Hanya Zi

Hanya Zi
Obsesi Silvi


__ADS_3

“Cieee.. sayang” Ina mulai iseng lagi, tapi melihat tatapan tajam pria itu dengan segera Ina membalikkan badannya karena ngeri.


“Tapi Kak Za nanti balik lagi kesini kan?”


“Iya dong, aku tinggal sebentar ya” Za mengecup dahi istrinya “Shinta, Ina makasih ya, sudah mau datang kesini, saya titip Zi sebentar”


“Sama-sama Kak lama juga enggak apa-apa” Shinta dan Ina sudah tak sabar ingin berbagi cerita dengan sahabatnya satu ini


Setelah Za pergi perbincangan pun kembali terjadi


“Jadi sebenarnya gimana ceritanya kalian bisa tahu aku disini?” Zi kembali bertanya-tanya, karena disitu hanya ada 1 kursi lipat, Shinta duduk di kursi sedangkan Ina naik, duduk di ranjang bersama Zi


“Tadi Kak Za telepon aku Zi, ngasih tahu kalau kamu dirawat disini, dia minta tolong aku temenin kamu, jadi aku ajak Ina deh sekalian melepas rindu kan”


“Oh pantas aja tadi Kak Za pinjam Hp aku”


“Sebenarnya kamu sakit apa Zi?” Ina mulai kepo, Zi menceritakan semua kejadian yang terjadi siang itu, juga sikap Silvi yang mulai berubah akhir-akhir ini


“Astaghfirulloh jahat banget siiihhh… ihhh gemes deh ganjen banget jadi cewe” Ina mulai tak bisa menahan emosi”


“Jangan-jangan Kak Za ke kantor untuk menemui Silvi lagi Zi” Zi terlihat merenung sepertinya apa yang dikatan Shinta benar.


Di Kantor Hartono Grup


Jam kantor setengah jam lagi akan berakhir, Za terlihat mempercepat langkahnya menuju ruangan paling atas di gedung itu


“Silvi masuk ke ruangan saya!” gadis itu terlihat enggan, tapi ia tak ada pilihan, padahal jika pria itu tak datang baru saja dia akan meninggalkan mejanya untuk pulang


“Mau kamu apa Hah???! Kamu memasukan obat aneh ke minuman saya, kamu mencelakai istri saya hingga dia keguguran, dan saya yakin saat kemarin ibu saya datang, kamu yang memasukkan obat tidur ke kopi saya, iya kan??!"


“Jawab Silvi, jangan diam saja!” gadis itu masih belum menjawab, karena ia pun sedikit terkejut, mengetahui kenyataan bahwa tragedy tadi siang menyebabkan gadis itu kehilangan calon bayinya.


“Mutasi atau resign? Putuskan sekarang!”


“Aku akan pergi Za, jika itu membuatmu puas”

__ADS_1


“Baik, segera hubungi HRD aku akan memberikanmu pesangon”


“Za, apa kamu sama sekali tak mengerti perasaanku, bertahun-tahun aku menunggu kamu membuka hati, kamu bahkan tak menganggap kebaikanku selama ini”


“Justru karena aku menganggap kamu sedikit berbeda dari gadis-gadis agresif di luar sana, aku memilihmu menjadi sekretaris ku. Tapi apa, aku salah, semakin hari kamu semakin aneh, penampilanmu semakin tak karuan, apalagi sikap tak masuk akal mu yang membuat aku semakin tak menginginkanmu di sini”


“Kamu jahat Za”


“Dulu aku mencoba menutup telinga, saat teman-teman kampus kita mengatakan kamu menyukaiku, karena sikapmu selama ini baik. Sadar Silvi, sadar, aku telah menikah kamu hanya terobsesi, kamu bisa mendapatkan pria baik di luar sana, yang benar-benar mencintai kamu”


“Aku maunya kamu Za”


“Sudah cukup, silahkan kamu pergi, terimakasih atas bantuan mu selama ini”


Gadis itu berlalu dengan air mata yang berderai dan wajah yang sudah tak karuan. Saat ia menuruni lift, tatapan mata beberapa karyawan mulai menatapnya penuh arti.


Bagaimana tidak kejadian tadi siang, seolah memperlihatkan karakter asli seorang Silvi yang ternyata sangat emosional. Meskipun mereka belum tahu siapa Zi sebenarnya, karena ke empat sahabat Zi di kantor masih menutup rapat berita itu.


Seperti saat ini, Suci yang masih syok dengan kejadian tadi siang melakukan chat pada Rani


📤 "Ran serius gue masih syok sama kejadian tadi siang, sama sekali enggak nyangka”


📤 "Ih gue gemes deh pengen ngobrol sam lo, coba lo satu divisi sama gue, udh pasti kita ngegosip hot disini sama lo”


📩 "Gila lo, kalau Iqbal tahu, mau lo diceramahin dosa ghibah. Tahan diri, bibir itu dibikin jangan sampai keceplosan, karyawan lain jangan sampai tahu kecuali dari yang bersangkutan”


📤 Siappp.. gue janji kecuali kalau gue khilaf haha”


Za segera meninggalkan kantornya, setelah urusan dengan Silvi selesai. Tak lupa dia meminta Rio untuk menghandle pekerjaan dalam beberapa hari, karena ia akan cuti menemani Zi hingga ia pulih.


Za memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk kedua sahabat istrinya. Setelah Za sampai di ruang rawat istrinya


“Ini makanan buat kalian, kalian makan dulu, makasih banyak sudah mau jaga istri saya”


“Pak dari tadi makasih-makasih mulu, sekali lagi dapet payung cantik Pak” Ina semakin berani mengerjai suami sahabatnya itu, sudah mulai biasa melihat tatapan tajam yang justru kali ini tak terlihat, karena pria itu malah menyunggingkan senyumnya

__ADS_1


“Sepertinya Kak Za baru selesai sholat, jadi dia dapet hidayah buat banyak-banyak sodaqoh lewat senyum” Ina berbisik pada Shinta yang mulai menikmati makan malamnya


“Berisik, bisa diem enggak, nanti aku keselek muncrat ke kamu mauuu?”


“issh galak bener, oh ternyata pindah kesini nih galaknya” Shinta mulai memelototkan matanya


“Tuh bener kan” akhirnya Shinta mencubit lengan Ina yang seolah tak pernah kehilangan kosa kata dalam hidupnya


“Ihh.. sakiiit Ta, jahat banget sih, jangan-jangan kamu sudah mulai jadi geng nya Kak Za ya mulai serem-serem gitu mukanya”


“Bodo amat”


Akhirnya Shinta dan Ina pamit pulang, karena hari sudah semakin malam, Za yang mengkhawatirkan kedua gadis itu, menyarankan agar mereka menginap di hotel dekat sana, tapi mereka menolak dengan jaminan Shinta yang akan jadi tameng jika ada orang menjahati mereka.


Za memesan taxi online dan langsung membayar dengan saldo elektronik yang nominalnya terhitung besar, ia tak sungkan akan memberikan tips 2 kali lipat dari jasa antar yang seharusnya pada driver itu, dengan jaminan ia harus mengantar kedua gadis itu dengan selamat di kontrakan mereka masing-masing.


Ina dan Shinta yang mendengar percakapan Za di telepon kembali berbisik


“Gila ya.. Sultan mah bebas, rezeki nomplok tuh driver bisa anterin bidadari kaya kita, mana dibayar mahal lagi”


“Bidadari dari hongkong” Shinta langsung menggandeng leher sahabatnya supaya berhenti bicara, setelah mereka berpamitan, ingat bukan tangan tapi leher, menggandeng leher yang hampir membuat nafas gadis itu tercekat, atlet silat Tasikmalaya dilawan.


Mereka terlihat celingak-celinguk di parkiran rumah sakit mencari nomor polisi kendaraan yang tadi Za sebutkan.


“Orderan atas nama Pak Zayn?”


“Iya Bu betul silakan masuk”


“Kurang asem bener aku dipanggil Ibu” Ina berbisik pada Shinta tak terima


“Maaf Pak, ini betul dengan orderan Pak Zayn yang mau ke Kampung Dukuh?”


“Iya betul Bu silakan masuk”


“Bapak kenapa enggak pakai kacamata, emang saya kelihatan kaya Ibu-Ibu ya?”

__ADS_1


“Habisnya Mba nya juga tadi manggil saya Pak Pak, emang saya kelihatan kaya Bapak Bapak apa, jadi satu sama kan?”


Orang gesrek ketemu orang gesrek begini nih jadinya batin Shinta


__ADS_2