Hanya Zi

Hanya Zi
Dia Melihatnya


__ADS_3

Weekend ini, Za ada janji meeting dengan klien di Resto yang tak jauh dari apartemen mereka. Ditemani Rio dan Silvi


“Kak Za meeting nya lama?”


“Paling hanya sampai jam 10” Za pun pamit pada istri menggemaskannya itu.


“Waah lumayan ini ada waktu 1,5 jam, mumpung Pa Bos sedang tak ada aku mau Zumba di rumah saja”


Zi sedang membuka paperbag yang berisi baju zumba yang sudah ia pesan pada Suci.


“Ya ampun kenapa ini ketat sekali, aku bahkan tak pernah mengenakan pakaian seketat ini saat zumba, panjang sih panjang tapi kalau ketat begini mana berani aku pakai di club”


Zi akhirnya memutuskan untuk tetap memakainya, toh hanya di rumah dan sedang tak ada siapapun di sana. Saat berdiri di samping sofa, dia bimbang akan mengenakan hijabnya atau tidak.


Akhirnya dia putuskan untuk tak mengenakannya, dan akan membiarkan rambut panjang sepunggungnya terurai agar keringatnya semakin banyak, Zi hanya mengenakan bando saja agar rambutnya tak berlarian ke depan.


Zi menyimpan hijab tersebut di bahu sofa, dan beranjak menuju ruang olahraga.


Zi sedang pemanasan dan beralih ke musik dengan beat yang sedikit cepat.


Zi tampak lincah dan benar-benar menghafal gerakannya. Karena musik yang ia mainkan sedikit keras, hingga ia tak menyadari ada seorang pria yang masuk ke sana


Ini benar apartemenku kan? Ko tumben ada suara musik-musik seperti ini


((Sekarang Za yang mulai oon, kalau salah masuk mana mungkin kuncinya terbuka Za. Tepok jidat))


Za benar-benar mengedarkan pandanganny di apartemen itu, memastikan ia tak salah masuk apartemen seperti orang bodoh haha...


Za mulai mencurigai sesuatu, dia berjalan menuju ruang olahraganya. Matanya terbelalak melihat gadis itu tanpa hijab, dengan mengenakan pakaian olahraga panjang ketatnya.


Cantik sekali istriku. Tapi bagaimana mungkin dia bisa menari selincah itu, eh berolahraga selincah itu.


Zi masih tak menyadari keberadaan suaminya. Beralih ke musik berikutnya masih dengan beat yang cepat tapi kali ini tak hanya gerakkan kaki, beralih ke gerakan BL (Body Language), yang sedikit terlihat erotis karena perlu kelenturan tubuh untuk melakukannya.

__ADS_1


Za yang melihat itu semakin mengerjap-ngerjap tak percaya.


Astaghfirullohal’adzim, AC di rumah ini tidak mati kan, kenapa terasa gerah sekali disini.


Za mulai membuka dasinya, membuka kancing kemeja bagian atasnya, dan masih terus menikmati pemandangan indah yang ada di depannya kini.


Tapi sesuatu hal yang mengejutkan terjadi, ada orang yang membuka pintu apartemennya. Secara refleks Za menepuk dahinya.


“Ya ampun lupa, aku belum mengganti sandi apartemen ini, itu pasti Rio” Za segera berlari untuk menggapai pintu apartemen itu, sebelum dia terkejut melihat seorang gadis ada di apartemennya.


(Tuh kan mereka sama-sama, cerdasnya cuma kadang-kadang gkgkgk)


Srreeett “Ya Rio ada apa?” badan Za seolah mengatakan sudah cukup disitu saja, Kamu tak usah masuk segala”


“Ini Pak, Hp anda ketinggalan, saya hanya ingin menyerahkan ini”


“Oh baik, terimakasih”


Zi yang samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol segera mengecilkan suara musiknya, untuk memastikan apa yang dia dengar


Zi yang masih menggenggam hijabnya karena ingin segera berlari ke kamar, untuk segera menyembunyikan diri dari pakaian yang sungguh tak layak dilihat suaminya.


Tapi apa yang terjadi nasib malang menimpanya, gerakkan Za jauh lebih cepat dari gadis itu, tentu saja kaki nya kan lebih panjang.


Za menarik tubuh istrinya hingga mereka berdua terjatuh di sofa, Za menahan pinggang Zi yang saat ini berada di atas tubuhnya, menatapnya lekat lalu mengelus pipinya.


“Kamu cantik sekali” Zi yang mulai menyadari hal yang tak beres akan terjadi, dia mengeluarkan segenap kekuatannya untuk terlepas dan berlari dari pelukan pria itu, dan ia pun berlari terbirit-birit bingung harus menutupi bagian tubuh yang mana dengan hijab yang masih ia pegang


“Aaaaa!!! Zi malu Kak!!!


Za hanya terkekeh melihat pemandangan menggemaskan itu.


Tenang Za sabarrr… sabarrr… untuk mendapatkan berlian memang tak mudah bukan? Aku sih bisa sabar, tapi bagian tubuhku yang lain yang mulai tak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Za mengusap wajahnya kasar yang masih diiringi senyuman menawan. Sedangkan Zi memilih untuk segera mandi dan menenangkan degup jantungnya.


Tenang Zi tenang…. rileks bersikaplah seolah tak terjadi apapun, tapi bagaimana bisa, dia sudah melihat semuanya. Eh tunggu, apa tadi juga dia melihatku berolahraga? Huaaaaa!!!!! Memalukan!!!


Setelah berhasil menetralisir degup jantungnya, dia memberanikan diri menuju sofa ruang tamu tadi


“Kak Za kenapa pulang cepat?”


“Meeting nya batal, klien tiba-tiba menghubungiku mengatakan tak bisa datang” Zi hanya mengangguk-angguk mengerti, Zi berpikir lagi tampak ragu untuk menanyakannya


“Hm... Kak Za sejak kapan pulang?”


“Sudah lumayan lama” Za mengerti maksud pertanyaan istrinya itu, lalu kembali berniat menggodanya dengan membisikkan sesuatu di telinga Zi


“Iya, aku melihatnya” Ucap Za berbisik sambil beranjak pergi menuju kamarnya yang sejak tadi Zi kunci rapat-rapat, seperti takut ada kucing garong masuk.


“Huaaaa!!!” Zi menghentak-hentakkan kakinya di atas karpet, saking kesalnya dia merebahkan badannya di sofa itu sambil sedikit terisak


“Huaaaa!!! Ya Allah Zi maluuuuu”


*****


Rutinitas di kantor Hartono group semakin membuat mereka sibuk. Hari ini beberapa karyawan sedang melemburkan diri.


Pukul 8 malam beberapa dari mereka sudah memutuskan pulang, hanya Zi yang tersisa di Lantai 14


“Kak Za masih lembur?” Zi mengirim pesan pada suaminya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Zi memberanikan diri naik ke Lantai 15 dimana suaminya berada dengan membawa sebuah map untuk ia laporkan, Tapi… hal yang tak Zi harapkan terjadi


Dia melihat meja sekretarisnya sudah kosong dengan lampu yang sudah dimatikan, tapi lampu ruangan Za masih terlihat menyala. Dia mendengar ada suara seorang wanita di dalam, tapi itu bukan suara Silvi.


“Assalaamu’alaikum” Zi memberanikan diri masuk tanpa menunggu aba-aba. Zi melihat wanita itu sedang menyentuh tangan suaminya. Za berada di sofa single sedangkan wanita itu berada di sofa panjang di sebelahnya, jarak mereka terlihat sangat dekat, karena wanita itu duduk sedikit maju ke depan, sampai tanpa Za sadari kaki mereka bersentuhan.


Yang membuat Zi kaget adalah pakaian wanita itu yang serba minim, dia mengenakan rok super mini, dengan kemeja press body yang bagian atasnya dia biarkan terbuka dua kancing, sehingga Zi bisa melihat jelas ada yang tampak menyembul di bagian atas bajunya.

__ADS_1


“Maaf mengganggu Pak saya hanya ingin menyerahkan ini, permisi” Zi menampakkan raut muka yang tak bersahabat sama sekali.


Dia pergi dengan menahan kekecewaannya. Za yang melihat gelagat yang tak beres, segera menyelesaikan urusannya dengan wanita agresif tadi.


__ADS_2