
Sang Ibu memastikan keputusan anaknya dengan tatapan tak percaya mengingat anak sulungnya ini sudah hampir memasuki usia kepala 3 dan sudah menyatakan keseriusannya untuk meminang seorang gadis.
Berbeda dengan tanggapannya beberapa tahun lalu yang nampak seakan masih setengah hati untuk melangkah ke arah yang lebih serius.
Semenjak pertemuannya tadi siang, wajah Zi semakin sulit hilang dari benak seorang Aldi, seolah tak ingin pergi dari pelupuk matanya.
Tak perlu waktu lama, Bu Laila langsung menghubungi Zi dan menyatakan maksudnya untuk yang kedua kali, berharap saat ini gadis itu telah merasa siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kali ini suara dosen kesayangannya itu kembali terdengar sangat serius.
Zi bingung harus menyampaikan apa saat itu, jika harus menunda kembali salah satu Sunnah Rasul itu rasanya tak baik, toh Tahun ini Zi sudah menginjak usia 24 Tahun.
Syukurnya Bu Laila tak terburu-buru meminta jawaban Zi, karena ini bukan hal yang mudah untuk diputuskan bukan. Mengingat masa depan yang hanya ingin terjadi sekali dalam seumur hidup.
Ya Robb, apakah memang ini saatnya aku memikirkan seorang pendamping? Memilih pendamping bukankah lebih sulit dari aku memilih teman mana yang akan aku jadikan sahabat bukan. Ayolah Zi tentu saja hal itu sangat berbeda, berusalah serius kali ini memikirkan calon imammu.
Saat Zi masih berkutat dengan pikirannya, tak lama berselang Zahra pun menghubungi gadis itu, mengatakan bahwa ia ingin bertemu Zi weekend ini sambil melepas rindu. Tak perlu waktu lama Zi langsung mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
Weekend pun tiba, mereka janji bertemu di sebuah mall, menemani Zahra mencari beberapa barang, mengobrol ke sana kemari, saling berpelukan, bertukar kado yang dengan sekali tak ada dalam rencana, menceritakan keluarga, pengalaman awal mereka masuk kerja dan hal-hal seru lainnya.
Hingga akhirnya menjelang sore hari, mereka memilih makan di sebuah café di dalam mall tersebut. Zahra akhirnya menyampaikan maksud utama dia mengajak Zi bertemu sore itu, selain memang karena dia sudah sangat rindu.
“Jadi bagaimana Zi, sekarang kamu sudah siap menikah?” Zahra memulai lagi pembicaraan mereka
“Hm.. Zi juga bingung kak, dibilang siap sepertinya belum, dibilang belum, usia Zi sekarang sudah 24 juga. Kakak sendiri bagaimana?”
__ADS_1
“Kalau kakak Insya Allah sedang proses Zi, tinggal menunggu masa ta’aruf satu Bulan lagi, sampai kami mengambil keputusan untuk lanjut atau tidak”
“Masya Allah semoga dimudahkan ya Kak niat baiknya, sebenarnya baru tadi malam ada yang mengutarakan niat untuk langsung melamar Zi Kak” ucap Zi sambil tertunduk
“Oh ya siapa Zi, Kakak kenal?”
“Kak Aldi anakny Bu Laila Kak” Zi tampak semakin bingung
“Lalu Zi sudah mengambil keputusan?”
“Ya belum lah Kak, Zi juga tak begitu kenal dengan Kak Aldi, Bu Laila memberi Zi waktu sampai Zi siap untuk memberikan jawaban" Zahra merasa ini benar-benar waktu yang tepat baginya menyerahkan CV Rizky.
“Sebenarnya Zi, ada seseorang yang bermaksud untuk melakukan proses ta’aruf denganmu. Dia meminta tolong kakak untuk menjadi perantara diantara kalian, ini kakak serahkan CV nya tapi dibukanya nanti saja ya saat kamu sudah sampai di kosan”.
Ya Robb ujian apa lagi ini, sepertinya ini akan jadi ujian tersulit dihidupku. Pria-pria ini tiba-tiba melamar, padahal Zi tak pernah membuka lamaran sekalipun, Ish.. aku lupa ini kan bukan lowongan pekerjaan. Tapi bagaimana mungkin , aku saja masih mempertanyakan apakah aku sudah layak untuk mendampingi seorang pria atau belum sama sekali.
Sebenarnya Zi sudah tak sabar ingin membuka amplop coklat itu saat ia berada di dalam taxi online. Tapi ia mencoba menahan diri, bersabar untuk membukanya nanti dengan situasi yang lebih tenang.
Saat ini Zi lebih memilih memandangi pemandangan kota besar itu dari balik mobil yang hendak membawanya kembali.
Zi menunaikan sholat maghrib dilanjutkan tilawah sambil menunggu waktu Isya tiba.
Setelah selesai berdzikir, akhirnya Zi memutuskan untuk membuka amplop itu, tanpa melepas mukenanya.
__ADS_1
“Bismillaahirohmaanirrohiim” Zi terbelalak saat melihat nama yang tertera di biodata itu.
“Kak Rizky?! Mana mungkin?”
Zi membaca dengan seksama semua informasi yang ada di dalam kertas 4 lembar itu. Begitu detail dan jelas berisi identitas pada umumnya, informasi keluarga, karakter, hal yang disukai dan tidak, hobi, sakit yang pernah atau sedang diderita.
Bahkan di sana diceritakan bahwa dahulu Rizky adalah seorang pria yang jauh dari Penciptanya sama seperti Za, tapi saat Rizky menginjak kelas 3 SMU, dia mulai berubah sedikit demi sedikit mendekat pada Robb pencipta langit dan bumi.
Malam itu menjadi malam panjang bagi seorang Zidna Ilma, tak pernah terbayangkan dia akan memikirkan calon imam di usianya saat ini. Zi sadar saat ini dia belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Selama satu Tahun Zi baru bisa mengirimkan uang rutin bulanan kepada orang tuanya, belum bisa lebih dari itu, meskipun uang yang dikirimkan sepertiga dari gaji yang ia dapatkan.
Bahkan Zi masih sangat ingat saat ia menyerahkan seluruh gaji pertamanya. Ibu dan Ayahnya menangis tersedu-sedu dalam video call tersebut, tentu saja hal itu tak pelak membuat Zi ikut berderai mendengar penuturan dan do’a yang begitu panjang dari kedua orangtuanya.
“Bagaimana mungkin Nak, kamu menyerahkan semua uang gajimu, bagaimana kehidupanmu nanti di sana?” Pertanyaan itu masih terngiang di telinga Zi. Zi meyakinkan bahwa dia masih memiliki tabungan dari sisa uang beasiswa yang sebisa mungkin dia atur untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.
Zi tak akan pernah ada di titik ini, jika bukan karena do’a tulus mereka. Zi tak mungkin akan menjadi pribadi yang tangguh, jika di usia 11 Tahun Ayahnya tak mengalami kebangkrutan, Zi tak akan menjadi pribadi yang seperti ini jika bukan Allah dan kedua orangtuanya yang selalu menjaga dan membimbing.
Jadi sungguh tak berlebihan jika saat ia akan melangkah ke bagian hidup yang jauh lebih serius seperti sekarang, yang pertama kali ia ingat adalah orangtuanya.
Ahad paginya Zi memutuskan untuk menghubungi dua orang yang paling ia sayangi itu. Tanpa diduga ayah hanya mengatakan,
“Nak.. anak Ayah sudah besar, sudah dewasa, sudah tumbuh menjadi anak yang bertanggungjawab akan hidupnya, jangan pikirkan kami, karena kami akan jauh lebih bahagia saat melihatmu bahagia dengan hidupmu"
"Jadi pilihlah calon imam yang solih, jangan jadikan kekayaan dan wajah rupawan sebagai tolak ukur utama, jadikan ia hanya sebagai bonus yang Allah titipkan untuk kamu dan calon suamimu jaga kelak.”
__ADS_1