
Di dalam mobil, Zi tak bisa menahan untuk tak mengutarakan rasa ingin tahunya.
“Kak Za, sejak kapan motor merah itu Kak Za gunakan?”
“Sejak awal masuk kampus, kenapa memangnya?”
“Lama juga ya, Kak Za memangnya bukan tipe orang yang suka gonta ganti barang karena memiliki banyak uang?”
“Tidak, aku tak seperti itu, itu motor kesayanganku, kondisinya masih bagus, tak terlalu sering juga aku gunakan, jadi untuk apa diganti” Zi terlihat manggut-manggut
“Zi seperti tak asing dengan motor itu, apa kita pernah bertemu saat di kampus?”
Addduuh gawat, jangan-jangan dia mulai mengingat kejadian saat di depan gerbang kampus itu, saat untuk pertama kali aku memarahinya.
“Hm.. ya pasti sering lah, kita kan satu organisasi”
“Ihhhhh… bukan itu maksud Zi” Zi susah menjelaskan sebenarnya apa yang membuat dia penasaran dengan motor itu, dia lebih memilih untuk membuka kembali memory nya, memory yang untuk mengingat beberapa hal selalu terbatas.
Mereka keluar dari mobil dengan menggunakan masker dan kacamata hitam, Za terlihat gagah dengan penampilan seperti itu, meskipun tanpa memperlihatkan wajahnya siapapun yang melihat akan menerka bahwa wajah dibalik masker itu, pasti bukan wajah standar orang Indonesia haha.
Zi yang tak pede dengan kacamatanya, memperhatikan penampilannya beberapa kali di spion mobil
“Kak Za, bukankah ini aneh?”
“Tidak, kamu tetap cantik” Zi mendelik tak percaya dengan kata-kata suaminya sendiri. Tangannya segera digenggam suaminya yang terlihat lebih semangat dibanding saat dia baru pulang dari rumah orangtuanya tadi siang.
Apanya yang cantik, sudah seperti agen penculik begini
Melihat mall ini, Zi teringat challenge yang diberikan Bos nya dulu pada Zi dan kawan-kawannya saat membuat bingkisan untuk anak yatim dan dhuafa
“Hey suami” Zi mencolek lengan suaminya. Za yang terheran-heran mendengar panggilan gadis itu menoleh dengan menautkan alisnya
“Anda tak berniat bertanding denganku kali ini?” Za mulai melipat kedua tangannya di depan dada
“Pertandingan apa yang kamu inginkan?” Suaranya terdengar mengintimidasi
__ADS_1
“Berbelanja secepat dan setepat mungkin” Zi terlihat percaya diri sama-sama melipat kedua tangannya di depan dada
“Oke tak masalah, lalu nanti barang belanjaan kita jadi dua kali lipat dari biasanya begitu maksudmu?”
“Nanti kita berikan saja separuh barang belanjaan kita, pada mereka yang kita lihat membutuhkan saat perjalanan pulang nanti. Bagaimana, Anda tidak akan bangkrut kan?”
“Oke, lalu pemenangnya akan mendapatkan hadiah apa? Zi tampak berfikir. Sebelum gadis itu mengeluarkan suara pria disampingnya dengan segera bersuara
“Kalau kamu kalah tiga kali, kalau kamu menang satu kali” Za berbicara dengan pedenya
“Hah maksudnya?” Tanya Zi tak faham
“Meeting di atas kasur” Ucap Za berbisik
“Ish, itu enak di Anda Tuan, apa bedanya aku sama-sama kau siksa”
“Oh jadi hanya aku yang menikmatinya, jadi selama ini aku menyiksamu?” Za terlihat hendak meninggalkan Zi di pintu masuk supermarket itu
“Ehhh tidak tidak, bukan begitu maksudnya sayang” Zi menarik tangan suaminya yang terlihat merajuk
“Tidak tadi itu keceplosan, nanti aku fikirkan hadiah buatku ya”
“Oke, kalau aku menang aku minta 4” Zi menepuk dahinya merasa terjebak dengan permainan yang ia buat sendiri.
“Suami, karena kakimu lebih panjang, Please mengalah sedikit padaku ya ya ya.. “ Za terlihat menggeleng dengan mantap. Mereka memulai permainannya, tugas mereka mengingat kebutuhan bulanan suami istri lalu kebutuhan untuk isi kulkas dan dapur.
Di tengah Za memilih-milih barang, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria yang sama-sama sedang memilih barang.
“Eh maaf” Za membantu mengambil barang pria di depannya. Za sedikit terkesiap, karena pria itu terus memandangnya
“Anda Pak Za?” Tanya Leo karyawan Za untuk meyakinkan penglihatannya.
“Sepertinya Anda salah orang, silahkan lanjutkan kembali, saya permisi” Za segera beranjak sebelum pria itu semakin menyadari keberadaannya. Za berjalan menjauh dari posisi anak buahnya tadi, sambil menarik nafas lega.
Zi yang sedang memilih buah dan sayur tanpa sengaja juga menabrak pria yang tiba-tiba ada di depannya.
__ADS_1
“Maaf saya tidak sengaja” Ucap pria itu sambil menatap gadis di depannya. “Kamu Zi?”
Astaghfirullohal’adzim, kenapa dia ada disini, ya iyalah Zi, kenapa memangnya tak boleh?
Zi memilih untuk tak menjawab pertanyaan Leo yang saat ini berada di depannya
“Hallo kamu Zi bukan?” Leo masih penasaran, tapi gadis itu tak bergeming tak menjawab pertanyaannya.
“Permisi saya mau lewat” Ucap Zi dengan merubah suaranya sehingga terdengar sedikit aneh
Kenapa dia tak menjawab pertanyaanku? Apa mungkin dia tunarungu, tapi kenapa suaranya terdengar seperti tikus kegencet begitu, terdengar seperti suara yang dibuat-buat. Batin Leo
Zi segera pergi meninggalkan Leo yang masih terlihat bingung. Akhirnya Zi dan suaminya bertemu di kasir dengan waktu yang bersamaan. Zi berbisik pada suaminya, bahwa tadi dia bertemu Leo sambil sesekali melirik ke belakang, tak disangka Za pun menceritakan hal yang sama.
Mereka memilih untuk segera pergi meninggalkan supermarket itu, dengan menitipkan barang belanjaan mereka dulu di sana. Khawatirnya jika mereka langsung menyimpannya ke dalam mobil, Leo yang kepo nya sedikit absurd akan menyadari bahwa mereka benar-benar orang yang Leo kenali.
Za segera menggenggam jemari istrinya menaiki eskalator hingga ke Lantai 4. Za berniat membelikan beberapa barang yang Zi perlukan, tapi gadis itu menolak karena baju yang ia kenakan masih layak pakai, begitupun tas dan sepatu dia belum memerlukannya saat ini.
Alhasil karena Za masih ingin berlama-lama dengan istrinya, ia mengajak Zi ke restoran Sushi favorit pria itu.
“Kak Za, Zi masih kenyang kita bawa pulang saja ya”
“Kita makan dulu saja sedikit ya, aku masih ingin berlama-lama disini dengan istriku” Za kembali menggenggam jemari istrinya, yang saat ini duduk di hadapannya.
“Iya tapi ini Zi mulai tak nyaman dengan kacamatanya, sejak tadi melorot-melorot terus, sepertinya kemiringan hidung Zi tak cocok dengan kacamata ini” Za yang mendengarnya terkekeh
“Maksud kamu, hidungmu kurang mancung?”
“Isssh… senang sekali mengejekku pesek, ya baiklah Bapak tampan yang memiliki hidung perosotan puas-puaslah seharian dengan kacamatamu itu” Zi yang melepaskan kacamatanya, tanpa sengaja melihat ke arah pintu masuk, ternyata Leo masih mengikuti mereka
Anak itu benar-benar tingkat keponya mengalahkan emak-emak garis keras
Zi berbisik pada suaminya memberitahukan kedatangan Leo yang terlihat masih penasaran dengan dua orang yang tadi ia tabrak. Melihat situasi ini, Za mulai gusar, tapi ia masih ingin berlama-lama di Mall itu dengan istrinya. Za mulai meluncurkan aksinya
“Sayang, kamu ingin punya anak berapa?” Za terdengar sedikit mengeraskan suaranya dengan suara yang dibuat-buat sedikit nge Bass, supaya terdengar oleh Leo yang berada tak jauh dari meja meraka. Di mulai menciumi tangan istrinya
__ADS_1