Hanya Zi

Hanya Zi
Rasa Sepi


__ADS_3

Silvi sedari tadi selalu tampak di samping Bos nya, seolah takut Bos nya itu akan dilirik wanita lain, dan di sana Zi mulai menyadari gelagat-gelagat yang mencurigakan, saat Silvi yang berpura-pura terjatuh dan langsung mendapat pertolongan Rio sedangkan Za yang masih dengan tampang cueknya dan hanya mengatakan


“Hati-hati Sil”


“Ya Pak maaf” terlihat wajah Silvi yang tampak merengut seolah tak suka pada perlakuan Za yang diluar ekspektasi. Zi yang melihat itu dari jauh tersenyum


Ada untungnya juga punya suami cool, tapi kalau kelewat cool istrinya yang akan kelimpungan sendiri. Eh istri? Tentu saja aku istrinya, meskipun mungkin hanya istri sementara, karena aku bukan wanita yang berhak memilikinya. Tapi Please belajarlah Pak untuk memperlakukanku berbeda, Zi sepertinya dirimu terlalu berharap banyak


Setelah selesai dengan pekerjaan mereka, merekapun kembali ke hotel, karena hari itu hari Jum’at suasana di sana nampak sedikit ramai dibanding hari biasanya. Sebelum memasuki kamar masing-masing terdengar obrolan antara Silvi dan Bos nya itu


“Pak, nanti malam bagaimana kalau kita pergi keluar berjalan-jalan sambil mencari makanan enak disini, mumpung cuaca sedang bagus”


“Kalian pergi sajalah, saya sepertinya lelah” Za segera memasuki kamarnya, dan Silvi terlihat mengerucutkan bibirnya. Mereka menginap dengan kamar yang terpisah, untuk menjaga privacy katanya, toh anggaran dari kantor lebih dari cukup untuk perjalanan mereka kali ini.


Akhirnya Silvi, Rio dan Iqbal mereka memilih untuk memanfaatkan perjalan mereka kali ini, daripada diam di kamar, sungguh rugi. Zi memutuskan untuk tak ikut, karena dia pun merasa lelah mengejar deadline pekerjaan selama sebulan terakhir ini. Hingga tak lama handphone nya berbunyi


“Ayo kita keluar” Zi terperangah


“Bukannya capek?”


“Jadi tak mau?”


“Baiklah Pak, saya siap-siap dulu”


Za sudah menyewa sebuah mobil, dia akan membawa istrinya menikmati malam indah itu di sebuah restoran di atas bukit, tanpa ada yang mengganggu.


Zi malam itu tampak benar-benar seperti anak muda karena mengenakan baju casual tak seperti biasanya, dia mengenakan rok jeans berwarna putih, kaos baby pink serta sweater selutut berwarna putih dengan hijab berwarna baby pink, sungguh manis sekali, tampak seperti seorang gadis yang sedang kasmaran.


Dia yakin istrinya akan menyukai pemandangan ini, karena resto dan pemandangan di bawahnya dipenuhi lampu.


Mereka memilih makan di lantai 2 dengan konsep tempat makan yang terbuka tanpa atap, sehingga mereka akan dengan leluasa memandang bintang di langit, dan pemandangan yang ada di bawahnya.


Pak, ternyata anda mulai pandai membuatku bahagia. Pemandangan ini menakjubkan, aku tak pernah menikmati waktu luangku untuk berjalan-jalan ke tempat indah seperti ini.

__ADS_1


Makanan pun tiba, mereka memilih menu ikan bakar, dan sop iga yang bisa menghangatkan tubuh mereka. Zi memilih untuk memakan ikannya terlebih dulu, dia celingak-celinguk mencari sesuatu


“Ahhh.. itu dia”. Ternyata dia mencari wastafel untuk cuci tangan. Gadis itu memilih makan dengan tangannya langsung


“Tak ribet?” Zi menggeleng, kemudian dia teringat sesuatu


“Pak coba buka mulutnya”


“Untuk apa?”


“Melakukan tugas istri” Za tampak berfikir.


Setelah melihat Zi sedang memegang makanan di ujung tangannya, dia mulai faham dan segera membuka mulutnya.


Ternyata benar yang gadis itu katakan, makan dari tangan orang yang kita kasihi terasa jauh lebih nikmat


“Lagi” Pinta Za, dan istrinya itu hanya tersenyum bahagia


“Aku suapi Bapak saja ya, aku merasa sudah kenyang melihat Bapak makan dengan lahap begini” Untuk pertama kalinya Za tersenyum pada gadis itu, tampan sekali.


Dan malam itu Za benar-benar disuapi oleh istrinya hingga ikan bakar itu tandas tak bersisa.


“Sekarang aku yang akan menyuapi mu” Za mengambil nasi dan kuah sop, yang awalnya Zi tolak tapi melihat mata suaminya itu yang berubah seram dia langsung membuka mulutnya.


“Terimakasih Pak, sudah cukup biar Zi makan sendiri saja ya” Zi memohon karena sudah tak sanggup menahan degup jantungnya.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, Zi kembali berdiri ke samping resto itu menikmati kembali pemandangan yang tersuguh di sana.


Za pun mengikuti jejak istrinya itu dan berdiri di sampingnya. Zi mulai memecah keheningan


“Pak, Kak Silvi cantik ya?”


“Hm…”

__ADS_1


“Sepertinya Kak Silvi menyukai Bapak”


“Ya.. sepertinya” Za pernah mendengar hal itu dari kawan-kawan kampusnya, tapi selama ini sikap gadis itu masih dalam taraf normal sehingga tak begitu risih mempekerjakannya. Terdengar Zi sedang menarik nafas


“Apakah Bapak pernah menyukai seseorang?”


“Pernah” Zi yang tampak terkejut segera menghadapkan wajahnya pada pria yang ada di sampingnya


“Siapa Pak?”


“Teman SMA ku, tak bertahan lama karena perasaan itu tiba-tiba hilang karena sesuatu” Zi tampak manggut-manggut


“Apakah sejak dulu Bapak memang selalu bersikap dingin pada wanita?”


“Ya sejak SMA” Za terlihat menarik nafasnya.


“Tanpa aku sadari semakin aku beranjak remaja, entah kenapa sikap gadis-gadis yang berada di dekatku mulai berubah. Mereka satu persatu menunjukkan ketertarikannya dengan sikap yang berlebihan, lama-lama aku pun merasa jengah tak suka dengan hal itu".


"Hingga aku mengenal seorang gadis yang berbeda di sekolahku, dia cantik, cerdas tidak agresif dan aku mulai menyukainya”


Zi mulai menunjukkan wajah tak sukanya, mengetahui pria itu pernah menyukai seseorang"


“Orang-orang tak pernah tahu, akan kesulitan hidup yang aku alami. Mereka hanya melihat dari tampak luar saja, hanya Rizky yang tahu kehidupanku yang sebenarnya karena dia sahabatku sejak SMP".


"Sejak kecil aku terbiasa hidup bersama ART dan pekerja lainnya di rumah. Papa dan Mama selalu sibuk dengan bisnis dan urusan mereka. Sangat jarang meluangkan waktu untukku dan adik.”


“Hingga aku lebih memilih untuk mencari kesibukkan sendiri, karena perasaan sepi saat berada di rumah. Usiaku dan adik cukup jauh, dia lebih senang bermain dengan ART dan pekerja lainnya dibanding aku Kakaknya, hingga sekarang adik dibawa Mama dan Papa keluar negeri sekaligus melanjutkan pendidikannya"


"Jangankan mengingatkan anaknya sholat, mengajarkan atau mendatangkan guru les mengaji pun tak pernah, karena Mama Papa juga tampaknya tak pernah melakukannya”


“Pak Za senang melakukan apa?”


“Sejak SMA saya senang berolahraga main basket, sepak bola, belajar alat musik, beladiri, pokoknya kegiatan apapun yang positif yang tak merugikan diri sendiri. Hingga saat kuliah lebih banyak disibukkan dengan kegiatan organisasi, seperti yang kamu tahu”

__ADS_1


“Pak Za… Hm… Apa tak pernah terpikir untuk menikahi seorang gadis impian Bapak? Di kampus banyak sekali bukan gadis cantik, cerdas yang tertarik pada Bapak, lalu relasi-relasi bisnis Bapak banyak yang terlihat muda juga cantik dan tak kalah cerdas, pernahkah Bapak terpikir untuk menikahi salah satu dari mereka?”


__ADS_2