
“Teman-teman kamu sudah tahu ko” Za kembali memberanikan diri mengelus kepala gadis itu. Suci akhirnya tak bisa menahan diri untuk memeluk Zi dengan cepat
“Zi.. yang sabar ya” Zi tampak mengerutkan keningnya tak faham. Rani mulai menarik Suci keluar dari ruangan UGD itu disusul Iqbal Leo dan Rio.
“Zi kenapa Kak?”
“Kamu harus dirawat sayang..”
“Memangnya Zi kenapa?”
“Nanti ngobrolnya ya, sekarang kita pindah ruangan dulu” sebelum mereka pindah kamar, teman-teman Zi yang lain pamit kembali ke kantor karena pekerjaan mereka yang masih menumpuk begitupun dengan Rio.
Za memilihkan kamar VIP di ruangan tersebut yang disertai sofa bed nyaman untuk penunggu pasien.
“Kak Za, sebenarnya Zi kenapa? Tadi Zi hanya kebentur meja sedikit kan? Tapi kenapa tadi Suci bilang Zi harus sabar, memangnya Zi sakit apa?”
Za terlihat menarik nafas perlahan, sedikit ragu untuk menyampaikan kabar buruk itu, tapi ia yakin istrinya gadis yang kuat “Kamu keguguran sayang” Zi hanya diam sambil menatap suaminya sendu, hingga akhirnya air mata itu luluh juga
“Maafkan Zi Kak.. Maaf Zi enggak tahu”
“Enggak apa-apa sayang, harusnya aku yang minta maaf, aku tak bisa menjagamu dengan benar hingga Silvi mencelakai mu, maafkan aku ya sayang”
Zi memeluk suaminya erat, “Usia bayi kita berapa minggu Kak?”
“Empat minggu, sudah ya sayang, sedihnya jangan lama-lama Alloh mungkin hanya menitipkannya sebentar tapi kelak kita akan menemuinya di syurga ya Insya Alloh”
Maafkan Mama sayang.. maafkan Mama, Mama terlalu ceroboh hingga tak menyadari kehadiranmu
Zi masih memeluk suaminya, berusaha menghilangkan rasa sedih dan terkejutnya, benar-benar kejutan yang sama sekali tak ia harapkan.
Aku harus segera menemui Silvi, meminta penjelasan atas semua kejahatan yang telah ia lakukan, tapi jika saat ini ia kembali ke kantor, siapa yang akan menjaga Zi disini?
Za terlihat berfikir, ia meminjam handphone istrinya lalu meminta izin Zi untuk menelepon seseorang keluar dari kamar rawat itu.
“Hallo Assalaamu’alaikum kamu sedang sibuk? Bisa saya minta tolong?”
Setelah menyelesaikan panggilannya, Za kembali menemui istrinya
“Kamu menginginkan sesuatu sayang?”
Zi tampak menggeleng, ia sama sekali tak memiliki nafsu makan saat ini, setelah sesuatu yang sangat berharga hilang dari hidupnya.
__ADS_1
“Sayang.. sudah ya, aku tahu kamu pasti sedih, aku juga sama, tapi kamu pasti lebih faham dari aku, bahwa semua yang ada di dunia itu hanya titipan, kita harus berlapang dada saat Alloh mengambil apa yang dia titipkan, bahkan pada waktu yang sama sekali tidak kita bayangkan."
"Kamu bisa bayangin enggak, seandainya Alloh mengambil anak kita saat kandungan kamu lebih besar, atau saat dia baru dilahirkan, pasti itu akan jauh lebih sakit dan menyedihkan bukan. Percaya ya sayang, bahwa apapun yang kita hadapi sekarang, itu benar-benar yang terbaik menurut Alloh bukan menurut kita”
Za tak berhenti mengelus hijab istrinya penuh sayang, sambil sesekali menyeka air mata gadis itu.
“Sudah ya sedihnya jangan lama-lama, kalau kamu sedih nanti aku ikutan sedih”
“Memangnya Kak Za bisa sedih?”
“Ish.. maksud kamu apa? Manusia macam apa yang enggak bisa sedih sih?”
“Oh iya Zi lupa Kak Za itu kan Cooler bag, di dalam cooler bag kan ada ice gel yang bisa mencair, mungkin itu sama seperti kak Za saat sedih dan menangis ya, saat ice gel nya mencair”
“Kamu ngomong apa sih, udah mulai ya bisa iseng lagi” Zi terlihat terkekeh sambil berusaha menahan nafasnya yang sedikit sesak karena terlalu lama menangis
“Naaah gitu dong senyum, istri aku tambah cantik kalau senyum gitu”
“Kak Za kursus gombal dari siapa?”
“Enggak perlu kursus sayang, itu tuh panggilan hati”
“Udah berapa orang korban gombalan Kak Za?”
“Coba berapa Zi ingin dengar”
“Empat”
“Astaghfirullohal’adzim, benar-benar jawaban diluar dugaan, mana mukanya tanpa dosa begitu lagi”
“Ko kamu ga tanya siapa aja?”
“Enggak perlu, sudah cukup Zi tahu suami Zi seganjen apa” Gadis itu memilih berbaring sambil membelakangi suaminya
“Ehhh ko marah, aku belum selesai ngomong sayang, sini-sini duduk lagi” Za membantu Zi kembali menyandarkan punggungnya
“Yaaah ko nangis lagi, sini aku kasih tahu 4 orang itu siapa?” Zi masih memalingkan mukanya meskipun posisinya sudah kembali terduduk
“Kamu enggak mau lihat aku? Yakin enggak penasaran?”
Orang lagi sedih bukannya dihibur, malah dibikin tambah sedih
__ADS_1
“Sayang…” Zi akhirnya menguatkan diri menatap suaminya, kini posisinya suaminya semakin dekat dengan wajah Zi, karena pria itu menggeser posisi duduknya. Za memegang kedua pipi istrinya
“Yang pertama namanya Zi, yang suka ngelawan aku semenjak jadi adik tingkat di kampus” Za mengecup dahi istrinya lembut
“Yang kedua namanya Zidna, yang bikin jantung aku suka dag dig dug kalau lihat dia lagi senyum” Za mengecup pipi kanan istrinya
“Yang ketiga Zidna Ilma, bidadari yang selalu bikin aku jatuh cinta setiap harinya” Za mengecup pipi kiri istrinya
“Yang keempat Zidna Ilma Sayang, wanita yang aku cintai, dan akan selalu menjadi satu-satunya di sini” Za menggenggam tangan gadis itu, mengarahkan ke dada kirinya, dimana jantungnya selalu berdetak tak karuan.
“Cuma kamu sayang… “ Za mengecup bibir istrinya lembut, Zi kembali menangis dan memeluk suaminya erat
“Kak Za jahat…, bikin Zi jantungan dan hampir ilfeel”
“Maaf ya sayang…. Aku bukannya mau gombalin kamu, tapi memang itu kenyataannya”
“Makasih banyak ya sayang..” Za heran tumben sekali istrinya memanggil dengan panggilan semerdu itu, Za dengan segera melepas pelukannya
“Coba ulangi lagi”
“Apanya, peluknya? Sini aku peluk lagi”
“Bukan, tadi kamu panggil aku apa?”
“Enggak mau ah mahhhaaal, enggak mau Zi umbar wllleeee” Zi menjurukan lidahnya dengan muka gemas.
Setelah dua jam berlalu, terdengar ketukan di pintu ruang rawat Zi
“Assalaamu’alaikum” Zi terlihat menatap ke arah pintu masuk, sambil menjawab salam
“Ya ampun Shinta, Ina ko bisa ada disini?” Zi terheran-heran
“Jadi enggak mau nih kita temenin, ya udah yu Na kita pulang lagi?”
“Isshh.. sejak kapan kamu jadi suka ngambek gitu Ta, siniiii.. aku kangen banget sama kalian” terlihat ketiga gadis itu berpelukan melingkar seperti teletubbies
Za yang memandang keakraban mereka tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Ehhheeemm” menghentikan obrolan ketiga sahabat itu, yang seperti menganggapnya tak ada
“Aduh iya maaf Pak, kita lupa Bapak disini, iya bidadari nya enggak akan kita bawa kemana-mana kok" ucap Ina asal
__ADS_1
“Sayang… aku tinggal dulu ke kantor sebentar ya, ada yang harus aku selesaikan”