
"Sudah ih Ina, kamu tatap saja terus sampai mereka belok begitu, masih belum puas? Tenang kamu masih empat atau lima tahun disini, kalau perlu diperpanjang sana kuliahnya hobi sekali memperhatikan laki-laki”
Shinta mulai tak suka dengan Ina yang mulai centil
“Ih janganlah, jadi mahasiswa abadi gitu maksudnya enggak mau!, kamu saja Ta yang ada nanti aku dipaksa pulang kampung sama Bapak”
Zi membiarkan teman-temannya berargumen, karena batinnya masih menyesali apa yang tadi dia lakukan
Kenapa juga ya tadi aku memperhatikan mereka sampai segitunya, seperti terhipnotis dengan penampilan dan wajah pria-pria itu, yang memang sebelumnya tak pernah aku lihat, mana ketahuan lagi.. Ya Allah mudah-mudahan kejadian ini cepat-cepat dilupakan pria-pria itu wush wush menghilang lah menghilang sungguh memalukan!!!
MASA ORIENTASI KAMPUS
Sejak Subuh Zi, Shinta dan Ina sudah disibukan dengan merapikan tugas-tugas masa orientasi mereka, memastikan tak ada yang terlewat daripada terkena hukuman di depan Mahasiswa Baru lainnya, terbayang malunya akan seumur mereka selama di kampus.
Satu minggu ini mereka akan menghadapi masa orientasi kampus, Kelompok Ina karena berbeda Fakultas posisi kelompoknya sedikit jauh dibanding Zi dan Shinta.
Sedangkan Zi dan Shinta sendiri berbeda satu nomor urut kelompok, jadi tak terlalu susah memantau situasi atau mengirimkan kode saat mereka akan melaksanakan sholat bersama, karena mereka tak diperbolehkan memegang hp selama kegiatan berlangsung
Di hari pertama semua mahasiswa di kelompokkan berdasarkan fakultas, kemudian bebaris terpisah antara laki-laki dan perempuan di masing-masing kelompok, mengingat tugas-tugas yang diberikan banyak melibatkan kontak fisik sehingga dikhawatirkan ada pria-pria modus yang mencuri-curi kesempatan jika barisan pria dan wanita disatukan.
Aduh Ya ampun ternyata pria-pria kemarin anggota BEM semua, semoga benar-benar deh memory mereka wush wush. Tak mungkin juga kan mereka ingat dengan anak-anak baru seperti kita bertiga kemarin, anak barunya kan banyak begini juga, jadi rasanya tak mungkin ingat, iya kan... benar kan... Kabulkan Ya Allah kabulkan.
Zi mencoba menenang-nenangkan dirinya sendiri.
Wajah-wajah mereka saat ini terpampang jelas di depan, karena sedang dilakukan perkenalan anggota-anggoa BEM, yang menjadi panitia selama masa orientasi ini.
Setelah itu, masing-masing kelompok mulai menunjuk ketua serta sekretaris, terpilihlah Reno sebagai ketua dan Zi sebagai sekretaris.
__ADS_1
Alasan anak-anak kelompok mereka memilih Reno karena dia sering terlihat konyol jadi pandai menghidupkan suasana, sedangkan Zi karena dia gadis yang ramah belum saatnya perkenalan anggota kelompok, dia sudah lebih dulu menghafal nama teman-temannya, alasannya bukan terlalu rajin, tetapi karena ia punya kekurangan, sulit mengingat nama, sekalinya ingat jika jarang bertemu akhirnya wush wush lupa deh.
Hari Pertama, mereka lewati dengan suka cita, karena masih dalam tahap perkenalan panita, anggota kelompok dan tugas-tugas ringan lainnya.
Hari kedua, hari ketiga telah mereka lewati, berangkat pukul 5.30 karena jarak ke kampus yang tak terlalu jauh, kembali ke kamar kos tepat saat maghrib, dengan kegiatan padat, tugas kelompok yang berderet, belum lagi tugas individu yang tak kalah membuat pening kepala.
Dan malam itu Zi merasakan badannya yang mulai tak karuan.
Semangat Zi semangat, ini belum seberapa, tantangan di depan pasti lebih terjal lagi, tak apa pengalaman ini tak akan terulang dua kali, aku bahagia manjalani ini semua, meskipun saat ini badanku sedang tak berkompromi.
Keesokan harinya, yaitu hari Ke empat Masa Orientasi, saat ini menunjukkan Pukul 11 siang, Zi merasakan badannya mulai terasa aneh. “Ya Allah aku kenapa?” akhirnya Zi memutuskan meminta izin kepada panitia MOS di kelompoknya untuk istirahat sejenak di tenda medis.
Saat Zi sampai di tenda medis, gadis itu melihat kondisi disana cukup penuh, ternyata banyak juga kawan-kawannya yang drop menjalani kegiatan padat itu, Zi akhirnya mengurungkan diri untuk masuk, dan lebih memilih untuk menuju masjid kampus.
Saat Zi sedikit lagi sampai di teras masjid, pusing di kepalanya malah bertambah hebat, hingga akhirnya
Tubuh Zi nyaris terjatuh di jalan, tak sampai jatuh karna ada sepasang tangan kokoh yang menahannya. Pria itu menatap gadis yang saat ini dipegangnya
“Ya ampun ini anak pakai acara pingsan segala lagi, mana enggak ada orang lagi disini”
Untungnya tak lama dari waktu yang membuat bingung pria itu, Zahra sedang berjalan tak jauh dari posisi masjid. Pria itu berteriak
“Zahra.. Zahra..! Tolong kesini, ini ada anak MOS pingsan.”
Zahrapun segera mendekat, Zahra dan pria itu memutuskan membawa Zi ke tempat sholat wanita. Tak selang berapa lama, Zi pun sadar, setelah diberikan minyak angin oleh Zahra.
“Ya ampun Kak maaf, tadi Zi jatuh ya?” Zi mulai mendudukkan badannya, sambil sesekali mengerjap-ngerjapkan matanya, karena pusing itu masih belum sepenuhnya hilang.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, lagipula siapa juga yang mau sakit, kamu tadi belum sarapan ya? Terus kenapa kesini bukannya ke tenda medis saja?”
“Sudah Kak tadi Zi sudah sarapan, hanya memang dari semalam badan Zi sudah mulai berasa tak enak, terus tadi sudah ke tenda medis ternyata di sana juga banyak teman-teman lain yang tumbang, jadinya aku pilih kesini saja, aku pikir bakalan kuat ehh taunya kepala Zi tak kuat keleyengan sekali kak”
Zi bercerita sambil memegang pelipisnya.
“Oh ya sudah enggak apa-apa. Nih sekarang kamu makan dulu, terus nih minum obat sama vitaminnya ya”
“Ya ampun Kak makasih banyak, Zi jadi enggak enak malah merepotkan orang seperti ini. Tadi kakak pasti berat ya gendong Zi” Zahra Pun tertawa
“Ya kali aku kuat gendong kamu, tadi teman Kakak yang bantuin gendong kamu, malah makanan sama obat ini juga tadi dia bawa langsung dari tenda medis”
“Siapa Kak? Laki-laki perempuan? Zi mau ngucapin makasih” Zi mulai penasaran
“Orangnya enggak mau kamu tahu, tadi dia titip pesan katanya kalau kamu nanya enggak usah bilang-bilang takutnya jadi riya”
Padahal tadi dia bilangnya, enggak usah bilang gue yang gendong ya Zahra nanti perempuan ini baper lagi, pede banget ya itu orang. Batin Zahra
Tapi satu hal yang membuat gadis berhijab lebar ini cukup terheran-heran, saat pria itu tak segan-segan menunjukkan sikap konyolnya pada Zahra, tak seperti pada gadis lainnya.
Sudah diingatkan beberapa kali masalah panggilan pun dia tak menggubris sama sekali. Berbicara dengan perempuan masih dengan loe gue, tak ada lembut-lembutnya sama sekali.
Pernah suatu kali saking sebalnya Zahra hampir menimpuk pria itu dengan buku yang ia pegang. Jika tak ingat dengan harus menahan amarah sepertinya hal itu sudah ia lakukan sejak dulu. Suara Zi membuyarkan lamunan Zahra
“Oh begitu, iya enggak apa-apa Kak, minta tolong sampaikan terimakasih saja ya Kak sama orangnya, maaf kuliah belum mulai Zi sudah mulai merepotkan orang”
Ucap Zi sambil tersenyum.
__ADS_1
“Oh iya Kak tadi waktu pengenalan kegiatan mahasiswa kakak aktif di Rohis ya Kak? Zi mau ikut dong Kak, biar bisa kaya kakak Adeeemmm gitu lihatnya”