
Zi memilih untuk segera pergi dari kantor itu, dia ingin segera mandi untuk menghilangkan amarah dan kekecewaannya. Setelah selesai menyegarkan tubuhnya Zi memilih untuk berdiri di jendela besar itu, menatap lampu warna-warni dari sana, sambil memikirkan apa yang terjadi tadi di ruangan suaminya.
Hingga akhirnya terdengar suara pintu apartemen terbuka. Zi menjawab salam suaminya tanpa membalikkan badan.
Za mulai menarik nafasnya
Apakah akan sulit ujianku saat ini? Batin Za
Za menarik lengan istrinya pelan yang tadi sedang disilangkan di depan dadanya
“Hey.. aku bisa jelaskan” Ucap Za sambil mengelus pipi Zi lembut, tapi kali ini langsung ditepis oleh Zi, dan Zi kembali menatap ke arah jendela.
Za kembali menarik nafas. “Tadi itu klienku, dia tiba-tiba meminta menemuiku untuk mengkonfirmasi project yang sedang kami kerjakan, padahal aku sudah memintanya untuk menunda besok lagi, karena sekretaris dan asistenku sudah pulang. Tapi dia memaksaku bertemu malam ini, karena besok ia ke luar kota selama seminggu”
“Kenapa Kak Za tidak berusaha menjaga jarak?”
“Kalau soal itu, aku minta maaf aku memang salah, aku terlalu fokus membaca laporan yang diberikan, sehingga tanpa sadar jarak kami menjadi terlalu dekat”
“Kak Za memangnya tidak lihat apa, pakaiannya tadi?”
“Aku tak pernah berniat memperhatikan tentang itu, yang pasti selama ini jika aku mendapatkan klien seorang wanita, aku hanya menatap matanya tidak yang lainnya”
“Bohong!!!”
“Kamu ngga percaya sama suamimu sendiri?”
“Tapi kan Kak Za pria normal, mana ada kucing menolak dikasih ikan”
“Tapi kan aku bukan kucing Zi, masa kamu ngga percaya aku bisa bertahan bertahun-tahun menghadapi wanita-wanita agresif di luar sana. Kalau aku memang brengsek aku akan memanfaatkan kesempatan itu. Saat di kampus saja, tak ada satu wanita pun yang aku gubris bukan?”
“Iya tapi di kampus mana ada yang berani berpakaian minim seperti itu” Ucap Zi sambil cemberut dan kembali menatap jendela
“Kamu cemburu?”
“Lebih dari itu Kak Zi kecewa, bukan hanya aku istrimu yang tak menyukainya tapi Robb kita pun tak menghendaki pria dan wanita yang bukan mahrom saling berdekatan seperti tadi” Zi mulai terisak
“Zi sakit Kak, hati Zi sakit!”
"Zi kecewa sama Kak Za"
Tangisnya semakin pecah sambil tak beralih dari jendela besar itu, saat ini dia tak ingin menatap suaminya sama sekali. Za kembali menarik dagu Zi
__ADS_1
“Sini lihat aku sayang….”
Jangan terbuai Zi, Please jangan terbuai dengan kalimat sayang itu, pria ini sedang menggoda mu
Za kembali menarik nafasnya.
“Aku cinta kamu Zi, Aku mencintaimu”
bukannya terenyuh Zi malah semakin terisak
“Huaaaa…! Kak Za keterlaluan, kalau kasihan padaku katakan saja Kak, ngga perlu berbohong, Kak Za menikahi ku terpaksa kan Kak?” Za terdiam.
Melihat itu Zi yang tak siap untuk mendengar kebenarannya, Zi lebih memilih untuk pergi meninggalkan pria itu.
Ya ampun, kenapa susah sekali membujuk wanita yang sedang cemburu. Jadi selama ini, gadis bodoh ini benar-benar mengira aku menikahinya karena terpaksa. Mana ada seorang pria yang terpaksa menikah rela memberikan ciuman pertamanya pada gadis itu.
(( **Author : Memangnya Zi tau darimana kalau itu ciuman pertama kamu Za? Gadis polos begitu
Za : Waah author mulai ngajak berantem
Author : Orang kalau lagi bingung memang suka jadi aneh 🤔🤔🤔. Za kalau cerdas jangan cuma kadang-kadang dong**))
Za menarik tangan gadis itu, ia akan menyelesaikan kesalahpahaman nya malam ini.
"Sikap dinginku padamu hanya untuk menutupi rasa gugup ku, aku telah menyukaimu sejak lama, tapi aku tak cukup percaya diri untuk menggapai mu, hingga Rizky melangkah jauh lebih cepat dariku"
"Aku terlambat, tapi keterlambatan ku ternyata tetap mempertemukan ku pada jodoh terbaikku”
Mendengar penuturan pria itu, kini badan Zi melemas dia tersungkur ke lantai, kepala Zi tertunduk, yang langsung direngkuh ke dalam pelukan pria itu.
“Kamu percaya padaku kan?”
Zi menatap dalam mata suaminya, memastikan hal yang rasanya sama sekali tak mungkin terjadi
“Zidna Ilma sayang.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu”
Zi pun mengangguk dengan tangis bahagia.
Terimakasih Ya Allah Engkau telah mengirimkan gadis mempesona ini padaku, meskipun ternyata aku baru sadar, dia tangguh di luar tapi bersikap kekanak-kanakan sekali di depanku, aku menyukainya, sangat menyukainya. Karena ia hanya berani menampakkan sikap menggemaskannya itu hanya padaku, pria Halal nya.
“Jadi, masih marah?” Zi menggeleng dan menatap pria itu lekat, mencari kebohongan di wajah dan matanya lagi dan lagi. Za membantu menghapus air mata itu.
__ADS_1
Za menarik dagu gadis itu yang saat ini sedang dalam pelukannya, ia kembali mendaratkan ciuman di bibir favoritnya, lembut dan hangat, Zi semakin terbuai dengan perlakuan suaminya ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya itu hingga tiba-tiba, Zi menjauhkan badannya.
“Kak, Zi susah nafas, hidung Zi mampet, kelamaan nangis”
“Ya sudah kita ke kamar ya” Za dengan sigap menggendong gadis itu menuju singgasana mereka
Za mendudukkan istrinya di pinggir ranjang
“Bolehkah aku meminta hak ku malam ini?” Zi terdiam
“Hm… Itu... Hmmm.. Kak buku nikah kita sudah selesai belum?” Za hanya tersenyum
“Kenapa? Kamu takut aku pergi setelah melakukan sesuatu padamu?” Zi mengangguk malu sambil meremas-remas jarinya.
Kenapa aku jadi memalukan seperti ini sih, jujur sekali kamu Zi
“Insya Allah besok bukunya sampai, jadi masih mau ditunda?” Zi menggeleng malu.
“Aku boleh buka hijab mu?” Tanya Za yang disetujui dengan anggukkan pelan.
Za membuka hijab itu perlahan, ditatapnya wajah gadis itu lekat-lekat
“Kamu benar-benar sangat cantik sayang”
“Kak Za sudah, jangan memuji Zi terus, nanti lama-lama Zi bisa diabetes”
Za mencoba menidurkan istrinya di ranjang penuh sejarah itu
“Kak Za stop!, Kak Za ngga mandi dulu?”
“Aku sudah mandi tadi di kantor, masa kamu ngga bisa mencium wangi badanku? Kamu tahu tadi aku segugup apa di kantor? Aku tahu kamu sedang marah, makanya aku mengumpulkan keberanian ku dengan terlebih dulu mandi di sana, berdandan dengan tampan agar Kamu terpesona"
"Tapi jangankan melihat wajahku dan terpesona, mendengarkan aku bicara pun hampir tak mau”
“Maaf Kak” Zi kembali tertunduk karena merasa bersalah.
“Tak apa ini semua salahku” Za kembali mengusap kepala istrinya lembut
Kali ini Za benar-benar menidurkan istrinya di ranjang itu. Saat Za akan mencium bibirnya
“Kak Za sebentar, Zi gugup Kak” Za mengelus pipi itu perlahan
__ADS_1
“Pelan-pelan saja ya” Zi mengangguk sambil melawan rasa gugupnya. Za mulai mencium bibir gadis itu dalam, semakin lama Za semakin tak bisa mengendalikan nafasnya