
Zi tak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan anak itu, ia meneteskan air mata, hingga ia menyadari Tuan Hartono sedang turun dari tangga untuk kembali menuju ruang keluarga.
Zi segera menghapus air matanya, tak kuasa untuk lebih lama lagi berada di sana.
“Om maaf sepertinya Zi harus pamit pulang lebih dulu” Ucap Zi dengan wajah tertunduk
“Loh kenapa, tunggu Za dulu saja, pasti tak akan lama”
“Tak apa-apa Om, Pak.. Hm.. Mas Za sepertinya masih rindu dengan Tante, jadi Zi lebih baik pulang lebih dulu saja ya Om. Maaf sampaikan salam Zi pada Tante ya Om. Assalaamu’alaikum” Zi kembali mencium tangan pria yang sudah beranjak tua itu.
Dia masih menahan tangisnya sekuat tenaga hingga melewati Bapak Security rumah mewah itu.
Tanpa gadis itu sadari, ia malah berjalan ke arah yang berlawanan dari saat ia datang. Zi termasuk gadis yang sedikit sulit menghafal tempat atau lokasi, sehingga dia perlu dua sampai tiga kali untuk mengingat sebuah tempat dengan baik.
Saat ini pikirannya kalut, dia tak berfikir untuk segera pulang menggunakan taxi atau ojeg online. Saat ini ia hanya ingin berjalan kemanapun tak tentu arah, menenangkan pikirannya, mencari jalan keluar terbaik untuk pria yang sudah menunjukkan sikap baik padanya belakangan ini.
Ternyata benar, bahkan tak ada satu orangtua pun yang menginginkan menantu sepertiku, seperti orangtua Kak Rizky ternyata orangtua Pak Za juga memiliki kekecewaan yang sama. Bagaimana mungkin Zi kamu begitu percaya diri mengiyakan pinangan laki-laki yang sangat sempurna itu.
Orangtua mana yang akan rela jika anaknya bersanding dengan wanita udik sepertiku. Sungguh memalukan, kamu benar-benar terlalu percaya diri Zi, seharusnya kamu gunakan baik-baik cermin yang ada di depanmu selama ini, agar membuatmu semakin sadar pria seperti apa sebenarnya yang layak menikahi mu.
Karena kekalutannya yang berjalan tanpa arah, tanpa Zi sadari dia sedang melewati kavling perumahan yang belum selesai dibangun, bahkan di kanan kirinya masih terdapat beberapa tanah kosong yang sama sekali belum berdiri bangunan apapun.
Di depannya ia melihat segerombolan anak muda yang sedang terbahak-bahak berkumpul di beberapa teras rumah belum siap huni itu, sambil memegang botol minuman yang tak pernah Zi lihat sekalipun.
Zi mulai merasakan perasaan tak nyaman, hingga ia memilih untuk memutar arah dan berencana untuk segera mencari taxi online yang akan membawanya kembali ke apartemen. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan
“Ssstt.. ssst.. ada gadis cantik itu, bagaimana jika dia saja?”
“Iya benar tuh, lumayan kan gratis kita tak perlu berurusan dengan Si Mamih”
“Waah gila, Kamu lihat cara berpakaiannya sepertinya dia gadis baik-baik”
“Justru karena itu, pasti dia masih virgin, sudah jangan kebanyakan mikir cepat kita eksekusi”
__ADS_1
Zi terkejut, karena tiba-tiba dia dihadang oleh empat orang pemuda-pemuda tadi.
“Kalian mau apa? Jangan menggangguku, aku mau pulang” Badan Zi mulai menegang, dia mulai merasakan ketakutan yang teramat sangat.
Jika saja tadi dia langsung memesan taxi online mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.
Ya Robb tolong hamba-Mu ini, hamba tak sanggup jika harus menghadapi ujian baru lagi. Shinta seandainya kamu ada disini, kamu akan menghajar mereka dengan jurus beladiri mu bukan, aku merindukanmu Ta.
Zi kembali memegang ponselnya memutuskan untuk menghubungi suaminya, karena ia tak memiliki pilihan lain saat itu. Tapi belum sempat Zi memijit nomor itu, ponselnya dengan cepat direbut oleh salah satu pria berandalan itu.
“Kalian masih muda, jangan lakukan hal-hal bodoh! ” Ucap Zi dengan nada ketakutan
“Tak usah berceramah di depan kami, Kamu sepertinya sedang bersedih cantik, biarkan kami menghiburmu malam ini” Seorang pria dengan beraninya mulai menarik hijab Zi.
“TIDAAAAKK JANGAN SENTUH!!! PAK ZA TOLOOOOONGG!!!” Zi berusaha sekuat tenaga berteriak
Pak Za datanglah Pak, tolong Zi, setidaknya untuk terakhir kali aku meminta bantuanmu, datanglah Pak, Ya Robbi lindungi aku gadis yang penuh dosa ini.
“Pa, dimana Zi? Tanya Za pada Ayahnya yang sedang santai menonton TV
“Tadi dia pamit pulang duluan Za, ingin membiarkanmu berlama-lama dengan Mama katanya”
Za mulai gusar, dia mencurigai Zi mendengar obrolannya dan Bu Lidya. Dengan segera Za pamit kepada kedua orangtuanya untuk menyusul Zi pulang. Saat keluar dia bertanya pada security, kemana arah Zi keluar tadi, ternyata benar gadis itu memang bodoh bagaimana bisa dia melupakan jalan saat ia datang tadi.
Pikirannya mulai tak tenang, dia langsung teringat daerah sepi yang selama ini sering digunakkan pria-pria berandalan untuk meminum minuman haram itu.
Laju kendaraan yang tak seperti biasanya, membawa Za ke tempat yg tadi ditunjuk security rumahnya, hatinya mulai was was, dia tau istrinya sedang dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
Hingga ditangkapnya pemandangan yang membuat matanya membulat, dengan sigap dia menelepon Papanya untuk mengirim security komplek
“PAK ZA TOLOOONGGG!!!” saat mendengar teriakan itu, mata Za semakin membulat, dibiarkannya pintu mobil terbuka begitu saja, saat melihat pria-pria itu telah menarik hijab yang digunakan Zi.
Dia berlari sekencang yang ia bisa.
__ADS_1
“BRENGSEEEKK!”
BUGH BUGH BUGH!!!!
Za menghajar pemuda-pemuda itu tanpa ampun, sudah lama ia tak berlatih karate tapi bukan berarti jurus-jurusnya menguap begitu saja. Pria itu masih terlihat sigap dan cekatan.
Tak butuh waktu lama, ke empat pria tadi tersungkur, karena tenaga mereka sebenarnya sedang tak terkendali akibat minuman haram yang tadi mereka minum.
Tak lama security kompleks datang mengamankan pria-pria itu. Za yang melihat istrinya terduduk lemas, sambil menutupkan asal hijab itu dikepalanya, segera memeluk gadisnya.
“Maaf.. , aku tak bisa menjagamu” Peluk Za erat. Zi segera mengeratkan pelukannya di dada bidang pria itu, sambil menangis sesegukan. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, jika suaminya itu terlambat datang, sama sekali tak ingin membayangkannya.
Mereka berjalan menuju mobil dengan Za yang tetap memeluk istrinya.
Za membantu istrinya merapikan hijab yang sudah tak karuan bentuknya masih dengan kondisi terisak.
Za mulai menghidupkan mobilnya, setelah sebelumnya dia mengabari Papanya kalau Zi baik-baik saja, dan mereka memilih untuk segera pulang karena kondisi Zi yang sudah tak karuan. Saat mobil itu akan berjalan terdengar suara yang membuat Za bingung
“Sebaiknya tinggalkan Zi Pak, kita berpisah saja” Ucap Zi pelan.
Za terkejut mendengar penuturannya barusan, yang ada di benaknya adalah apakah gadis itu mendengar pembicaraannya tadi dengan Mama? Jika Ya harusnya ia tak mengatakan ini, ataukah dia tak mendengarkan sepenuhnya? Dia memposisikan badannya hingga berhadapan dengan Zi
“Kenapa?” Tanya Za tajam
“Zi hanya akan menyulitkan Bapak” Zi lagi- lagi terisak
Kenapa kamu jadi cengeng begini sih Zi. Batin Zi
“Tidak tak akan pernah” Jawab Za tegas
“Tapi Pak, keluarga Bapak sama sekali tak menyukaiku, Zi hanya akan menyiksa hidup Pak Za” Tak disangka Za mendekatkan wajahnya di depan Zi
“Sampai kapanpun aku tak akan melepaskanmu, kecuali Kamu berulah” Za mengelus kepala gadis itu lembut hingga sampai ke pipinya
__ADS_1