Hanya Zi

Hanya Zi
Hal yang Memalukan


__ADS_3

Tok..Tok..Tok..


“Maaf Za Gue telat” Viko masuk dengan wajah tanpa dosanya..


“Wuuuuu..” Sorakan anak-anak BEM lainnya yang sudah hadir 20 menit yang lalu.


“Telat terus kebiasaan!, habis darimana loe gangguin anak-anak cewe ya?” tanya salah satu teman Viko


“Sudah-sudah kita lanjut lagi rapatnya.. Gimana form cek list masing-masing seksi sudah terisi semua?” Za kembali berkonsentrasi


“Sorry Za yang seksi perlengkapan ada yang masih kurang” Suara Silvi mulai terdengar, seiring dengan bisik-bisik teman-teman di belakangnya


“Ihh..kebiasaan deh itu cewe kelihatan banget cari perhatian sama Si Za” bisik-bisik teman BEM lainnya yan sudah hafal watak gadis itu


“Hei hei.. ko jadi malah ribut, ya tidak apa-apa Silvi, kalau anggota seksi kamu masih kewalahan, kamu bisa minta bantuan seksi lain yang sudah beres ya. Yang lainnya bagaimana, sudah siap tempur?”


“Siapppp Zaaaa…!!!” suara lantang anak-anak BEM yang semangat 45 menghadapi 1 minggu penuh peluh di acara Orientasi Mahasiswa Baru.


“Oke kalau begitu rapat kita cukupkan sekian, Untuk Dito dan Rei nanti bisa bantu saya dulu ya, kalian jangan dulu pulang”


Zayn Lazuardi, Ketua BEM yang terkenal dingin, cerdas, tampan menjadi pemikat sempurna Kaum Hawa.


Dengan Tinggi 178 cm, kulit putih tak berlebihan, badan atletis membuat seantero kampus mengenal sosok ini.


Meskipun mereka semua tak pernah tahu kesedihan apa yang dia alami sehari-hari kecuali sahabat-sahabat terdekatnya Rizky, Dito dan Rei.


Saat teman-teman BEM lainnya sudah mulai bubar, tersisa Za, Rizky, Zahra, Dito dan Rei


“Zahra sorry nih gue minta tolong sama loe, loe dan Rizky kan yang paling faham masalah Mesjid kampus kita nih, minta tolong pastikan ulang ya semuanya aman, takutnya seperti tahun kemarin kita kena komplain Bapak DKM, termasuk saat darurat kita harus sediakan tempat buat yang tidak bisa jalan ke mesjid misalnya, soalnya jaraknya kan lumayan tuh dari tempat acara.

__ADS_1


Kamu bisa bantu kan Zahra cari option lainnya, soalnya Rizky mau gue minta tolong cek yang lainnya dulu.”


“Oke siap Za, nanti aku fikirkan ya, kalau perlu nanti aku koordinasi dengan tim medis untuk pinjam tenda mereka”


Zahra adalah ketua tim keputrian di Kampus itu, sedangkan Rizky selain aktif di BEM dia juga merangkap sebagai Ketua Rohis kampus, meskipun belum lama dirinya menemukan cahaya Penciptanya, tapi teman-teman Rohis yakin akan kemampuan pria itu, untuk bisa mengembangkan rohis di kampus mereka ini


“Terus kita sekarang mau mengerjakan apa Za?”Tanya Dito


“Loe, Rei, Rizky dan Gue, sekarang kita kroscek ulang semua lokasi acara, sambil buat list yang masih kurang, supaya cepat-cepat bisa diselesaikan oleh Penanggung jawabnya masing-masing oke”


“Siap Za… Lets Go” Dito semangat 45 tak lain dan tak bukan karena dia sekalian ingin cuci mata.


*****


Setelah mengitari setengah bangunan kampus, akhirnya Zi bertemu dengan kedua sahabatnya.


Mereka duduk di bahu jalan kampus, karena didekat sana tak ada kursi untuk mereka beristirahat sejenak.


“Weiiis semangat bener nih yang mau jadi mahasiswa, iya deh iya, baru setengah kan jalannya nanti kita temani sisanya” Ucap Shinta menyemangati


“Hei hei itu lihat ada laki-laki ganteng lewat” Ina mulai gagal fokus sambil tangannya menunjuk pada mahluk-mahluk yang ia maksud.


Mau tak mau secara refleks Zi dan Shinta mengikuti arah jari Ina. Tak disangka ternyata mereka berjalan melewati tiga gadis itu. Ina yang matanya jeli dengan urusan begini dari jarak 10 meter sudah stand bye memandang, dan berusaha untuk tak berkedip, sedangkan Shinta dan Zi ikutan memandang tapi masih dengan tatapan malu-malu, kadang menunduk lalu mencuri-curi pandang lagi.


Kehadiran pria-pria itu seolah menghipnotis Zi dan Shinta, karena mereka termasuk yang tak tertarik memperhatikan lawan jenis sebegitu intensnya. Tapi berbeda sekali dengan saat ini, meskipun masih dengan memandang malu-malu tapi mereka kembali menatap pria-pria itu untuk kedua kalinya.


Memang jalanan di kampus itu cukup besar sekitar 6 meter, tapi karena posisi duduk gadis-gadis itu yang tak biasa akhirnya membuat 4 pria ini menyadari keberadaan mereka.


“Ssstt..ssstt.. Itu anak-anak cewe pada ngapain duduk di sana? kaya enggak ada tempat lain saja apa, tapi dilihat-lihat mereka oke juga, anak baru nih kayaknya” Dito mulai iseng

__ADS_1


“Sudaaah biarin aja, toh mereka begitu juga karena jalanan sepi, kecapean kali” Rizky mulai menduga - duga


Tepat saat ke empat pria itu lewat didepan Ina, Shinta dan Zi, tatapan mereka semua saling beradu.


Astaghfirullohal’adzim aduuuh kenapa bisa ketahuan, mana pas mata kita lagi melihat mereka lagi. Idiiiiih memalukan sekali kan. Batin Zi


Baru 2 langkah 4 pria itu melewati mereka, Dito menghentikan langkahnya, lalu berbalik


“Hei adik-adik manis, kalau memandang kita tak perlu segitunya, sampai keluar air liur begitu, iya kita tahu kita ganteng tapi tak usah segitunya juga.


Terus kalau duduk jangan dipinggir jalan gitu, nanti ada yang culik mau?”


Dito iseng dan dengan cueknya bergabung kembali dengan teman-temannya melanjutkan misi mereka.


“PD banget loe, memang loe pikir itu anak-anak cewe matanya enggak berkedip begitu lihat siapa hmm..?” celetuk Rei


“Ya gue lah siapa lagi, Iya sih tahu, tahu sekali kalau pamor Za dan Rizky sudah tak perlu diragukan lagi, tapi gue juga pasti kecipratan, secara seorang Dito tak pernah jauh-jauh dari mereka berdua ya kan haha..”


Dito mulai ngawur, diselingi gelak tawa teman-temannya


“Ya ampuuun Ina, gara-gara kamu sih pakai tunjuk-tunjuk segala, jadi malu kan ketauan merhatiin” Zi mencubit lengan Ina


“Aww.. Enggak apa-apa lah Zi, lumayan cuci mata hehe.. Lagian aku juga heran deh memang di kota air nya beda apa ya, ko mereka pada bening-bening begitu ya, beda banget dengan di kampung kita Zi, susah nyari yang tampilannya seperti begitu”


“Bukan perkara air kali neneng jebred, mereka bening karena gizi dan dompet mereka tercukupi” Shinta mulai menjitak kepala Ina yang mulai suka sedikit loading.


“Ya mungkin air juga pengaruh Ta, aku pernah dengar ko” Ina mulai tak terima


“Iya deh iya pengaruh, laaah terus emang air tak dibeli pakai uang?” Shinta masih mempertahankan argumennya

__ADS_1


“Oh iya ya benar, jadi tetep ya ujung-ujungnya fulus juga gitu ya?”


__ADS_2