Hanya Zi

Hanya Zi
Sesak Nafas


__ADS_3

Tak pernah, hingga kamu hadir Zi, mengisi kekosongan ku meskipun dengan sikap protes dan ajakan perangmu


Zi masih menatap pria itu lekat, dia mulai mengerti kepiluan dan rasa sepi yang selama ini pria itu rasakan. Tiba-tiba Za teringat kata-kata anak buahnya.


Flashback On


Setelah kejadian Za memergoki istrinya mengobrol dengan Iqbal, esoknya pria itu meminta Iqbal untuk menemuinya di atas Rooftop.


Di sana dibuat sebuah taman yang cukup luas, yang bisa digunakan untuk menjernihkan pikiran sejenak. Za memastikan apa benar pria itu telah mengetahui pernikahan mereka, dan ternyata benar ia telah mengetahuinya saat melihat apa yang terjadi di dekat kosan Zi.


Di atas Rooftop mereka berbicara banyak hal, lebih tepatnya Za meminta pendapat Iqbal bagaimana cara bersikap pada seorang gadis, agar membuat hatinya luluh. Dia sudah mencoba mencari informasi di internet, tapi semua itu hanya membuatnya tambah pusing dan bingung, mungkin karena sebenarnya Za hanya perlu teman bicara untuk memastikan apa yang harus dan bisa dia lakukan.


Iqbal yang tersenyum menatap Bos dinginnya yang terlihat lucu saat jatuh cinta, mulai memberitahunya jurus-jurus cara menaklukkan wanita, padahal dia sendiri belum menikah dan tak pernah memiliki pacar. Setidaknya ilmu itu dia dapatkan karena dia memiliki seorang kakak dan adik perempuan yang cukup dekat dengannya karena mereka benar-benar tumbuh bersama didalam kehangatan keluarga.


Dan kini rasanya Za akan mulai melakukan jurus-jurus itu. Jika ini berhasil aku akan memberikanmu bonus Iqbal batinnya


Flashback Off


“Pak Za… apa tak pernah terfikir untuk menikahi seorang gadis impian Bapak? Di kampus banyak sekali bukan gadis cantik, cerdas yang tertarik pada Bapak, lalu relasi-relasi bisnis Bapak banyak yang terlihat muda juga cantik dan cerdas, pernahkah Bapak terfikir untuk menikahi salahsatu dari mereka?”


Zi masih menunggu jawaban pria itu, dia kembali menatap pemandangan indah itu, menjauh dari tatapan pria itu yang mulai tak bisa diartikan.


Zi terlihat menahan rasa dinginnya, karena semakin malam hembusan anginnya semakin kuat, sedangkan dia hanya menggunakan sweater tipis.


Za mengedarkan pandangannya pada lantai atas resto itu, ternyata sudah tak ada orang, dia menggeser posisi berdirinya hingga kini ia tepat berada di belakang Zi, memeluk gadis itu erat dan menempelkan jaket yang ia kenakan ke badan Zi, seperti digunakan berdua.


Za sudah memperhitungkan baik-baik saat membawa jaket itu dari hotel, dan ternyata ia benar-benar menggunakannya untuk membuat momen indah bersama istrinya.


Pak Za sedang apa? Jangan membuatku bertambah gugup Pak

__ADS_1


Saat ini dagu Za sedang berada di samping kepala Zi, memeluk erat gadis itu dari belakang dengan mengenakan jaketnya.


“Tak ada, tak pernah” Jawabnya singkat.


Mereka menikmati kebersamaan itu cukup lama, Zi sangat menikmati pelukan hangat pria itu. Dan setelah menenangkan degup jantungnya, Zi memberanikan diri untuk membalikkan badannya.


Berusaha sekuat tenaga mengutarakan perasaan yang selama ini membuat dirinya merasakan rasa bersalah yang besar.


Kini badan mereka berhadapan, Za masih tetap memeluk gadis itu dengan jaketnya


“Jangan bergerak, nanti kamu masuk angin” Zi hanya menatap pria yang kini ada di hadapannya dengan lekat


Kenapa gadis ini mulai berani menatapku seperti itu


Sebenarnya Zi sulit untuk mengatakannya, tapi ini harus ia lakukan, tak adil rasanya membuat perasaan seseorang terjebak karena rasa kasihan.


“Kenapa harus membicarakan gadis lain, sedangkan sekarang aku telah memiliki seorang istri”


“Bapak bisa menceraikan saya, dan carilah wanita yang benar-benar Bapak inginkan, dan membuat orang tua Bapak bangga” Zi mulai tak percaya diri, dan merasa bersalah telah membuat pria itu terjebak di hidupnya.


Diluar dugaan Za mengelus pipi gadis itu lembut, perlahan Za mulai mendekatkan wajahnya pada gadis yang saat ini ada di genggamannya.


Za mengecup kening gadis itu, sambil membelai lembut pipi gadisnya yang terasa dingin. Jantung mereka sudah sama-sama berdetak tak karuan.


Za kembali mendekatkan wajahnya.


Anda akan melakukan apa Pak? Tak akan membuatku keseleo atau pingsan kan?


Za kembali mendekatkan wajahnya kali ini sedikit turun hingga hidung mereka saling bersentuhan. Zi sudah mulai merasakan sesak nafas, karena sejak tadi tanpa ia sadari, ia telah menahan nafasnya untuk mengendalikan degup jantungnya.

__ADS_1


Kenapa nafasku sesak, apa pasokan oksigen di sini mulai habis? Kalau di oksigen di gunung saja habis, bagaimana di tempat lainnya.


Saat hidung mereka sudah saling menyentuh, Za mulai mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu, Zi semakin tak bisa mengendalikan genderang jantungnya, saat bibir mereka sedikit lagi akan bersentuhan terdengar suara


“Ehmmmm.. Maaf Pak restoran kami akan segera tutup” mereka secara reflleks langsung menjauhkan badan mereka masing-masing, sambil terlihat gelagapan malu.


Za melihat arlojinya dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Pantas saja pekerja itu mengusirku, hampir saja, harusnya aku datang lebih awal tadi.


Zi yang masih menahan malu, turun dari resto itu dengan wajah memerah dan segera meninggalkan tempat itu karena hari semakin malam. Selama hidupnya ia tak pernah berani pergi keluar malam hari, jika bukan pria ini yang mengajaknya.


Di dalam mobil, kembali hening tak ada suara, sampai tak terasa mereka telah sampai di basement hotel. Zi tampak keluar lebih dulu, berjalan meninggalkan pria itu, tak diduga Za menarik lengannya kemudian mengecup pipi gadis itu dan mengusapnya


“Istirahatlah, tidur yang nyenyak ya, atau ingin tidur sekamar denganku?” ucapnya lembut. Zi segera berlari tak ingin membiarkan pria itu melihat wajahnya yang sudah memerah


Yang benar saja Tuan, Kamu ingin membuat kantor Papamu berubah menjadi infotainment gosip apa


Ternyata saat Zi dan suaminya keluar dari lift bersamaan, ada sepasang mata yang tanpa sengaja melihat kebersamaan mereka, dengan gelagat yang tampak mencurigakan


*****


Hari Senin pun tiba, ternyata ujian kembali datang. Pukul 11 siang, sebuah pesan masuk di ponsel Zi


“Zi pulanglah setelah jam makan siang, nanti sore kita akan ke rumah orang tuaku” Zi terpaku menatap tulisan di layar itu.


Apa yang harus aku lakukan, ujian macam apalagi ini. Baru saja kemarin air mataku sudah terkuras habis untuk pria lain. Apakah hari ini air mataku akan kembali dehidrasi? Memangnya bisa air mata dehidrasi?


Sepertinya Kamu punya stok air mata yang sedikit banyak Zi, karena Kamu gadis yang jarang menangis. Apa yang akan pria itu katakan nanti, apakah ia akan mengatakan terpaksa menikahi ku karena kasihan dengan penderitaan gadis ini.

__ADS_1


__ADS_2