
Saat Zi sibuk dengan pekerjaannya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk
“JAUHI RIZKY, JIKA TIDAK JANGAN HARAP KAMU BISA MENIKAH DENGANNYA!!!”
Ini siapa lagi sih, orang iseng itu lagi? Tapi siapa?
Ini ke dua kalinya Zi menemukan pesan dengan isi yang bermaksud sana, bahkan sekarang orang ini tahu dia akan segera menikah. Tapi Zi tak mau ambil pusing dengan isi pesan itu, ia tak mau membuang-buang waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak jelas.
Rizky dan Zi dapat menyelesaikan deadline pekerjaan mereka tepat waktu, itu artinya mereka bisa melangsungkan aqad dengan perasaan tenang tanpa dikejar pekerjaan sana sini, meskipun saat aqad nanti Zi hanya mengajukan cuti 3 hari, karena sisanya akan ia gunakan setelah resepsi nanti.
Sehari sebelum aqad Shinta dan Ina sudah heboh mondar mandir di dalam rumah Zi, entah untuk menaruh bunga, selfi sana-sini, membantu Zi memesankan paket luluran terbaik di daerahnya, ngobrol kesana-kemari, tak terlewatkan Ina yang terus menerus menggoda Zi.
“Zi jangan deg-degan ya nanti malam, tak lagi mens kan?” Shinta langsung menjitak kepala Ina
“Penting ya aku jawab?”
“Zi, kita sudah belikan kamu hadiah, tapi bukanya nanti saja ya, jangan sekarang agar surprise, nanti membukanya bareng Kak Rizky tersayang saja ya” Goda Ina lagi
“Iya bawel, makasih banyak loh, kalian sudah mau cuti saja aku sudah sangat senang , apalagi jika ditambah Kak Zahra pasti tambah seru, tapi sayang Kak Zahra sedang hamil muda, jadi tak tega jika harus memaksanya datang”
“Tak apa-apa Zi, meskipun sahabat kamu ini hanya dua, tapi rasanya seperti mendengar orang bicara se RT kan, gara-gara anak bawel ini” Tunjuk Shinta pada Ina yang sejak tadi sudah mesem-mesem membayangkan Zi bersanding dengan idola kampus nomor dua setelah Za.
Mereka menghabiskan malam itu bersama, menemani Zi melewati masa-masa menegangkan itu, dengan banyak menceritakan hal lucu, agar sahabatnya itu lebih tenang menghadapi hari esok.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan Pukul sepuluh Malam, mereka memutuskan untuk segera pergi tidur, agar sang pengantin nanti bisa bersanding dengan wajah yang terlihat segar. Sebelum tidur Zi memutuskan untuk mengirim pesan pada calon suaminya.
__ADS_1
“Assalaamu’alaikum Bapak Rizky yang Terhormat, jangan lupa perbanyak dzikir dan do’a besok jangan sampai salah sebut nama ya, Wassalaam”
Ceklis 1, pesan belum terkirim, ah mungkin Kak Rizky sudah tidur pikir Zi, tak lama Zi memilih untuk beristirahat mengikuti kedua sahabatnya yang sudah terlebih dulu terlelap di samping kanan dan kirinya.
3 Hari sebelumnya Rizky mengirim pesan pada Za, memastikan agar sahabatnya itu tak lupa akan hari penting itu, maklum Boss muda yang sedang naik daun ini sering melupakan schedule yang sudah tersusun
“Za, jangan lupa sabtu nanti lo hadir ya, nanti gue kirim alamatnya. Jangan sampai telat gue mau lo hadir di acara yang paling membahagiakan untuk hidup gue, Oke?”
Dan hanya dijawab singkat “Oke”
*****
Hari itupun tiba, keluarga Zi sudah bersiap-siap menyambut tamu agung mereka, bahkan dari 1 Bulan sebelumnya rumah mereka sengaja sedikit direnovasi agar tak membuat malu keluarga besan.
Zi sudah didandani semenjak subuh, Zi mengenakan dress putih dengan payet cukup mewah di Bagian lengan dan bawah baju, karena Zi menggunakan hijab yang menjuntai menutupi dada.
Zi sempat menolak karena dirasa baju itu terlalu mewah dan bahkan sedikit berelebihan, apalagi jika hanya ia gunakan sekali seumur hidup, sungguh sayang bukan.
Tapi Zi sudah tak bisa membantah kata-kata mantan ketua timnya itu.
Ina yang sedari tadi sibuk membuat video dan foto Zi untuk diupload di sosmednya, terpaku dengan desain baju dan makeup yang hari ini melekat di wajah cantik sahabatnya ini.
“Ya ampun Zi, cantik sekaliiii” Ina mulai heboh, “Tadinya aku yang akan beraksi memoles wajahmu Zi, lalu bajunya akan aku desain khusus juga buat kamu. Tapi melihat hasilnya yang seperti ini, minder lah aku”
“Waaaah untung tak kejadian, bisa kacau acara. Nanti saja ya, saat kamu menikah silahkan berdandan dan mendesain bajumu sendiri, agar lebih puas bukan” Ucap Shinta sewot
__ADS_1
Zi yang sedari tadi mendengar celotehan kedua anak itu hanya tersenyum, ia sedang tak mau menanggapi candaan sahabatnya, karena suasana hatinya sedang tak menentu, antara bahagia dan cemas.
Sementara Za, sudah sampai di Kota dimana Zi besar sejak tadi malam, dia memilih menginap di sebuah hotel di tengah kota, dan menuju rumah Zi pagi harinya. Sebelum beranjak ke rumah Zi, pria itu memilih melipir dulu ke sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Dhuha, ibadah Sunnah yang baru beberapa bulan ini ia lakukan rutin.
Sedikit lama Za berdiam diri di sana, hingga tak dirasa waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 sedangkan acara aqad rencana akan dimulai Pukul 8 pagi.
“Wah bakalan ngamuk nih” Batin Za
Pukul 8 rombongan pengantin pria belum hadir, Pukul 9 keluarga Rizky masih juga belum hadir. Za yang tepat datang kesana Pukul 9, sedikit bingung mengapa acara belum dimulai.
Bertanya pada tamu yang sudah hadir di sana, ternyata keluarga Rizky terlambat datang dari waktu yang sudah direncanakan.
“Ini orang gimana sih, minta gue jangan telat, eh malah dia yang telat” Za mulai memilih kontak di hp nya, menyambungkan ke nomor sahabatnya itu.
Tak tersambung, Za kembali mencari nama lain di kontaknya yang tak lain nomor Ibu dan Ayahnya Rizky, sama-sama tak tersambung
“Ya ampun, ini bocah kemana sih, mana nomor Om dan Tante juga mati lagi, jangan-jangan terjadi apa-apa lagi sama mereka”
Di dalam rumah, keluarga Zi mulai panik, Ayah meminta Zi untuk mencoba menghubungi Rizky, tapi nihil nomor itu tidak tersambung, bahkan pesan Zi semalam sama sekali belum terkirim”
Shinta dan Ina yang mulai melihat kecemasan di wajah Zi memilih untuk membawa hp Zi keluar untuk kembali mencoba menghubungi Rizky. Saat diluar mereka bertemu dengan Za, dan menceritakan apa yang terjadi.
Kecemasan semakin memuncak di rumah itu, bahkan Ibu lebih memilih untuk berdiam diri di kamar, malu menghadapi tamu yang sudah hadir di rumah mereka.
Pukul 09.15 sebuah mobil sedan datang, Pria yang Za kenal sebagai sopir pribadi Rizky datang.
__ADS_1
“Pa Agus Rizky mana?” Bapak paruh baya tersebut bingung harus mengatakan apa, dia hanya menyerahkan sebuah surat yang dititipkan oleh keluarga Darmawan. Setelah menyerahkan surat itu, dia beranjak pergi meninggalkan halaman rumah Zi.
Za yang sungguh penasaran, bingung dengan apa yang terjadi, akhirnya memberanikan diri utnuk membuka surat itu, surat yang dibuat dengan tulisan tangan langsung, dengan tandatangan yang sangat Za kenal.