia memilih ikan utuh yang akan ia olah sendiri.


“Kak Za mau makan apa hari ini?”

__ADS_1


Ya panggilan Zi berubah dari Bapak menjadi Kakak haha, sungguh kemunduran bukan, seperti mundur ke masa kuliah mereka.


“Hm.. memangnya kamu mau buat apa?”


“Awalnya Zi mau membuat ikan filet asam manis dengan cah kangkung dan sambal, tapi ternyata ikan filetnya habis jadi Zi membeli ikan utuh saja.”


“Ya sudah pakai ikan itu saja untuk filetnya”


“Tapi Zi ngga bisa Kak, Filet ikan”


“Sini, aku ajarkan?”


“Hah, memangnya Kakak bisa?” tadi Zi sempat melihat video tutorial untuk memfilet ikan, tapi jarinya serasa linu sendiri karena takut melihat tajamnya pisau yang nyaris mengenai jari chef-nya.


“Kak hati-hati Kak, Zi ngeri” Za mulai mempraktekan caranya, seperti yang diajarkan Bi Euis, kemudian meminta Zi untuk mencoba melakukannya.


Zi melakukannya dengan takut-takut, dan itu tentu saja membuat suaminya khawatir. Akhirnya Za memilih untuk membimbing Zi dari belakang, dia mengeratkan tubuhnya, sedangkan tangannya mulai membimbing tangan Zi perlahan. Degup jantung Zi mulai tak karuan


Bisa-bisa aku serangan jantung ini, Kak Za semakin sering bersikap manis padaku


Za yang tak ingin melewatkan kesempatan itu, mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu, dia menciumnya lembut dan lebih lama dari tragedi di mobil waktu itu.


Za dengan segera mencuci tangannya, yang hanya diikuti tatapan bingung istrinya.


Za menggendong tubuh Zi ke atas meja makan, menatap gadis yang saat ini ada di depannya dengan wajah merah menggemaskan.


Diusapnya kepala berhijab itu dengan lembut, tangannya lalu turun ke pipi, tak lama berpindah mengusap bibir Zi.


Za mengangkat dagu Zi dan mendekatkan bibirnya di bibir gadis itu, Zi mulai menahan nafasnya sambil memejamkan mata, seolah tahu apa yang akan dilakukan pria di depannya kini.


Za mencium bibir istrinya itu dalam, dan menuntun Zi untuk mengalungkan tangannya di leher Za. Ciuman Za semakin dalam sampai tak terasa bibir mereka kebas sendiri.


Ya Allah perasaan apa ini, kenapa aku bahagia sekali diperlakukan seperti ini oleh suamiku. Zi


Kenapa bibir gadis ini terasa manis, apakah setiap bibir akan terasa sama? Sepertinya ini memang pengalaman pertama kami, karena kami sama-sama kehabisan nafas. Tapi gadis ini kenapa semakin menggemaskan dengan wajah memerah seperti itu, membuatku semakin tak terkendali. Za


“Maaf.. sakit ya?” Zi hanya menggeleng sambil tertunduk malu, Za kemudian mengangkat dagu Zi dan memberikan kecupan di dahinya.

__ADS_1


“Terimakasih ya” Za kemudian memeluk istrinya itu erat yang tentu saja mendapatkan balasan dari Zi.


“Ya ampun Kak, baju Kak Za jadi bau amis kan”


“Tak apa-apa gampang tinggal dicuci saja kan, toh aku mendapatkan hadiah istimewa malam ini”


Zi lalu mencubit pinggang suaminya


“Aww sakit Ziiiii..” pekik Za berlebihan


“Maaf sengaja, masa melawan 4 orang saja bisa, dicubit dikit istrinya bilang Awww”


Za langsung mencubit hidung istrinya itu. Zi mengusap-ngusap hidungnya yang mulai memerah seperti pipinya


“Besok mau jalan-jalan?” yang langsung dijawab


“MAUUUUUUU MAU MAU”


“Biasa saja dong, dasar bocah” Zi hanya nyengir kuda sambil turun dari meja makan beranjak meninggalkan suaminya itu menuju dapur, menyelesaikan rencana awal memasak, yang sudah sangat mundur sekali waktunya.


Bi Euis, sepertinya aku akan memberikanmu bonus besar, karena berkat ilmu filet ikanmu, aku bisa mendapatkan bibir manis istriku


*****


Weekend pun tiba. Za mengajak istrinya untuk pergi berjalan-jalan hari itu, menuju area bermain outdoor terbesar di Jakarta. Zi yang semangat empat lima, sudah menyiapkan untuk bekal mereka hari itu, minuman dingin, buah-buahan, cemilan.


Awalnya Za melarang istrinya melakukan itu semua, biar beli di sana saja katanya. Tapi karena Zi yang memang terlalu bersemangat dia keukeuh untuk membawa bekal, meskipun bukan makanan berat.


Senyum tak henti-hentinya menyungging dari gadis itu. Selama perjalanan, dia bertanya banyak hal pada suaminya tentang tempat wisata yang ada di Jakarta.


“Memangnya selama kamu di Jakarta, belum pernah jalan-jalan?”


“Mana sempat Kak, kalau Zi meleng sedikit saja, bisa-bisa beasiswa Zi dicabut. Bisa menangis berdarah-darah Zi” Ujar Zi sambil mengerucutkan bibirnya


“Jangankan Jakarta, aku akan membawa mu ke negara manapun yang kamu mau”


“Mekkah?”

__ADS_1


__ADS_2