Hanya Zi

Hanya Zi
Kehadiran Kia


__ADS_3

“Sopan banget ngusir suaminya”


“Bukan ngusir Kak, tapi mencoba menyadarkan kekhilafan suaminya yang sudah mulai tak sadar waktu”


“Ya sudah, besok kamu enggak usah masuk kerja”


“Ih ko gitu?”


“Habisnya pelit banget sama suami” Zi hendak bersuara kembali tapi dengan cepat Za membungkam bibir gadis itu kilat dengan bibirnya


Cupp!


“Kak Za ihhhh…”


“Kabuuurrr… iya nih aku pamit berangkat niiihh.. Assalaamu’alaikum sayang, makasih hadiahnya” Za pergi sedikit terburu-baru karena takut cubitan istrinya akan mendarat sempurna di pinggangnya. Sebelum menutup pintu apartemennya dia memberi senyum manis pada istri terkasihnya.


Za yang sudah memulai aktifitasnya di kantor, kaget dengan kedatangan Ibunya yang masuk tanpa aba-aba.


“Za Mama punya kejutan buat kamu”


“Wa’alaikumussalaam Ma” Za mencium tangan wanita yang masih terlihat sangat cantik itu. Lidya yg tersadar, bahwa anaknya sedang menyindir karena ia masuk tanpa mengucapkan salam, hanya memutar bola matanya malas.


“Mama membawa seseorang buat kamu, kamu pasti senang”


“Sayang, sini masuk” terlihat seorang gadis yang sejak tadi menunggu di depan ruangan Za memberanikan diri melangkah untuk menemui seorang pria, teman lamanya yang saat ini telah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan arsitektur. Gadis itu berpakaian sopan, menggunakan dress longgar selutut dengan blazer sepinggangnya yang terlihat sangat modis.


Za malas menanggapi maksud Ibunya kali ini, dia masih menunduk memikirkan apa yang sebenarnya Ibunya inginkan. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunan pria itu yang sedang terduduk di atas sofanya.


“Hallo Za kamu apa kabar?” Za yang merasa mengenal suara itu, perlahan mengangkat wajahnya


“Kia! Kamu..”


“Za, kamu pasti syok ya, Mama bawa dia kesini? Memangnya kapan terakhir kali kalian bertemu?” Za memilih diam, sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan Ibunya


“Dia yang akan jadi sekretaris baru kamu”


“Mama jangan bercanda, Za sudah punya sekretaris Ma, untuk apa Mama mencarikan sekretaris untuk Za?”


Tak lama terdengar ketukan pintu, ternyata Rio yang masuk

__ADS_1


“Maaf Pak, calon pengganti Iqbal hari ini akan tes tahap akhir, apa Pak Za akan ikut dalam sesi ini?”


“Tuh Mama dengar sendiri kan, Iqbal sudah Za tunjuk sebagai pengganti Silvi, dan sekarang perekrutan karyawan untuk menggantikan posisi Iqbal sudah dilakukan, Mama sudah tak perlu repot-repot….” Belum selesai Za berbicara, Ibunya kembali memotong


“Rio, tolong tunda perekrutan karyawan baru, karena saya sudah menemukan pengganti Silvi, Iqbal akan kembali kepada posisinya, coba kamu atur masalah itu ya”


“Tapi Nyonya…” Rio terlihat tak berani melanjutkan kata-katanya, karena Nyonya besar sedang menatapnya tajam.


“Sudah Rio, kamu silahkan kembali, saya minta tolong urus perekrutan hari ini, mungkin karyawan baru akan saya tugaskan di kantor cabang yang membutuhkan” Za kembali bersuara, dan Bu Lidya terlihat tersenyum.


Kia yang sejak tadi masih dalam posisi berdiri, akhirnya mengikuti perintah Lidya untuk ikut duduk di sofa panjang itu.


“Jadi gimana Kia sudah mulai bisa bekerja hari ini?” Za masih tak bergeming, Lidya mulai bingung menghadapi anaknya, tapi di lain sisi dia tak mungkin membatalkan rencananya dengan gadis itu.


“Oke Kia, sekarang kamu sudah mulai bisa bekerja, nanti Iqbal dan Rio akan membantu kamu menjelaskan tugas kamu ya, ayo Tante antar, karena sepertinya Boss disini hari ini mood nya sedang tidak bagus” Lidya berbicara panjang lebar


“Allohu Akbar Ma, Za sudah cukup bersabar ya Ma untuk tak meluapkan emosi Za di depan Mama” Kali ini giliran Lidya yang tak menjawab omongan anak sulungnya itu, kedua wanita itu berlalu meninggalkan ruangan Za, sebelum keluar dari pintu, Kia menatap Za dengan tatapan penuh tanda tanya.


Hari itu, hari yang cukup panjang bagi Kia, banyak hal baru yang harus ia pelajari karena selama 6 Bulan ia tak bekerja, hal itu cukup membuatnya kaku saat kembali harus menjalankan rutinitas di kantor.


Jam kantor hampir usai, tapi Za sama sekali belum menegurnya. Pria itu melewati meja kerjanya beberapa kali, tapi ia tak memandang padanya sekalipun.


Hal itu membuat perasaannya jadi tak enak, hingga akhirnya Kia memutuskan untuk kembali memasuki ruangan atasannya.


“Masuk”


Ih.. ketus banget sih


“Maaf Pak, sepertinya kehadiran saya sama sekali tak berkenan untuk Bapak, jadi sepertinya saya tak akan kembali bekerja besok, saya permisi”


“Maaf, silahkan besok kamu lanjutkan pekerjaan kamu, selama kamu tidak melakukan kesalahan dan hal aneh, saya akan tetap membiarkan kamu bekerja disini”


“Bapak yakin?”


“Entahlah”


“Jadi saya harus bagaimana Pak?”


“Lanjutkan saja pekerjaan kamu, saya harap kamu bisa bekerja professional, maaf jika sikap saya tidak berkenan”

__ADS_1


“Terimakasih banyak Pa, saya akan berusaha”


Apa aku harus memberi tahu Zi? Istriku pasti akan kaget jika tahu Kia siapa, tapi aku akan merasa bersalah jika tak menceritakan semuanya pada Zi, bisa jadi perang besar nanti.


Eh tapi ngomong-ngomong istriku sepertinya tak pernah cemburu, selama ini yang ia permasalahkan adalah sikapku yang kadang masih sulit menjaga jarak dengan wanita, karena Robb ku juga tak menyukai itu. Itu cemburu apa kecewa sih?


Jam 8 Malam Za baru kembali dari kantor


“Kak Za mau berendam?” Pria itu mengangguk sambil melepas dasinya


“Zi siapkan dulu airnya ya Kak, Kak Za sudah makan?”


“Belum sayang”


“Oke nanti Zi siapkan makanan juga ya”


“Makasih banyak istriku sayang..” Ucap Za sambil mengecup dahi gadis berambut panjang itu


“Sama-sama suami ganteng sejagat raya”


“Duuh bahagianya yang besok sudah mulai masuk kerja” Zi hanya terkekeh sambil meninggalkan pria itu menuju kamar mandi.


Setelah selesai dengan mandi dan makan malamnya, mereka memilih untuk bercengkrama di kamar.


“Kak Za jangan langsung tidur, baru 30 menit yang lalu makan, enggak baik, enggak sehat”


“Iya baweell, aku cuma mau rebahan aja di kasur sambil peluk kamu, sini aku peluk” Zi yang sudah menguap beberapa kali meladeni obrolan suaminya kesana kemari dari mulai perkembangan kantor, klien yang sikapnya kadang lucu dan ajaib yang membuat mereka sesekali melepas tawa, hingga akhirnya Za memutuskan untuk menceritakan kejadian tadi siang pada istrinya


“Sayang…”


“Hm…”


“Aku mau cerita sesuatu sama kamu” Zi yang masih dalam posisi memeluk suaminya, dan menyimpan kepalanya di dada bidang itu, menengadahkan kepalanya


“Cerita apa Kak?” gadis itu kembali menenggelamkan wajahnya di dada pria yang sangat membuat dirinya tenang dan nyaman


“Tadi siang Mama ke kantor, kamu tahu dia datang dengan membawa sekretaris baru”


“Bukannya Kak Iqbal sudah jadi sekretaris Kak Za ya setelah Mba Silvi resign?”

__ADS_1


“Iya, aku juga enggak faham maksud Mama apa. Hm.. terus kalau aku lanjut cerita kamu bakalan marah enggak?”


“Enggak” gadis itu semakin menenggelamkan kepalanya di dada suaminya dengan mata terpejam


__ADS_2