
“Aku akan membuatku bergadang lagi malam ini sayang”
“Kak Zaaaa!!!!” Zi mejerit sambil mengalungkan tangannya di leher pria itu
“Salah sendiri banyak protes”
“Memangnya kalau aku tak protes Kak Za akan melakukan apa?”
“Sama saja”
“Tuuuhhh kaaaannn” Gadis itu kembali mengerucutkan bibirnya
“Jangan berani-berani mengerucutkan bibir seperti itu di hadapan pria lain ya, kalau tak ingin aku menciummu di depan umum” Zi memukul dada pria itu yang sekarang sudah membaringkannya di kasur. Melihat suaminya yang sedikit lengah, Zi beranjak pergi menuju kamar mandi
“Ehhhh.. mau kemana kamu?” Za menarik lengan gadis itu, hingga sekarang tubuhnya berada di atas Za
“Zi mau ke kamar mandi Kak” Zi merengek, takut mengahadapi kenyataan yang akan terjadi beberapa jam di depan
“Mau apa ke kamar mandi?”
“Hm… mau… mau..” Zi tampak berpikir
“Mau apa, coba jawab?” Gadis itu tak mau berbohong
“Yaaa ingin diam saja disana, menunggu sampai Kak Za tidur”
“Dasar, gadis nakal ya kamu” Za mengelitiki badan istrinya hingga kini badan gadis itu kembali berada di bawah
“Sekali saja ya Kak Pliiisss” Zi menangkupkan tangannya memohon
“Tergantung”
“Tergantung apa?”
“Tergantung badanku siap melakukannya berapa kali”
__ADS_1
“Hah?” Kak Za jahat”
“Apa? Memangnya aku benar-benar jahat? Apa aku terlihat memaksamu?” gadis itu menggeleng
“Bagaimana jika besok di kantor Zi mengantuk?”
“Baiklah kalau begitu aku akan melakukannya sampai puas” Za mulai menciumi wajah gadisnya lembut
“Besok kan libur sayang” Zi menepuk dahinya, merasa bodoh dengan alasan yang baru saja ia lontarkan.
*****
Weekend itu Za memilih untuk menemui kedua orangtuanya lagi, membicarakan masalah resepsi pernikahan yang ingin segera Za gelar.
Zi memilih untuk tak ikut, karena takut suasana di sana menjadi lebih canggung dari biasanya
“Papa sih setuju saja Za, kalian urus berdua saja ya”
“Papa!, Papa tak mempertimbangkan perasaan Mama hah?” Bu Lidya terlihat emosi
“Papa perusahaan kita saat ini ada di urutan berapa?”
“Delapan” Jawabnya bangga “Bahkan putramu sudah membuat perusahaan kita naik dua angka di luar dugaan ku”
“Oke.. Mama akan mengizinkanmu melanjutkan pernikahan dengan gadis itu, jika Perusahaan kita sudah berada di posisi 5 besar”
“Hah, yang benar saja Ma, mau sampai kapan Za menunda resepsi pernikahan Za jika harus menunggu perusahaan kita berada di posisi 5 besar, Mama mau membuat hidup Za menderita Ma?”
Pa Hartono, mulai menggeleng-gelengkan kepala tak faham dengan pemikiran istrinya
“Mama sadar, selama ini hidup aku bahkan lebih buruk dari Ayesha. Mama tak pernah bersikap layaknya seorang Ibu yang memiliki anak, Mama sibuk di luar sama seperti Papa, sibuk berkumpul dengan teman-teman sosialita dan arisan Mama yang entah faedahnya sebesar apa sampai harus meninggalkan Za SETIAP HARI!" Za dengan sengaja menekankan kata setiap hari
“Mama hanya peduli dengan prestasi Za dan Ayesha tapi tak pernah perduli apa yang dibutuhkan seorang anak dari orang tuanya. Mama tahu Za merasa jadi manusia paling bodoh dan malu saat di KTP Za tercantum agama yang Za yakini, tapi Za tak pernah sakalipun berusaha menjalankan kewajiban Za sebagai seorang muslim, lalu gadis itu hadir di hidup Za, dia menyadarkan Za dimana kelak kita akan berakhir, kekayaan yang kita miliki di dunia ini tak akan ada yang kita bawa mati Ma” Za terlihat mulai berkaca-kaca
“Seandainya Mama tahu, Za mulai menemukan kehidupan dan kebahagiaan Za yang baru karena siapa, semua karena gadis itu Ma, kalau bukan karena dia Za mungkin saat ini tak akan berada di hadapan Mama dan Papa”
__ADS_1
Hartono tampak mencerna kata-katanya. Hatinya merasa tertusuk sebagai orang tua ia menyadari, bahwa selama ini ia dan istrinya terlalu berlebihan mengejar dunia. Sibuk berada di luar rumah tanpa memikirkan perkembangan anaknya dari hari ke hari.
Bertemu di meja makan saat sarapan, tanpa banyak berbicara, kembali ke rumah saat Za dan Ayesha telah tertidur atau pura-pura tertidur.
Saat weekend mereka habiskan bermain golf dan berkumpul dengan klien-klien bisnis mereka, alasannya untuk memperluas jaringan bisnis mereka. Lidya memiliki usaha butik dan resto, lalu menggunakan istri-istri dari klien suaminya untuk memperluas marketing, lebih tepatnya itu hanya alasan kedua, alasan utamanya adalah takut suaminya itu tergoda gadis-gadis muda di luar sana.
“Oke, Mama ganti syaratnya. Pindahkan gadis itu di kantor cabang perusahaan kita, di Sulawesi atau Kalimantan selama 6 Bulan sampai 1 Tahun. Mama ingin tahu seberapa bisa dia membanggakan keluarga Hartono, tanpa ada kamu di belakangnya”
Za mengusap wajahnya kasar karena emosi tertahan, memilih untuk meninggalkan rumah mewah itu, tanpa mengucapkan salam. Saat itu pria ini bingung harus mengatakan apa pada istrinya, tak ingin kembali membuat gadisnya bersedih.
Setelah sampai di apartemen, Zi tak berani bertanya pada suaminya. Lebih tepatnya dia belum siap mendengar apa yang terjadi di rumah keluarga Hartono. Dia menyiapkan makan siang di meja makan, tapi Za lebih memilih untuk makan di atas karpet di ruang tengah, kebiasaanya yang mulai berubah semenjak ada gadis itu.
“Kak Za mau Zi suapi?”
“Tidak, aku makan sendiri saja, kamu juga makan ya” Za mengusap kepala gadis itu sambil senyum yang dipaksakan
Bagaimana aku mengatakannya, aku tak sanggup, aku harus memikirkan cara lain agar Mama luluh menerima pernikahan ini
"Kak Za bahan makanan kita habis. Nanti Zi izin belanja bulanan ya Kak"
"Oke, nanti aku antar ya"
"Tak usah Kak, itu kan tempat ramai Zi tak mau nanti ada yang melihat kita, dan membuat semuanya jadi tambah runyam" Za memikirkan sebuah ide, karena ia tak tega melihat istrinya belanja sebanyak itu seorang diri.
"Tenang saja, aku punya ide"
"Tapi Zi ingin belanja di pasar tradisional saja Kak lebih murah, memangnya Kak Za mau becek-becekan? "
"Tak masalah, mau mau saja kok, tapi belanja di pasar tradisionalnya lain kali saja ya, aku sedang ingin jalan-jalan berdua tanpa takut dimata-matai"
Ini dia idenya kenapa tak terpikir sejak kemarin-kemarin ya. Dengan ini aku bisa melakukan aktivitas berdua di luar apartemen tanpa takut dikenali orang. Batin Za telmi (read : telat mikir)
Za menyerahkan masker dan kacamata untuk istrinya gunakan. Sebenarnya saat berjalan-jalan dengan istrinya, Za lebih senang jika menggunakan motor, tapi hari ini tak mungkin ia lakukan mengingat barang belanjaan mereka yang akan menggunung.
Saat si basement apartemen, Zi kembali melihat motor milik suaminya. Sungguh sangat merasa tak asing dengan kendaraan itu, antara penasaran dan perasaan yang tak enak mulai menyelimuti isi hati dan kepalanya.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa dengan motor merah itu, aku seperti memiliki kenangan buruk dengannya