
Saat Rizky pergi Dinda mulai berceloteh lagi
“Sepertinya aku mencium sesuatu yang mencurigakan deh Zi”
“Hah, maksudnya?”
“Nanti ya, aku akan pastikan dulu” Dinda mulai sok sokan menganalisis
Rizky pun kembali, dan tak lama makanannya pun datang.
“Waaaah, sepertinya makanannya enak nih kak” Dinda bersemangat
“Kamu suka enggak Zi makanannya?” Rizky menatap Zi sekilas
“Insya Allah suka ko kak” Zi tersenyum, dan Rizky hanya menatapnya sekilas, lalu senyum Zi menular padanya.
Dinda yang sejak tadi memata-matai Rizky mulai tersenyum penuh arti.
Mereka makan sambil berbincang banyak hal, tanpa mereka sadari tak jauh dari sana, ada seorang gadis menatap mereka dengan tatap tajam.
Dinda dan Zi pun pamit pulang lebih dulu, karena sudah terlalu sore, dan berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Rizky atas kebaikannya hari ini.
Setelah mereka masuk masuk ke dalam mobil Dinda, akhirnya Dinda mulai berceloteh kembali
“Zi sepertinya Kak Rizky suka sama kamu deh”
“Enggak mungkin ah ngaco” Zi mulai tak mengerti dengan cara berfikir sahabatnya ini
“Benar Zi, percaya deh sama aku”
“Kamu bisa ngomong seperti itu tuh, memang dasarnya apa?”
“Cara dia memandang kamu beda Zi, ya meskipun Kak Rizky termasuk pria yang agak jaga pandangan, makanya tadi dia enggak berani mandang kamu lama-lama”
“Memang kamu bisa bedain apa, tatapan orang yang punya rasa sama yang enggak ada rasa sama sekali?”
“Ih benar-benar ya, sahabat aku ini polos sekali dan kelewat polos, kamu memang belum pernah pacaran Zi?” Zi menjawab dengan gelengan kepala
__ADS_1
“Hmmm.. Pantesan, tapi kalau suka sama laki-laki pernah kan?”
“Enggak tahu deh ya, itu sukanya suka gimana, lebih ke kagum sih sepertinya”
“Wah benaran polos kamu Zi, memang sih bukan hal yang patut untuk dibanggakan juga, dulu waktu SMA aku pernah pacaran, nah tatapan dia tuh sama seperti tatapan pacar aku dulu, hanya bedanya kalau mantan aku natapnya sudah tak tanggung-tanggung lama saja gitu, nah kalau kak Rizky mungkin secara dia berusaha menjaga pandangannya"
"Makanya tadi dia lihat kamu sekilas saja gitu, mana tadi dia lebih milih duduk depan kamu kan, tapi senyumnya itu juga beda. Ah susah deh ah jelasinnya”
“Waduh waduh sahabat aku lagi jadi tukang teropong hati ceritanya”
“Percaya kan?”
“Ya sudah lah biarkan saja Nda, terlepas dari benar tidak nya, toh aku niat ke Jakarta buat serius belajar, belum ada kepikiran buat belok jadi mikirin laki-laki”
Dinda pun hanya mengangguk setuju
*****
Tahun Kedua perkuliahan Zi, Shinta, Iqbal mulai melibatkan diri di orgnisasi BEM, selain rohis tentunya, Sedangkan Ina dia mulai keranjingan dengan dunia fashionnya, sehingga tak berminat sedikitpun melibatkan diri di Organisasi, waktunya terkuras habis berkumpul dengan teman-teman satu jurusannya.
Masalah gonjang-ganjing penampilan Zi, sudah tak pernah lagi terdengar di geng ulatnya, ya meskipun tetap sekali-kali selentingan itu ada, tapi tak sedahsyat saat awal mereka masuk kuliah.
Zi benar-benar telah berubah menjadi Zi yang baru, di Tahun kedua masa perkuliahannya, hanya menggunakan stelan rok ataupun gamis yang dipadu padankan dengan outer lalu menggunakan sepatu sneaker atau sandal flat.
Zi mulai membatasi diri, menjaga jarak saat berinteraksi dengan lawan jenis, mulai mengatupkan tangannya di depan dada saat bersalaman, begitupun saat bersama teman geng ulatnya.
Teman-temannya itu, sangat memahami perubahan yang terjadi pada Zi, tak mejadikannya merubah pandangan pada gadis satu itu, karena Zi tetap gadis yang ramah dan baik hati.
Begitupun dengan Sarah, gadis geng ulat yang sama-sama mengenakan hijab saat pertama masuk ke kampus inipun mulai menampakkan perubahan pada dirinya.
Perubahan Zi tak lain karena bantuan Zahra, yang dengan sabar selalu membimbing Zi, meminjamkan buku-buku fiqih, aqidah, sirah nabawiah, serta buku-buku lainnya yang selayaknya difahami seorang muslim serta mengajak Zi mengikuti kajian rutin di luar kampus.
“Zi, kamu sudah siap untuk LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) minggu depan”
“Insya Allah Zi siap Kak Zahra”
“Jangan lupa jaga kondisi, minum vitamin, jangan sampai tragedi pingsan kamu terulang lagi ya”
__ADS_1
“Siap, kakak ku sayang, tapi seandainya waktu itu Zi enggak pingsan, Zi belum tentu bisa sedekat ini sama Kakak seperti sekarang kan?” Zahra hanya memandangnya sambil tersenyum
“Semuanya karna takdir Zi bukan karena kamu pingsan” Zi tergelak membenarkan apa yang diucapkan Zahra
*****
Pelaksanaan LDK itu dilakukan sebagai modal awal seorang mahasiswa, untuk nantinya di syahkan sebagai anggota BEM.
Semua peserta LDK hari itu mengikuti kegiatan dengan semangat, makan teratur, memaksimalkan waktu istirahat, tak lupa membawa obat dan vitamin yang dirasa perlu.
Zi, Shinta, Iqbal dan Sarah teman geng ulat Zi, menjalankan tugas mereka satu persatu dengan semangat. Padahal tugas yang diberikan merupakan tugas-tugas semi militer.
Zi yang pergi dengan menggunakan gamis hitamnya tampak tak terganggu sama sekali dengan apa yang ia kenakan, ia tetap terlihat lincah, ceria dan bersemangat seolah siap menikmati apapun tugas yang diberikan kakak-kakak tingkatnya
“Lapor Za itu di tenda medis ada anak perempuan demam tinggi, dia sudah minum obat, tapi demamnya masih belum turun juga”
Za dan Rizky yang saat itu sedang membahas penutupan LDK pun segera beranjak menuju tenda medis.
“Demamnya masih tinggi Dok?” Tanya Za pada dokter yang sedang bertugas saat itu.
“Iya Za, sebaiknya dibawa saja langsung ke Rumah Sakit Za, daripada tambah memburuk”
Dokter itu pun mulai menyiapkan surat rujukan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat
Zi mulai tampak semakin khawatir, pasalnya gadis yang sedang demam ini adalah Sarah, satu-satunya anak geng ulat yang masuk BEM selain dirinya.
“Zi ikut ya kak” menatap Za dalam
Za Nampak terdiam, tak memberikan jawaban apapun
“Ayo kamu ikut Zi” seru Rizky, Rizky yang sudah faham karakter sahabatnya ini tahu, jika Za melarang dia akan langsung mengatakan tidak, jika diam itu artinya ya.
Zi duduk di belakang sambil memangku kepala Sarah. Untungnya letak Rumah Sakit hanya membutuhkan waktu setengah Jam.
“Ki, coba minta tolong anak-anak untuk handle acara penutupan ya, kita sepertinya di Rumah Sakit butuh waktu sedikit lama” Za memberikan perintah tanpa beralih dari pandangan di depannya.
“Oke Za, kita minta tolong Rei dan Zahra saja ya, kalau titip Dito enggak yakin dia bisa bicara serius di depan anak-anak”
__ADS_1
“Terserah loe saja Ki”
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan langsung menuju UGD, satu jam kemudian hasil Lab nya telah keluar, Sarah harus dirawat dikarenakan dari hasil pemeriksaan awal diketahui ada infeksi di tubuh Sarah, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut yang mengharuskan dirinya rawat inap beberapa hari.