
***Aku bergetar melihat wajah itu, dia begitu cantik mengenakan pakaian aqadnya dengan riasan yang tampak natural, tapi sakit sekali melihatnya menangis saat itu, hingga aku tak kuasa menahan tanganku untuk tak menghapus air matanya.
Ayolah Zi perlahan bukalah hatimu untukku. Saat aku duduk di ranjangmu saja, Kamu sudah gugup setengah mati, bagaimana aku bersikap lebih dari itu, apakah aku akan ditendangnya?
Saat kemarin kita dikejar oleh segerombolan anak motor, sepertinya aku berhutang budi pada mereka, karena untuk pertama kalinya, kau bersedia bersentuhan denganku, memelukku tanpa penolakan.
Pertama kalinya seorang wanita memelukku di atas motor, meskipun awalnya karena paksaanku, tapi semakin lama pelukanmu semakin erat, itu tandanya kamu mulai menyukainya bukan?
Tapi hari ini Kamu kembali tak mengizinkanku menyentuhmu, sekedar untuk membantumu. Sungguh Kamu gadis keras kepala. Jika aku tak pandai mungkin aku tak akan pernah punya kesempatan untuk menggendong mu.
Denganmu sungguh aku tak perlu banyak bicara, karena Kamu akan selalu membantahnya, coba lakukan saja maka dia tak akan bisa protes seperti tadi haha..
Meskipun akibat perbuatanku jantungku kembali mengalami “serangan”, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya jika aku berhadapan dengan seorang wanita.
Bagaimana mungkin dia berani-beraninya berdetak sangat kencang saat aku mencoba melancarkan misi.
Tapi permasalahannya pria 27 Tahun ini tak faham bagaimana bersikap manis pada seorang wanita Arrrrggggghhhhhh!!!! ini lebih sulit dari memenangkan tender terbesar Hartono Group selama ini.
Tapi bagaimanapun caranya aku harus menghilangkan nama Rizky dari hatimu, karena sekarang Kamu adalah milikku. Hanya milikku, tak akan kubiarkan nama pria lain terpatri di sana, meskipun dia sahabatku sekalipun***.
*****
Keesokan harinya, Zi kembali disibukkan dengan deadline projectnya, tak disangka Iqbal yang berbeda divisi dengannya, sengaja mampir ke meja kerjanya.
“Zi apa kabar, bagaimana pekerjaannya lancar?”
“Alhamdulillah lancar Bal, kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah masih aman, hm… sebenarnya ada yang ingin aku tanyak Zi” Zi mulai tak enak hati, tumben sekali pria ini ingin menanyakan sesuatu dengan ekspresi yang tak bisa Zi tebak.
“Kemarin aku melihatmu membawa barang-barang dari kamar kos”
DEG!
Apakah dia melihatnya?
“Kamu pindah kosan Zi? Lalu aku juga sempat melihat Pak Za di sana, kamu menaiki mobilnya bukan?”
Iqbal berbicara dengan suara pelan, agar tak di dengar karyawan lain. Untungnya meja Zi dan anggota tim nya terbilang cukup jauh, jadi tak begitu sulit untuk merahasiakan obrolan mereka.
__ADS_1
Zi masih berkutat dengan pikirannya, ia tak mungkin membiarkan sahabatnya ini berfikiran buruk tentangnya.
“Hm… sebenarnya, aku sudah menikah Bal, tapi sesuatu terjadi di pernikahanku” Zi menceritakan semuanya dari awal, dan alasan kenapa teman-teman kantornya tak ada yang tahu tentang pernikahan mereka”
“Ya Allah Zi, bagaimana bisa?”
“Aku juga tak habis pikir kenapa Boss kita mau melakukan hal itu, bahkan sampai detik ini kejadian kemarin masih terasa seperti mimpi, bagaimana mungkin seseorang yang sama sekali tak memiliki kecenderungan terhadapku, berani mengambil keputusan untuk meminang seorang gadis bahkan dalam hitungan menit, tak masuk akal bukan?”
“Masuk akal Zi, jika memang Allah yang sudah menggerakkan. Lagipula darimana kamu tahu kalau Pak Za sama sekali tak memiliki ketertarikan padamu?”
“Dari sikapnya selama ini, kamu bisa lihat sendiri kan”
“Tak semua pria pandai menunjukkan perasaannya Zi. Oh aku ingat, waktu di kampus benar kamu pernah diganggu Kak Viko?” Zi mengangguk
“Ya pernah, lalu memangnya kenapa?”
“Kamu tahu apa yang aku dengar dari anak-anak BEM saat mereka makan di kantin? Pak Za memukul Viko hingga babak belur karena melihatmu diperlakukan tak baik”
“Ya Allah, mana mungkin?! Aku tak pernah mendengarnya”
“Lebih baik tanyakan langsung saja pada orangnya, kalau dia sama sekali tak memiliki ketertarikan padamu, mana mungkin dia melakukan hal sejauh itu, sesuatu yang sama sekali tak pernah dilakukan Kak Za di kampus, berkelahi". Zi tampak merenungi apa yang dikatakan pria muda itu
"Kalau begitu aku turut berbahagia Zi, semoga rumah tangga yang kalian bangun selalu dalam keridhoan dan keberkahan” pamit Iqbal sambil kembali ke ruangannya.
Tak lama sebuah pesan masuk
“Ingat statusmu, tak baik berbicara lama-lama berdua dengan seorang pria, apalagi jika bukan urusan pekerjaan"
Zi membalas,
“Enak saja siapa yang berbicara berdua? Disini banyak teman-temanku”
Zi hanya celingak celinguk, memangnya sedang dimana pria itu pikirnya. Bagaimana dia tadi bisa melihatku, lantai kami kan berbeda.
Tadi Za berniat menghadiri meeting di luar, asistennya sudah turun terlebih dahulu menuju Lantai 1, hal ini membuatnya semakin leluasa melancarkan misinya.
Dia iseng memijit lift di lantai tempat Zi bekerja yang hanya terletak 1 lantai di bawahnya, di sana terlihat gadis itu sedang berbicara serius dengan Iqbal, karena kantor tempat Zi bekerja dilapisi kaca besar tepat di depan lift.
Lalu setelah sampai bawah, dia melupakan ponselnya di meja, dia kembali ke lantai atas, dan jarinya kembali memintanya untuk memijit angka itu, dan terlihat gadis itu masih berbicara dengan Iqbal.
__ADS_1
Sebenarnya mereka membicarakan apa? Lama sekali
Malam harinya
“Pak maaf, apakah Zi boleh menanyakan sesuatu?”
“Hm..”
Tuh kan mulai lagi ham hem ham hem
“Apakah benar, dulu di kampus Bapak pernah memukul Kak Viko gara-gara saya?”
Za masih menunjukkan wajah tenangnya, tak tersedak sama sekali padahal dia sedang menikmati makan malamnya
“Ya” Jawab pria itu singkat
“Kenapa Pak?”
“Tak ada alasan” Zi mulai jengah dengan pria ini, bagaimana mungkin dia mengharapkan mendapatkan jawaban yang memuaskan darinya. Saat Zi memilih untuk pergi meninggalkannya di meja, dia kembali bersuara
“Saya tak suka melihatmu menangis?”
Deg!!!
Kenapa dia begitu perduli aku menangis atau tidak, pantas saja saat aqad waktu itu dia menghapus air mataku dengan sangat manisnya.
Kejadian tersweet sepanjang sejarah Zi kenal dengan pria ini, kasihan sekali kamu Zi.
“Kenapa tak suka Pak?”
“Kamu ini kenapa bawel sekali”
“Sudah Pak tak usah dilanjutkan” Zi akhirnya benar-benar beranjak
Apakah tadi siang mereka membicarakan ini? Jangan-jangan Iqbal sudah tahu tentang pernikahan kami.
*****
Selama satu Bulan, rahasia itu masih tersimpan rapat dari Hartono Grup. Hingga saat Za, Rio, Zi dan Iqbal menghadiri meeting di sebuah restoran Zi melihat pemandangan yang sama sekali tak ia harapkan.
__ADS_1
Dia melihat pria itu, pria yang sudah memporak-porandakan hatinya satu Bulan lalu, dan pria itu saat ini juga sedang menatapnya.
Za yang melihat pemandangan itu, memberanikan diri menarik tangan Zi, menggenggam lebih tepatnya, Zi yang gelagapan dengan perlakuan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata ia baru menyadari hanya tinggal mereka berdua di sana, karena rekan mereka lainnya sudah Za minta untuk pulang terlebih dahulu.