Hanya Zi

Hanya Zi
Bagaimana Cara Menaikinya?


__ADS_3

Kenapa setiap klien wanita yang menemui pria itu selalu duduk tepat di sampingnya bukannya berhada-hadapan, sengaja mendekat-dekatkan diri dengan duduk sedikit maju. Ataukah pria itu yang sengaja duduk di sana, mengatur posisi terbaik menurutnya.


Tak ingin kembali di buat dongkol, karena sikap atasannya itu yang tak menggubrisnya sama sekali, Zi akhirnya memutuskan untuk membuat dua kopi.


Dia sengaja menyerahkan kopi itu, di sela-sela antara Za dan wanita itu duduk. Alasannya adalah agar wanita itu dengan serta merta memundurkan posisi duduknya.


“Permisi, silahkan Pak Bu ini kopinya”


Za yang tampak kaget, karena sejak tadi sedang serius membaca berkas yang saat ini ada di tangannya, juga sedikit heran karena tumben Zi dengan sukarela membuatkan kopi untuk tamunya.


Tak ketinggalan, wanita itu yang merasa terganggu karena kehadiran Zi, kenapa tak lewat samping kanan saja menyimpannya, toh disana lebih leluasa tanpa perlu menganggu kami yang sedang serius begitu pikirnya.


Iya tentu saja mereka sedang serius, Za serius sedang membaca sedangkan wanita itu sedang serius “mendekatkan diri” pada atasannya.


*****


Weekend itu Zi janji bertemu dengan Zahra, Shinta dan Ina di sebuah Mall yang sedikit jauh dari posisi kosan Zi saat ini. Jarak tak jadi masalah buatnya, yang terpenting rasa rindunya terbayarkan.


Dia berhutang cerita pada Zahra, dan hari itu dia akan menjelaskan semua yang terjadi pada hari terpenting di hidupnya.


Mereka berkeliling mencari beberapa barang yang diperlukan, saling mengantar satu sama lain, saling memberikan ide untuk warna barang yang akan diberi. Jangan tanya seberapa hebohnya pertemuan mereka, karena Ina hari ini baru resmi berhijab dan sedang mencari beberapa pakaian serta hijab untuk ia kenakan nanti.


Mereka bertemu Pukul satu siang, setelah mencari beberapa barang, mereka memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu baru melanjutkan kembali penjelajahan mereka.


Jangan berharap penjelajahan ini akan segera berakhir, bayangkan saja jika hanya seorang wanita yang mencari sudah akan memakan waktu cukup lama karena kelabilannya memilih barang, ini di tambah tiga orang yang memiliki kebutuhan barang berbeda-beda.


Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan Pukul Delapan Malam, Ibu hamil merasakan perutnya kembali berontak meminta diisi.

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan mencari tempat yang sedikit nyaman untuk Zahra agar bisa sedikit meluruskan punggung dan kakinya.


Dipilihlah sebuah café di lantai bawah yang terlihat cozy.


Zahra, Shinta dan Ina memesan makanan mereka masing-masing, sedangkan Zi hanya memilih untuk memesan minuman saja, karena perutnya masih belum terasa lapar.


Di café itulah Zi menceritakan apa yang terjadi padanya pada hari sakral itu. Shinta dan Ina pun terkadang ikut menimpali apa yang Zi sampaikan, meskipun untuk Ina lebih terlihat ke arah kesal dibandingkan berniat untuk menceritakan kejadian.


Sikap Ina yang terlihat tak bisa menahan emosinya itu, mendapatkan cubitan Shinta beberapa kali di pahanya, berharap gadis itu bisa menahan diri sedikit karena tak enak pada Kak Zahra yang terbilang sangat dekat dengan Pria yang tiba-tiba menghilang itu.


Tanpa mereka sadari, sejak kedatangan mereka di café itu ada sepasang mata yang menatap mereka lekat. Ingin mendekat, tapi ia urungkan.


Zahra tampak mencoba memahami situasi, meskipun hatinya masih memiliki tanda tanya besar, atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Ia berjanji akan mencari tahu apa penyebabnya, meskipun itu tak akan sama sekali merubah apapun di hidup Zi.


Tak terasa mereka makan dan mengobrol sampai café itu akan beranjak tutup, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Sahabat-sahabatnya itu sempat beberapa kali memastikan apakah Zi akan baik-baik saja pulang sendiri semalam itu. Zi hanya mengangguk meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja karena ia pun akan pulang menggunakan taxi online.


Saat Zi berjalan menuju bagian depan Mall berniat untuk memesan taxi online, tak di duga sebuah motor sport merah berhenti tepat di depannya.


Zi yang kaget, segera memundurkan langkahnya, mulai tersadar saat suara di balik helm itu terdengar


“Ayo ikut!” Zi masih berdiam diri, mengerutkan keningnya.


Maksudnya apa? Dia siapa? Dan tunggu-tunggu, sepertinya aku mengenal motor ini, karena modifikasinya yang sangat unik, hingga mudah ia ingat. Dimana ya aku melihatnya?

__ADS_1


Karena gadis itu masih tak juga beranjak, akhirnya Za membuka helmnya. Zi yang baru menyadari siapa pria di balik helm itu, langsung memasang wajah jutek.


“Ayo cepat naik, sudah terlalu malam” Zi melihat kembali jam tangannya, lalu mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada yang melihat mereka kali ini, karena Mall itu sudah mulai terlihat sepi.


Zi menatap motor di depannya itu bingung, bingung bagaimana cara menaikinya karena motornya lebih tinggi dari yang biasa ia naiki.


Pria itu pun menyerahkan helm cadangan yang selalu ia bawa, lalu menjelaskan bagaimana cara menaiki motornya, karena bisa membaca kebingungan Zi.


Pria itu menyuruh Zi memegang bahunya, kemudian menginjak dulu pijakannya baru naik. Ragu-ragu Zi melakukannya tapi sudah kepalang tanggung


Ah Zi kamu benar-benar kampungan. Batinnya pada diri sendiri


Saat sedang menaiki motor, Zi terbiasa duduk menghadap ke depan bukan menyamping, karena terasa lebih nyaman dan badannya tak mudah pegal.


Jika bersama ojeg online dia akan menyimpan tas nya di depan, tapi tidak untuk kali ini, karena jok motor pria itu yang tak terlalu luas, jika ia menyimpan tas nya di depan ia takut terjengkang karena tak bisa menahan keseimbangan.


Ih ribet juga ya naik motor begini, mana tas tak bisa disimpan di depan lagi. Tahu begini, tadi aku tolak saja, jika tak takut pulang kemalaman


Tempat kosan Zi saat ini, tak memiliki jam malam, karena rata-rata pengisi kamar-kamar di sana adalah karyawan dan pasangan baru menikah.


Tapi masing-masing dari mereka diberikan kunci cadangan, dan tetap ada aturan untuk pasangan yang belum menikah, tidak diperbolehkan membawa pria masuk meskipun itu adalah keluarganya sendiri.


Za berbicara tapi tak terdengar oleh Zi, hingga ia sedikit mendekatkan wajahnya pada pria itu


“Kita makan dulu sebentar, tadi saya belum makan” Zi bingung harus mengatakan apa, jika menolak ia harus mencari taxi online di tempat sepi yang sedang mereka lewati.


Jika mengikuti kemauannya dia mungkin lebih merasa aman, tapi resikonya pulang terlalu malam.

__ADS_1


Karena tak ada pilihan, Pria itu membawa Zi makan di tempat makan lesehan angkringan jogja, dimana di sana pun ada hiburan musik dari pengamen-pengamen jalanan yang memang rutin tampil di sana setiap malam.


Untuk kedua kalinya mereka duduk berdampingan, kali ini Zi tak merasa bersalah sama sekali meskipun perasaan tak nyamannya masih ia rasakan.


__ADS_2