
Flashback On
Za berjalan kembali ke mobilnya, dia ingat dari Jakarta dia membawa hadiah pernikahan untuk Rizky dan Zi. Za berjalan mendekati pria yang sudah berumur itu.
“Pak, jika Bapak mengizinkan, saya akan menikahi Putri Bapak” Ucap Za sambil menggenggam tangan Pa Rizal yang sudah mulai menunjukkan kerutan nya.
Pa Rizal hanya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kenapa Nak, kenapa kamu mau menikahi anak Bapak?”
Flashback Off
Setelah semua tamu pulang, sore itu Za lebih memilih mengobrol dengan kedua orangtuanya kini, Ibu yang sedari tadi lebih banyak diam, saat ini sangat lekat memandangi Za.
“Ibu kenapa memandangi Za seperti itu?, maafkan Za ya Bu, jika Za bukanlah menantu seperti yang Ibu harapkan” Seketika Ibu memeluk pria yang ada di hadapannya kini.
Za yang sedikit kaget, karena tadi sedang memegang gelas teh miliknya, seketika menyimpan gelas tersebut untuk membalas pelukan Ibu.
“Tidak Nak tidak, Ibu hanya bingung harus mengucapkan terimakasih dengan bentuk yang seperti apa, pada anak muda yang telah menjadi menantu sekaligus penolong keluarga kami hari ini."
"Sejujurnya saat lamaran, Ibu sedikit merasa aneh pada orang tua Nak Rizky, sepertinya Nak Rizky melamar putri Ibu belum mendapat restu sepenuhnya dari kedua orangtuanya, apalagi mungkin setelah melihat kondisi rumah kami yang sangat jauh dari kata mewah.”
Za hanya mengangguk faham
“Oh iya Nak Za, lalu bagaimana dengan orangtuamu, mereka pasti sangat terkejut dengan keputusanmu hari ini Nak” Pa Rizal menatap Za dengan tatapan cemas
“Untuk itu, Bapak serahkan pada Za ya Pa, nanti biar Za yang urus” Ucap Za meyakinkan
“Kalau begitu jangan panggil Bapak, tapi panggil Ayah saja ya sama seperti Zi” Za pun mengangguk.
Za masih asyik berbincang dengan Ayah Zi. Ibu menghampiri Zi di kamar untuk menyuruhnya makan, karena sejak pagi Zi sama sekali belum mengisi perutnya.
Mau tak mau Zi menuruti perintah Ibunya, padahal hatinya enggan jika tak Ibu ancam akan disuapi.
“Masa sudah jadi istri orang masih harus disuapi” Ucap Ibu menggoda Zi. Zi hanya membalas dengan senyuman sekenanya.
“Sudah ya Nak jangan menangis lagi, kasihan Pria baik yang sudah menjadi pendamping mu saat ini”
Ibu benar, saat ini Pria itu yang seharusnya ada dipikirkan Zi, buka pria lain. Zi tak layak berkhianat pada suami Zi sendiri yang sudah berkorban banyak hari ini.
__ADS_1
Za pergi ke masjid bersama Ayah untuk melaksanakan sholat Maghrib dan Isya berjama’ah, masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah itu membuat suasana kampung semakin hangat.
Setelah pulang dari masjid, Za mengambil pakaian cadangan yang sengaja selalu ia bawa di dalam mobil, yang kapanpun bisa ia gunakan disaat yang tak terduga seperti sekarang ini.
Za memberanikan diri mengetuk kamar gadis itu, setelah terdengar jawaban Za baru memberanikan diri masuk sambil mengucapkan salam.
“Hm.. Pak Za sudah makan?”
“Sudah”
“Mau Zi buatkan teh?”
“Sudah, tadi Ibu yang buatkan” Jawab Za datar
“Maaf” hanya itu yang terlontar dari mulut Zi.
Za memandangi kamar gadisnya itu perlahan, dilihatnya rak buku yang tersusun rapi, foto-foto nya dulu bersama Shinta dan Ina saat sebelum berhijab, Za menatap foto itu sedikit lama.
Zi hanya menatap punggung pria itu sambil duduk di atas ranjangnya
Addduh aku melupakan itu, harusnya tadi aku buang saja. Zi
Pantas saja dia sering melawanku. Za
Za yang saat itu masih berdiri mengililingi kamar Zi yang sedikit lebih besar dari kamar kosnya, tiba-tiba duduk di ranjang Zi, setelah merasa cukup dengan rasa ingin tahunya, secara refleks Zi langsung berdiri dari ranjang tersebut.
Za yang menatap kondisi tak nyaman dan wajah memerah gadis itu, langsung beranjak pamit keluar.
Lucu sekali gadis ini, baru saja duduk sudah gelagapan apalagi kalau lebih dari itu. Za
“Istirahatlah, saya akan tidur di luar”. Terang Za
Esok harinya Ayah menyarankan Zi untuk membawa suaminya mengelilingi kampung mereka. Zi mengajaknya mengelilingi kampung dengan berjalan kaki.
Berjalan melewati pematang sawah, mencuci kaki di curug yang masih jernih airnya. Tanpa Za sadari, dia sangat menikmati kehidupan tenang seperti ini, damai, sejuk, indah dan ia berjanji dalam hati bahwa ia tak akan mengikuti tender sebesar apapun rupiah yang akan ia dapatkan, jika harus mengorbankan sawah-sawah ini, suasana damai seperti di kampung istrinya, demi memenuhi ego pengembang yang mulai melirik daerah pedesaan untuk memenuhi ambisinya.
Za masih membiarkan air sungai itu menyentuh kakinya, pria itu kini berada tak jauh di sebelahnya.
“Terimakasih Pak”
__ADS_1
“Untuk?”
“Untuk semuanya?”
Sebenarnya akan sampai kapan dialog suami istri hanya singkat-singkat seperti ini. Padahal aku dengar dari Ayah dan Ibu menantunya ini sangat ramah dan humble, kenapa padaku lain sekali
Mereka memutuskan pulang ke rumah kembali melewati pematang sawah. Za berjalan di depan, tak berapa lama badannya mulai oleng menjaga keseimbangan karena jalan yang licin, Zi secara refleks memegang tangan Za, membantunya agar tetap seimbang.
Begitupun Za berusaha menahan tubuh Zi agar tak ikut jatuh bersamanya, tapi Sang Pencipta berkehendak lain, masing-masing satu kaki mereka masuk ke dalam sawah yang belum panen itu.
“Aduh Pak hati-hati dong jalannya”
“Ini juga sudah hati-hati, siapa juga yang suruh kamu pegang tangan saya”
“Idih bukannya terimakasih sudah berusaha ditolong malah diomeli”
Zi pergi meninggalkan suaminya dengan memasang wajah cemberut.
“Ya ampun Zi, kamu kenapa, bajunya kotor begitu?” Tanya Ibu heran
“Tuh gara-gara menantu Ibu, yang sok jago tahunya malah bikin orang nyungseb” Ibu hanya menggelengkan kepalanya
“Maafin anak Ibu ya Nak Za, kalau Nak Za berkenan, bisa pakai baju Ayah untuk ganti, sayang itu baju bagusnya sampai kena lumpur-lumpur gitu”
“Boleh Bu Za pinjam ya Bu”
Merekapun berkumpul untuk sarapan pagi itu, Ibu menyuruh Zi menuangkan makanan untuk suaminya
“Terimakasih” Ucap Za. Yang dibalas tatapan melongo dari Zi
“Tumben”
“Apanya yang tumben Zi?” Tanya Ibu
“Oh tidak Bu, itu tumben ada orang yang sudah pintar bilang terimakasih”
Ibu hanya mengerutkan kening tak mengerti. “Sudah Bu, jangan dipikirkan tak penting ko hehe” kekeh Zi
“Ya ampun Nak Za, tadinya Ayah mau ajak Nak Za menangkap belut besok pagi, bagusnya sih memang malam tapi kasihan kalau Nak Za malam ini keluar rumah, terus besok paginya harus kembali ke Jakarta, lain waktu Ayah ajak Nak Za ya” Za hanya mengangguk tersenyum sambil menyantap makanannya
__ADS_1