
Za memandang gadis yang saat ini sedang berceloteh, entah berceloteh tentang apa, yang jelas dia sama sekali tak memperhatikan gelas yang sedang gadis itu pegang juga apa yang sedang dia katakan.
“Tak susah bukan?” Zi menoleh, menyadari pria itu sejak tadi tak memperhatikan penjelasannya.
“Pak Za ihhh” wajah gadis itu memerah antara malu dan kesal.
“Jadi sungguh tak mau mendapatkan pahala dari membuatkan ku kopi?”
“Pak Za plissss, pekerjaan Zi banyak”
“Hanya lima menit saja bukan?”
“Lima menit apanya, Bapak selalu memberikanku tugas tambahan” Zi semakin sewot
“Jadi tidak ikhlas, salah satu tugas seorang istri adalah……”
“Stop!” Zi mengangkat tangan kanannya meminta pria itu berhenti, karena ia tahu kali ini ia yang akan diceramahi
“Baiklah Bapak CEO yang baik hati dan tak suka usil, izinkan hamba kembali menyelesaikan pekerjaan agar tak membuat perusahaan Anda bangkrut ya” Zi mengerjap-ngerjapkan matanya lucu.
Za yang memandangnya gemas, hendak mencubit pipit gadis itu, tapi terlambat karena Zi sudah melangkah menjauh darinya.
Ide usilnya kembali muncul, Za menarik tangan gadis itu, lalu mencium punggung tangan kanan Zi sambil berkata
“Terimakasih ya cantik”
Apa, tadi dia bilang apa? Tadi dia memanggilku cantik? Sepertinya esok aku akan memberikannya hadiah kacamata rabun senja. Atau dia keracunan kopi yang tadi aku buat? Sungguh aku tak memasukan ilmu pelet atau jampi-jampi apapun ke dalam sana.
Wajah gadis itu memerah, sungguh jelas terlihat di kulit putih Zi. Pria itu suka sekali memandang wajah gadis itu saat sedang memerah menahan malu, semakin memancarkan kecantikannya.
Saat mereka masih saling bertatapan, suara ketukan pintu terdengar, Zi dengan segera menarik tangannya dari pria itu. Ternyata Silvi yang hendak masuk, Zi beranjak keluar sambil menganggukkan kepalanya pada sekretaris Bos nya itu tanda hormat.
Berbeda dengan Silvi ia tampak bertanya-tanya melihat wajah Zi yang terlihat sedikit merah.
Panggilan kedua, Za meminta gadis itu membawa laporan progress project mereka di Jogjakarta. Kali ini Zi tampak bersemangat, karena panggilannya kali ini benar-benar panggilan professional tentang pekerjaan, bukan tentang kopi atau hal pribadi lainnya.
Saat Zi akan mulai menjelaskan progressnya
“A’udzubillahi minasyaitoonirrojiim”* Pelan, tapi terdengar jelas di telinga atasannya
“Kamu sedang berlindung dari syaitan yang mana?”
__ADS_1
“Syaitan yang suka usil” jawab gadis itu cuek. Za yang merasa tersindir mencoret lengan gadis itu dengan ballpoint nya sedikit
“Ihhh Pak Za, kotor” Zi mulai menggosok-gosok tangannya untuk menghilangkan noda tinta tapi tetap tak hilang hanya memudar sedikit, gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya cemberut.
“Jangan berani-berani baca lirik lagu dangdut lagi ya kamu” Zi terkekeh ternyata pria itu telah mengetahui efek jangka panjang dari jasa tetangganya itu.
Kali ini pria itu benar-benar sedang professional, dia mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di jelaskan gadis yang telah mengobrak-abrik hatinya ini.
Setelah perbincangan mereka selesai
“Sini aku bantu bersihkan tanganmu”
“Maaf Pak tak perlu, saya takut nanti ada syaitan yang lain muncul.
Assalaamu’alaikum” Zi langsung berjalan cepat meninggalkan meja atasannya itu, takut jika pria itu akan kembali mengusili nya.
Za tersenyum memandang punggung gadisnya dengan hijab yang melambai menambah keanggunan gadis itu.
Panggilan ketiga, pria itu kembali meminta Zi membuatkan kopi Pukul 5 sore, karena ia akan kembali lembur, tapi Zi dengan galaknya menjawab sambil sedikit berbisik karena yang Za gunakan sebagai panggilan adalah telepon kantor
“Tidak boleh, cukup satu cangkir kopi 1 hari, segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik”
"Tapi…..” belum selesai Za berargumen, gadis itu dengan segera menutup teleponnya
Zi keluar dari lift melangkah menuju ruangan atasannya itu dengan langkah gontai. Saat itu sudah menunjukkan pukul 9 Malam. Silvi dan karyawan lainnya sudah pulang meninggalkan kantor, hanya tersisa gadis itu dan Bos nya
“Ada apa lagi Pak?” Zi masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam sama sekali. Pria itu hanya menatapnya sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hari ini Anda benar-benar mengerjai ku Pak
Zi yang sudah mulai lelah karena pekerjaan hari ini mendudukkan badannya di sofa panjang sebelah kanan milik pria itu. Menatap Bos nya yang masih tak bergeming, sambil membereskan meja kerjanya.
Zi menutup matanya, menikmati suasana yang mulai terasa nyaman di ruangan itu. Tak lama tercium wangi teh hangat dengan aroma chamomile* tak jauh dari posisi duduk Zi
“Minumlah” perintah pria itu, Zi yang takjub segera membenarkan posisi duduknya yang sedang menopang dagu sambil memejamkan mata.
“Terimakasih banyak Pak” gadis itu tersenyum tulus, menyeruput teh hangatnya perlahan. Za memilih untuk duduk di hadapan Zi sama-sama berada di sofa panjang.
Kenapa saat berada dengan klien wanitamu, posisi mu tak seperti ini saja sih, ini jauh lebih aman bukan, kenapa kecerdasan Anda itu munculnya hanya kadang-kadang saja. Ups…
Zi menutup mulut dengan tangannya tanpa sadar
__ADS_1
“Pasti ini teh mahal ya Pak, berbeda dengan yang biasa Ibu beli” Za tak menjawab pertanyaan gadis itu, memilih untuk kembali menikmati teh nya sambil menatap wajah cantik yang sedang kelelahan di hadapannya.
Tiba-tiba gadis itu merindukan suasana rumah dan kampungnya
“Pak Za pernah merasakan jalan kaki selama satu jam setiap hari?”
“Setiap hari sih tidak, paling hanya weekend”
“Ish… pasti itu jogging kan, bukan sengaja berjalan kaki?” Zi merengut, maksud gadis itu adalah benar-benar berjalan kaki karena tak memiliki uang untuk sampai di tempat yang dituju
“Pasti ini tak pernah, merasa bahagia yang teramat sangat saat menemukan uang recehan di dalam tas, laci atau bahkan lemari baju saat akhir bulan, atau saat uang saku mulai menipis, terasa seperti menemukan harta karun. Tak pernah kan?” Giliran pria di depannya yang menautkan alis
Maksud gadis ini apa?
“Bapak sepertinya merasakan bentuk rasa bahagia yang berbeda dengan Zi Si Upik Abu ini”
Gadis itu tersenyum faham dengan raut bingung pria di depannya.
“Makan dengan dua butir telur yang harus dibagi untuk tiga orang. Ayah dan Ibu yang sering mengalah untukku, agar mendapatkan satu telur utuh, agar anaknya ini jadi anak yang cerdas kebanggaan mereka”. Mata Zi mulai berkaca-kaca
“Rasa bahagia yang muncul di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, mungkin Bapak tak pernah merasakannya”
Bapak lagi Bapak lagi, sepertinya dia lulus cumlaude karena dekat dengan dosen-dosen di Kampus
“Pernah, aku pernah merasakannya”
Saat berada di rumahmu, aku merasakan rasa bahagia yang asing tapi sungguh indah
“Bapak merasakan bahagia saat apa?”
*
*
*
Bacaan Ta'awudz digunakan untuk memohon perlindungan kepada Sang Pencipta
Artinya : Aku berlindung Kepada Alloh dari godaan Syaitan yang terkutuk
((Jahat ya Zi suaminya dibacain ta'awudz gkgkgk))
__ADS_1
Chamomile adalah salah satu jenis bunga yang suka dijadikan obat herbal salah satu khasiatnya adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan meredakan stress