Hanya Zi

Hanya Zi
Mereka Bermain-main


__ADS_3

Tapi ya Tuan, aku bukannya tak ingin membuatkanmu kopi, tapi pekerjaanku banyak dan jauh lebih penting dari membuatkan Anda kopi, kecuali jika Anda menjadikanku karyawan Divisi Beverages dengan gaji tinggi, sepertinya aku akan mempertimbangkannya, tapi hanya jika otakku mulai tak sehat ya”


*****


Ramadhan pertama Zi di perusahaan itu pun hadir. Za bersama Rizky berencana mengadakan donasi serta buka puasa bersama di Perusahaan tersebut.


Hartono Group memang sejak dahulu memiliki alokasi dana khusus untuk keperluan sosial. Hanya saja selama ini sistemnya menunggu pengajuan dari luar dengan memasukkan proposal kegiatan.


Tapi kali ini Za berencana untuk menggunakan sebagian alokasinya saat Ramadhan tiba. Za berharap dengan melakukan hal ini dapat meningkatkan keberkahan pada perusahaan milik ayahnya itu.


Hari ini Rizky, Iqbal, Leo, Suci, Rani dan Zi diminta Za untuk ikut berbelanja bingkisan parcel untuk tamu undangan nanti. Urusan kantor hari itu Za serahkan pada Rio dan Silvi, toh tak ada rapat penting hari itu.


Setelah sampai di supermarket yang cukup besar, ide jahil Za mulai muncul. Sepertinya hari ini dia memang sedang ingin bermain-main dengan karyawan-karyawannya ini.


5 orang anak buahnya selain Rizky diminta membawa trolly masing-masing, lalu mereka semua berkumpul di depan kasir untuk mendengar instruksi Boss nya.


Mereka diberi tugas oleh Za, untuk membeli barang seharga tiga ratus ribu rupiah, untuk dijadikan parcel anak yatim dan dhuafa nanti.


Angka yang paling mendekati, serta jenis barang yang dirasa paling cocok dan masuk akal, akan Za berikan hadiah untuk 2 orang terbaik.


Mendengar hal itu mereka tampak bersemangat. Lalu Ina pun bersuara


“Hadiahnya apa Pak?”


“Kamu ini kerja saja belum, sudah tanya-tanya hak nya. Pokoknya lakukan tugas kalian dengan baik, saya beri waktu 15 menit. Siap?”


Mereka tampak menarik nafas, mengumpulkan energy karena supermarket yang cukup luas ini, akan menguras tenaga mereka saat berpuasa.

__ADS_1


Zi tampak seolah-olah menyingsingkan lengan baju sambil menghadap Leo. Alasannya tak lain dan tak bukan, karena keluarga Leo memiliki toko grosir makanan dan sembako yang cukup besar dan disaat weekend pria ini sering terjun langsung membantu di tokonya.


Jadi gadis itu merasa jika dia adalah ancaman terberatnya saat ini, mungkin.


Leo tampak tersenyum bahagia, begitu yakin bahwa rekan-rekan lainnya bukanlah tandingannya.


“Oh ya satu lagi, tidak diperbolehkan menggunakan kalkulator, gunakan memory kalian semaksimal mungkin. Siap ayo mulai!!!”


“Iseng banget lo Za, tapi cerdas juga sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Lo pasti belum punya ide kan bingkisannya akan berisi apa saja, terus apa tadi memangnya hadiah apa yang akan mereka dapatkan Za? ”


“Haha tahu saja lo, daripada kita menghabiskan waktu lama-lama disini berdiskusi menentukan produk apa yang akan kita jadikan bingkisan, lebih baik kita gunakan kecerdasan mereka saja. Kalau untuk hadiah, gampang kita bisa beri mereka uang cash saja, mereka pasti senang” Rizky tampak mengangguk-angguk


Mereka memulai aksinya, ada yang berlari ke arah kanan, kiri, tengah. Pokonya kemanapun yang dirasa paling aman dan masuk akal.


Suci malah terjebak di tempat make up, saking asyiknya melihat barang-barang di sana, dia menghabiskan waktu 7 menit percuma, lalu dengan kesadaran yang terlambat itu, Suci menepuk dahinya berulang kali


Rani sedang memilih barang-barang di hadapannya, membaca ingredient, memastikan makanan itu baik dikonsumsi atau tidak, sambil tetap serius menghitung.


Iqbal tampak terlihat bingung, karena ia termasuk pria yang tak faham urusan berbelanja, dia hanya memastikan makanannya halal lalu memasukkannya ke dalam keranjang.


Zi yang tampak percaya diri dengan barang yang ia masukkan di keranjang, lalu hendak beranjak menuju jenis produk lainnya, sengaja dihalangi oleh keranjang belanjaan Leo, karena saat Leo melihat isi keranjang Zi dirinya mulai merasa terancam.


“Leo awas, aku mau lewat!”


“Maaf aku juga mau lewat” Ucap Leo beralibi, pria itu ternyata bukan ingin lewat, tapi sengaja berlama-lama di depan Zi supaya waktunya segera habis sambil berpura-pura memilih barang”


“Leo kau curang!!!” melihat raut wajah Zi yang sudah memerah akhirnya pria itu memilih untuk menggeser trolley nya agar Zi bisa lewat dengan leluasa.

__ADS_1


“Seram juga anak itu kalau sedang marah”


Setelah waktunya habis, Za menatap satu persatu trolley yang ada di hadapannya.


Menatap bingung pada Ina dan Iqbal. Yang satu terlihat barangnya hanya sedikit, sedangkan satunya lagi tampak terlalu berlebihan.


Setelah dihitung di kasir diperoleh lah angka, Ina dengan nominal terkecil, karena terlalu betah di tempat make up, dan barang-barangnya Za serahkan pada Ina sebagai hadiah. Gagal tetot.


Iqbal dengan jumlah mencapai lima ratus ribu, jauh dari angka yang ditugaskan, tapi ia masih merasa bahagia karena barang-barangnya itu boleh ia bawa pulang. Gagal lagi tetot.


Rani nominal mendekati tiga ratus ribu, tetapi ia lupa ada beberapa barang yang ia ambil, tak ada label halal sehingga tak dihitung di kasir total nominal 265.000. Gagal juga tetot.


Tersisa Leo dan Zi, mereka terlihat saling bertatap-tatapan. Leo mempersilakan Zi untuk maju ke kasir terlebih dulu. Variasi produk yang Zi bawa membuat Za dan Rizky mengangguk-angguk.


“Kamu kenapa mencampurkan snack dan beberapa sembako?” Za ingin tahu alasan gadis itu


“Alasannya, karena tamu kita nanti banyak dari penduduk rumahan bukan dari yayasan, saya berfikir orang yang merasa bahagia saat membuka paket ini nanti, tak hanya anaknya, Ibunya atau Ayahnya saja, tapi mereka semua merasakan bahagia menerima apa yang perusahaan beri, karena isinya variatif sesuai kebutuhan masing-masing” Rizky dan Za tampak mengangguk-angguk


Total belanjaannya Zi 311.000. Berlanjut pada trolley Leo, pria itu tampak ragu menyerahkan trolley nya, bukan karena nominal tapi karena hal lain.


Barang yang Leo masukkan semuanya jenis snack, ia lupa dengan alasan Zi tadi. Makanya tadi saat Leo menghalangi trolley Zi, ia baru menyadari hal itu di menit ke 13. Terlalu terlambat untuk mengganti kembali produk-produk yang sudah ia masukkan.


Leo lega karena angka yang tertera di meja kasir 303.000 lebih mendekati dari angka Zi. Tapi tak lama Rizky bersuara


“Sebentar Za, dua product ini sepertinya tak ada label halalnya”. Leo dan Za tampak ikut mengkroscek kebenarannya. Za yang sudah memastikan jika memang tak ada label tertera disana hanya dengan sekali lihat, berbeda dengan Leo ia memegang product yang ada di depannya di putar-putar atas bawah kanan kiri, diputar sekali dua kali tetap tak ada.


Alhasil 2 barang milik Leo dikeluarkan dari trolley. Jadilah nominalnya hanya 270.000.

__ADS_1


__ADS_2