
“Tugas apalagi Kak?”
“Tugas istri satu kali lagi” Za kembali menciumi bibir istrinya kali ini dengan lembut tak sekasar tadi
“Ihhhhh… Kak Za tau ini sudah jam 10 malam, memangnya kita tak akan pulang?”
“Satu kaliiii saja sayang, nanti kita lanjut di rumah”
“Kak Za sebenarnya nilai matematikamu berapa sihhh? Satu kalinya satu dikali berapa hmmmppppp…” Za kembali membukam bibir bawel istrinya dengan ciuman menghanyutkan itu.
Dan benar saja mereka baru meninggalkan kantor itu Pukul 11 Malam, Za sudah meminta istrinya untuk tak perlu bersembunyi, biar ia yang akan mengatakan khusus kepada petugas security jika Zi adalah istrinya, dengan merahasiakan ini pada karyawan lainnya jika mereka tak ingin dipecat.
Tapi Zi menolaknya, padahal maksud terselubung Za adalah agar mereka bisa lebih sering dan leluasa menikmati masa-masa pacaran di ruangan baru CEO nya itu.
Zi menolak mentah-mentah maksud terselubung suaminya, dia memilih untuk tetap bersembunyi di bawah jok nya, tanpa ada yang tahu bahwa hari itu dia telah melakukan kerja lembur plus plus haha.
Setelah malam panjang mereka, ditambah keganasan Za yang tak berakhir hanya dengan aksinya di kantor, kenapa? Karena saat mereka tiba di pintu depan apartemen Za dengan segera menggendong badan langsing istrinya kembali menuju singgasana mereka
“Kak Za sebenarnya obat macam apa sih yang Kak Silvi masukkan di kopimu, kenapa Kak Za jadi ganas begini, lama-lama Zi takut Kak” berbicara sambil menaiki tangga menuju kamar mereka
“Mana istri solihahnya aku” mereka sudah sampai di kamar
“Iya Kak Iya…” Zi tampak mulai pasrah
“Sepertinya Zi harus mulai buat perhitungan dengan Kak Silvi”
“Tapi sepertinya aku harus berterimakasih padanya” Zi mendelik, dia memelototkan matanya. Zi hendak bangkit, marah meninggalkan suaminya yang mengucapkan kata-kata tak masuk akal tadi
"Berterimakasih apanya"
Za menarik tangan istrinya, hingga ia kembali berada di atas badan pria itu
“Bercanda sayang.. bercanda”
“Sama sekali tak lucu Tuan Za menyebalkan”
*****
Pagi itu, sebelum Silvi datang, Za memanggil petugas cleaning service yang biasa membersihkan ruangannya. Tak lupa memberi petugas itu tips yang membuat wajahnya ceria seketika, meski harus mengobrak ngabrik sampah yang telah ia kumpulkan sejak subuh tadi.
__ADS_1
Tak menunggu lama, setelah Silvi datang Za memanggil sekretarisnya itu. Za melemparkan sesuatu di atas meja kerjanya
“Apa itu?”
“Jawab Sil! Maksud kamu apa? Kamu mau menjebakku?”
“Aku lelah Za, kamu sama sekali tak pernah memandangku, bahkan ibumu saja berniat menjauhkan ku darimu”
“Kamu menguping?”
“Aku cinta kamu Za”
“Kamu sakit Sil, benar-benar sakit, kamu sadar kamu hampir menyakiti istriku”
“Memang itu maksudku Za, aku ingin memilikimu, bukan yang lain CUMA AKU!” Silvi mulai histeris, berteriak
“Sekarang kamu pilih, mutasi atau resign?”
Silvi mulai menghentikan tangisnya, meninggalkan pria itu dan menutup pintunya dengan kasar. Silvi masih mematung di meja kerjanya, memikirkan apa yang harus ia lakukan dari 2 pilihan yang tadi Za katakan.
Hingga jam makan siang tiba
Zi mulai merasakan pusing dan mual, mungkin karena efek ia sering bergadang akhir-akhir ini, tapi ia tak ingin melewatkan waktu makan siangnya bersama Suci, Rani Leo dan Iqbal mengingat sakit lambungnya yang jika kambuh bisa membuatnya susah berjalan.
“Heh wanita murahan, apa yang sudah kamu beri pada atasanmu Hah?”
“Mba Silvi kenapa ini? Malu dilihat orang” Suci memegang lengan Silvi agar menyadari tindakannya
“Kamu tahu, aku nyaris dikeluarkan dari kantor ini, pasti karena kamu yang menghasut Za kan?”
“Mba Silvi, kalau ada masalah jangan seperti ini bicarakan baik-baik” Leo mulai bersuara. Zi yang sejak tadi memilih untuk diam mulai melangkah beranjak pergi, karena melihat tatapan puluhan pasang mata yang ada di sana, menatapnya penuh tanya.
Silvi tak tinggal diam, dia menarik hijab yang Zi gunakan dari belakang hingga Zi tercekik. Rani mulai menahan tangan Silvi yang mulai kehilangan kendali karena ia hampir membuat Zi kehilangan nafas sampai terbatuk-batuk.
Hingga akhirnya Zi memberanikan diri bersuara
“Kak Silvi mau Zi bongkar semuanya disini, siapa sebenarnya yang jadi wanita penggoda?”
Emosi Silvi kembali tersulut, dia mendorong tubuh Zi, hingga perutnya terbentur sudut meja yang tumpul tapi cukup keras hingga Zi meringis menahan sakitnya.
__ADS_1
Melihat Zi yang teduduk sambil meringis memegang perutnya, Silvi memilih pergi meninggalkan kantin itu, kembali menuju ruangannya.
Tak lama, terlihat darah mengucur dari balik rok Zi, yang mulai mengenai kaos kaki dan sepatunya. Suci dan Rani panik, ia meminta Leo dan Iqbal untuk memanggil supir kantor untuk membawa Zi ke rumah sakit. Banyak pertanyaan muncul di benak ke tiga orang temannya itu, tapi mereka menahan diri untuk tak bertanya lebih jauh di situasi yang tak memungkinkan ini.
Unit Gawat Darurat
Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, dan Zi terlihat tertidur karena efek obat yang telah diberikan dokter. Iqbal memutuskan untuk menghubungi seseorang. Hingga suara dokter itu mengangetkan 3 orang yang ada di sana
“Siapa suaminya?”
“Hah?” Leo terlihat paling melongo, Rani dan suci saling pandang sedangkan Iqbal terlihat tenang
“Ehm… Sebentar lagi beliau datang Dok” Suara Iqbal semakin membuat bingung
“Hah???!!!” kali ini ketiga orang teman kantor Iqbal menatap pria itu heran, sekaligus ingin menimpuknya dengan barang apapun yang ada disana? Bisa-bisanya ia tak pernah menceritakan rahasia besar ini pada mereka.
Hingga tak lama, Za terlihat berlari memasuki ruangan UGD ditemani Rio
Rani dan Suci menutup mulutnya kaget, Leo yang melihat kekagetan Rani dan Suci secara refleks mengikuti gerakan mereka, menutup mulutnya sok imut.
Jadi benar isu yang beredar di luar sana? itu yang berada di benak mereka saat ini
“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”
Leo terlihat mencubit lengan Iqbal, rasanya Suci dan Rani ingin melakukan hal yang sama, tapi mereka berfikir ribuan kali jika tak ingin diceramahi teman sekaligus ustadz di kantor mereka itu.
“Hm.. maaf, janinnya tak terselamatkan, sepertinya tadi Nyonya mengalami benturan yang cukup kuat, ditambah ada kandungan obat tidur di dalam darahnya yang membuat janinnya semakin tak kuat bertahan”
Kali ini Leo benar-benar menutup mulutnya lagi karena kaget seperti yang tadi ia lakukan
“Sok imut banget sih lo” Suci protes melihat tingkah cowo absurd disebelahnya
“Astaghfirullohal’adzim..” Za mengusap wajahnya kasar. Mereka masih memandangi wajah gadis itu yang masih terlihat cantik meskipun dalam kondisi pucat. Saat Za masih berbincang-bincang dengan dokter untuk menentukan therapy dan berapa lama diperkirakan istrinya harus istirahat Zi terbangun
“Sayang.. masih sakit?” Za terlihat mengelus kepala gadis itu
Zi yang mulai menyadari teman-teman kantornya berada di sana, menjauhkan tangan suaminya dari atas kepalanya
“Ya ampun Ran, Pak Za so sweet banget sih manggil-manggil sayang, di depan kita lagi”
__ADS_1
“Ssstt.. kalau kelamaan jomblo ga usah ditunjukkin segitunya kali Ci, kasian banget sih lo”
“Isshh.. Ran nyebelin kamu”