Hanya Zi

Hanya Zi
Aku Menyukaimu Sejak Dulu


__ADS_3

“Tuuuuhhh kaaannnn, kenapa kemarin tak bilang” Zi kembali memukul lengan pria yang sudah menghabiskan makan malamnya itu.


“Kak Za jahat tahu tidak, orang sudah minta maaf masih dimarah-marahi, habis itu dipanggil Mas malah tambah marah. Sebeeellll” Zi menghentak-hentakkan kakinya, dan tanpa ia sadari ada air mata menggenang di sudut matanya


“Hey.. sayangnya Mas ko nangis?” Za mengusap kedua mata istrinya, berpikir kenapa istrinya jadi cengeng begitu, apa karena memang ia sudah keterlaluan hari itu saat memarahinya.


Kejadian saat Zi untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di kampus setelah daftar ulang, lalu datang seorang pria dengan menggunakan motor sportnya, ya itu benar-benar adalah Za, pria menyebalkan yang saat ini jadi suaminya. Gadis itu tak menjawab


“Dulu tak suka dipanggil-panggil Mas, kenapa sekarang minta dipanggil berulang-ulang?” Zi mengerucutkan bibirnya


“Habisnya dulu kamu ngeselin, jalan kaki aja labil kaya orang bingung begitu, kalau celaka kan pasti aku juga yang disalahin”


“Enak saja bilang aku labil” Zi mecubit lengan suaminya


“Itu kan pertemuan pertama, pertemuan kedua kamu kepergok terpesona karena ketampanan seorang Za kan?” wajah Zi mulai memerah. Ia kembali mengingat kejadian memalukan saat di trotoar kampus.


“Bukan terpesona Kak, tak sengaja melihat tapi malah dilihat lagi. Gara-gara Ina tuh” Zi cekikikan sendiri


“Tapi pertemuan ketiga kamu pasti suka”


“Kapan memangnya?”


“Kapan kamu pertama kali digendong seorang pria” Zi mencoba mengingat-ngingat


“Mungkin saat Zi kecil bersama Ayah” Za terlihat gemas mendengar jawaban istrinya itu


“Maksudnya saat kamu dewasa anak cantiikk” Za mencubit hidung istrinya


“Tadi kan pertanyaan Kak Za pertama kali, jadi jawaban Zi tak salah dong” melihat wajah suaminya yang mulai terlihat seram, Zi mulai mengoreksi jawabannya sambil berpikir, benar-benar lebih killer dari dosen sidang skripsi pikirnya.


“Sepertinya tak ada Kak, tak pernah” Za terlihat tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya


“Berarti aku memang benar-benar jodohmu sayang” wajah Zi kembali memerah

__ADS_1


“Kenapa?” Za menarik lengan istrinya, mendudukan gadis itu miring di atas kedua pahanya, karena saat ini mereka masih terduduk di atas karpet. Zi yang mulai terlihat bingung dengan apa yang dilakukan suaminya kembali bertanya


“Kenapa Kak? Jangan dijawab dengan pertanyaan lagi!” kali ini Zi mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung suaminya.


Sungguh tak sopan haha, Za berusaha menggigit jari gadis itu


“Karena aku orang yang pertama menggendongmu”


“Setelah menikah kan?” pria itu menggeleng sambil memberikan senyum menawan


“Saat kamu pingsan di acara MOS” Zi menepuk dahinya


“Jadi temannya Kak Zahra yang menggendong Zi itu Kak Za?” pria itu pun mengangguk mantap


“Lalu, kenapa menghilang sebelum Zi sadar?”


“Takut kamu terpesona”


“Ish.. pede sekali Anda Tuan” Za mengusap bibir gadis itu yang sejak tadi tak berhenti berbicara, kemudian mengecupnya pelan. Zi terkesiap, malu karena perlakuan manis suaminya. Tak ingin kehilangan kesempatan gadis itu kembali bertanya


“Entahlah aku tak tahu kapan pastinya, yang jelas saat dimana pertama kalinya kita di dalam mobil hanya berdua, perasaanku mulai kikuk tak karuan, apalagi saat makan berdampingan dan tanpa sengaja lengan kita saling bersentuhan perasaanku makin tak karuan. Puncaknya saat kamu menyeramahiku panjang lebar di rumah Pak Haji, aku tak pernah bisa melupakan seorang gadis yang membuatku tersadar akan kebodohan yang kubuat sendiri”


Zi menatap wajah suaminya lekat, matanya mulai berkaca-kaca


“Beberapa kali aku melihat banyak pria yang diam-diam bahkan terang-terangan menatapmu dengan tatapan takjub dan kagum, termasuk anaknya Bu Laila. Aku menyadari kamu benar-benar gadis mengagumkan yang layak disukai banyak pria, termasuk sahabatku sendiri”


“Kenapa Kak Za tak bergerak lebih dulu?”


“Aku tak cukup percaya diri untuk menggapaimu” Za mengelus rambut istrinya lembut, Zi akhirnya memeluk pria itu erat


“Bagaimana perasaan Kak Za, saat tahu Kak Rizky mengajukan ta’aruf dengan Zi” pria itu tersenyum getir


“Sulit untuk diungkapkan Zi, disini sakit” Za menunjuk dada kirinya menggunakan tangan gadis itu. Tak kuasa air mata gadis itu pun meleleh

__ADS_1


“Tapi rasa tak percaya diri itu mengubur rasa sakitku perlahan, sedikit demi sedikit, hingga aku lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan sekelumit deadline pekerjaan yang membuatku lembur hampir setiap hari. Aku berusaha kuat menghadapi kenyataan, sampai saat Rizky memintaku hadir di acara pernikahan kalian. Aku meminta kekuatan kepada Tuhan yang beberapa tahun lalu aku tinggalkan”


Tanpa diduga air mata pria itu menetes, Zi yang untuk pertama kalinya melihat air mata suaminya menghapus dengan kedua tangannya, kemudian menangkup wajah tampan itu


“Maafkan Zi ya Kak” dan untuk pertama kalinya Zi mengecup bibir pria itu, setelah pengakuan cinta yang pria itu utarakan. Mereka saling menatap dengan perasaan yang sama-sama membuncah karena rasa bahagia


“Aku cinta kamu Zi” gadis itu kembali meneteskan air mata


Kamu kenapa jadi cengeng begini sih Zi. Batinnya sendiri


Kali ini Za yang mendekatkan wajahnya, pada gadis yang saat ini ada di pangkuannya. Mencium bibir gadisnya lembut semakin lama, ciumannya berubah menjadi ciuman yang menuntut.


Za melepaskan pagutannya, menatap kembali wajah gadis yang ia cintai mengusap pipinya lembut, lalu membawa gadis itu ke atas singgasana mereka.


*****


Satu minggu kemudian proses pengerjaan renovasi ruangan Za telah rampung, mengingat luasnya yang memang tak terlalu besar ditambah jumlah pekerja yang banyak dan sigap membuat proses pengerjaannya jauh lebih cepat.


Zi yang baru menyelesaikan makan siang dengan teman-teman kantornya, tanpa sengaja berpapasan dengan Lidya, Ibu mertuanya di Lantai 1. Zi menganggukkan kepalanya sedikit tanda hormat sama halnya dengan beberapa karyawan lain yang sudah mengetahui jika Beliau adalah Ibu dari CEO mereka.


Saat kembali ke meja kerjanya, perasaan Zi tak karuan khawatir dengan apa yang terjadi ruangan atasannya.


Tumben sekali Mamanya Kak Za datang kesini, semenjak aku menginjakkan kaki di Perusahaan ini, ini pertama kalinya aku melihat Tante datang.


Apakah Beliau ingin membahas mengenai pekerjaan, atau membahas mengenai pernikahan kami yang harus diakhiri.


Saat Zi masih berkutat dengan pikiraannya sendiri, tak lama sebuah pesan masuk


📩 Keruanganku sekarang ya, minta tolong buatkan kopi boleh? Ada Mama juga disini


Zi yang mulai bingung, apakah harus benar-benar naik atau tidak, dia tak siap untuk kembali mendengar penolakan Ibu Mertuanya.


Saat pintu lift yang ia naiki terbuka, tak berselang lama, lift khusus VIP terlihat baru saja menutup, sepertinya Silvi yang baru saja turun, karena gadis itu sedang tak ada di mejanya kali ini.

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam, dan terdengar jawaban dari dalam Zi memberanikan diri untuk masuk dengan langkah perlahan. Lidya menatap gadis yang baru saja memasuki ruang kerja anak sulungnya dengan tatapan tak suka.


Saat Zi mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan Ibu mertuanya, Lidya memilih beranjak segera pergi meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2