
*****
Bulan Ramadhan pun hadir, masuk minggu pertama donasi sudah terkumpul diluar target, bahkan melibatkan sponsor-sponsor, maklum ini bulan berkah setiap orang rasanya berlomba-lomba menebar kebaikan.
Acara nanti pun melibatkan mahasiswa yang masih aktif dengan mengkonfirmasi kehadirannya maksimal H-7 untuk meminimalisir kurangnya jumlah konsumsi yang disediakan. Siang itu Zi dipanggil salah satu dosennya.
Tok tok tok
“Assalaamu’alaikum” Zi memberanikan diri mengetuk pintu
“Ya silahkan masuk” terdengar sahutan dari dalam
“Eh Zi anak kesayangan ibu, sini Zi masuk” perintah Ibu Laila
“Ya ampun Bu jangan begitu ah, Zi jadi tak enak” Jawab Zi malu-malu
“Lah memang iya Zi anak kesayangan Ibu, sudah cantik, cerdas, Sholihah, baik lagi gimana Ibu tidak sayang coba?, benar tidak Bu susi?” Tanya Bu Laila pada teman satu profesinya yang hanya dijawab senyuman dan anggukan kepala.
“Aamiin Bu, ini untung hidung Zi tak lari kemana-mana Bu”
“Begini Zi sebenarnya Ibu hanya mau minta tolong titip ini, buat acara donasi nanti, kebetulan ada sedikit titipan juga dari anak Ibu”
“Masya Allah Bu ini banyak sekali” Padahal Zi belum membuka amplopnya
“Kamu tahu darimana itu banyak, dibuka saja belum?”
“Ini loh Bu amplopnya saja sudah tebal begini, pasti isinya banyak”
“Diisi dua ribuan segepok juga keliatan banyak Zi”
Zi hanya terkekeh mendengar candaan dosen favoritnya satu ini.
“Zi kapan mau main ke rumah Ibu, kemarin katanya janji mau main ke rumah, nanti mau Ibu kenalin sama anak Ibu” Ujar Bu Laila terang-terangan
“Aduh Bu Laila mau dijadikan calon menantu ya?” Tanya Bu Susi
“Bu Susi tahu saja, ini juga kalau Zi nya mau, kalau anak saya sih dijamin mau sama Zi”
Zi hanya tersenyum kikuk
“Ya ampun Bu, jangan goda Zi terus ah. Iya kalau masalah main ke rumah Ibu nanti Zi kabari Ibu ya”
__ADS_1
Akhirnya Zi izin berpamitan daripada berlama-lama di sana, membuat muka Zi semakin merah, karena tak henti-hentinya membahas perjodohan.
*****
Akhirnya untuk memenuhi janji pada Bu Laila, dan berhubung kegiatan di kampus sedang sedikit longgar, dua hari setelah obrolan mereka Zi memberanikan diri untuk bersilaturahim ke rumah Bu Laila.
Zi menghampiri Bapak Security di pintu gerbang rumah megah itu,
“Selamat sore Pa, Maaf apa betul ini rumah Bu Laila?”
“Iya Non betul, Ibu sudah menunggu silahkan masuk Non” Bapak itu mempersilahkan masuk sambil tersenyum sopan
“Assalaamu’alaikum” Zi mengetuk pintu sambil menatap taman indah di hadapannya
Masya Allah rumah Bu Laila indah sekali, pantas saja tiap Ibu mengajar moodnya selalu bahagia secara setiap hari pemandangannya seindah ini
“Wa’alaikumussalaam” Seorang pria membuka pintu melihat wanita dengan hijab lebar yang masih membelakanginya sedang asyik menatap taman kesayangan Ibunya
“Permisi” Sapa pria itu kedua kalinya
“Astaghfirulloh, aduh maaf Kak saya tadi sedang tak fokus, Ibu ada Kak?”
Saat ini, pria itu yang mulai hilang kesadaran menatap pemandangan indah di depannya
“Ya ampun Zi, akhirnya datang juga, gimana susah cari alamatnya?” Sapa Bu Laila
“Alhamdulillah tidak susah ko Bu” Zi mencium tangan Bu Laila sambil tersenyum.
“Bu, sekarang Zi tahu kenapa setiap Ibu mengajar selalu dengan wajah sumringah, bahagia, berbunga-bunga, ternyata Ibu suka merawat bunga-bunga cantik itu ya Bu?”
Bu Laila tergelak
“Ah kamu bisa saja Zi, ya sekedar hobi, lagipula Ibu tak mengerjakan semua sendiri, ada yang bantu kalau tidak yang ada Ibu bisa merawat taman tapi tak bisa mengajar”
Bu Laila mengajak Zi berjalan ke taman belakang, berdiskusi masalah arsitektur, membahas tanaman, membahas suaminya yang sibuk bekerja dan tak terlewatkan membahas desain rumah Bu Laila yang menawan di mata Zi.
Sampai tak terasa waktu maghrib pun sudah tiba. Bu Laila mengajak Zi berbuka puasa kemudian dilanjutkan sholat Maghrib berjama’ah yang diimami oleh Zi, tentu saja ini atas permintaan Bu Laila.
Sedangkan Aldi memilih berbuka puasa di mesjid bersama kawan-kawan mainnya sejak kecil.
“Yuk sini kita langsung makan saja yuk”Ajak Bu Laila semangat
__ADS_1
“Ya ampun Bu, Zi jadi merepotkan begini”
“Ya tidak apa-apa Zi, Ibu senang kamu datang. Abang ayo kita makan bersama. Zi kenalkan ini anak pertama Ibu namanya Aldi”
Aldi mencium tangan Bu Laila saat baru pulang dari mesjid
Zi menangkupkan kedua tangannya, sedangkan Aldi hanya tersenyum sambil duduk untuk menemani mereka makan.
“Abang, Zi ini anak kesayangan Ibu di kampus loh, anaknya pintar, cantik, sholihah, Abang bisa lihat sendiri kan?”
Aduh ya ampun Bu Laila belum puas kemarin sudah bikin Zi jadi kepiting rebus, mana sekarang dipuji-dipuji di depan anaknya lagi.
Zi mulai mati kutu, yang biasanya siap berderet dengan segala argumentasi, di situasi seperti ini malah bingung harus bersikap seperti apa.
Setelah puas mempromosikan Zi pada anak sulungnya, Bu Laila kembali bertanya
“Zi, acara donasinya besok kan? Ibu boleh datang sekalian ajak Aldi?
“Boleh sekali Bu, silahkan Ibu dan Kak Aldi hadir Zi tunggu ya Bu”
“Gimana persiapannya, sudah rampung semua?”
“Alhamdulillah sudah Bu, tanpa Zi duga ternyata banyak bala bantuan dari BEM angkatan sebelumnya, Alhamdulillah persiapan sudah 100%, Insya Allah mudah-mudahan besok semua berjalan lancar tanpa kendala”.
“Alhamdulillah syukur kalau begitu, Ibu itu bangga sekali dengan anak muda seperti kalian yang perduli dengan kondisi orang lain, dua jempol buat kamu Zi”
“Ibu mulai lagi deh” Wajah Zi mulai memerah lagi
Akhirnya Pukul setengah delapan malam, Zi pamit pada Bu Laila dan Aldi untuk kembali kosan, karena khawatir jika pulang terlalu malam.
Zi menolak tawaran Bu Laila yang meminta Aldi mengantarkannya, karena tak nyaman saat berada berdua di dalam mobil dengan yang bukan mahromnya.
Apalagi misi perjodohan Bu Laila yang mulai tampak gencar.
*****
Keesokan harinya, panitia mulai mempersiapkan acara, mengecek ulang peralatan yang dibutuhkan, makanan, donasi, tenda jika peserta membludak, 2 buah layar infocus bagi peserta yang tak bisa masuk aula, karena nanti akan ada kajian dari Ustadz muda ternama, tempat wudhu darurat, karpet dan sejadah.
Satu persatu susunan acara terlaksana dengan baik, anak-anak yatim, Kaum dhuafa yang diundang terlihat antusias, dosen dan mahasiswa yang mengikuti kegiatan pun terlihat bersemangat karena materi kajian yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi saat ini ditambah pembawaan ustadz nya yang memang handal, mudah difahami dan diselingi senda gurau yang membuat suasana semakin hangat.
Ustadz tersebut pamit saat waktu menunjukkan pukul 17 dikarenakan masih ada kegiatan lain yang harus beliau hadiri.
__ADS_1
Alhasil untuk imam jama’ah sholat Maghrib, Isya dan Tarawih diserahkan kepada ketua Rohis saat itu, tapi ternyata tanpa diduga