
“Kak Zi maaf, Kak Malik yang seharusnya jadi imam kita hari ini tadi beliau izin pamit pulang, karena tiba-tiba badannya demam.
Bahkan tadi diantar oleh anak-anak rohis, tadi juga Kak Malik titip pesan dan permohonan maaf karena sudah mengecewakan” Lapor salah satu anak rohis
Zi mulai kebingungan “Iqbal dimana?”
“Kak Iqbal sedang mengantarkan Pa Ustadz Kak, kalau jalanan tidak macet sih bisa sampai sebelum maghrib, tapi biasanya kalau Ramadhan seperti ini, sore hari macetnya bisa parah sekali Kak”
Rizky yang mendengar hal itu langsung angkat suara “Sudah Zi kamu tak usah khawatir, masalah itu biar aku yang urus”
Saat adzan maghrib berkumandang, acara buka puasa bersama pun mulai dilaksanakan. Setelah selesai membatalkan puasa yang tak lebih dari 5 menit, Sholat Maghrib berjama’ah pun dimulai.
Zi yang hari itu sedang berhalangan, membantu merapikan shaf anak-anak perempuan dari panti asuhan dan rumah singgah Pa Haji yang ikut diundang juga pada acara tersebut.
Rizky membaca Iqomah. Shalat maghrib pun dimulai
“Allohu Akbar”
“Bismillaahirrohmaanirohiim..”
Zi terpaku dengan bacaan sholat yang dilantunkan, meskipun bukan bacaan surat yang panjang, tapi bacaannya terbilang fasih dan tartil.
Masya Allah, indah sekali suaranya, tapi perasaan ini bukan suara Kak Rizky, aku pernah dengar saat Kak Rizky menjadi imam tapi suaranya tak seperti ini.
Sholat Maghrib pun selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan dzikir bersama. Panitia mulai membagikan makanan pada peserta hari itu.
Saat Zi membantu membagikan makanan, terdengar obrolan dari barisan mahasiswi perempuan.
“Ya ampun, tadi suara imamnya adem sekali, merdu”
“Ya Allah aku jadi jatuh cinta dengar suaranya, ngomong-ngomong yang jadi iman tadi siapa ya?
“Iya aku juga baru dengar, jangan-jangan anak rohis lagi”
Dan obrolan-obrolan lainnya, Zi pun dibuat semakin penasaran karena obrolan mahasiswi-mahasiswi tadi.
Zi akhirnya mulai menyantap makanannya bersama Zahra dan panitia lainnya. Tak disangka Rizky ikut bergabung di lingkaran yang mereka buat.
“Gimana imam yang tadi bagus tidak?” Tanya Rizky pada Zahra dan Zi
“Iya bagus ko Ki tartil, memang siapa yang jadi iman tadi?”Tanya Zahra
“Coba tebak siapa?” Zahra dan Zi kompak menggidikkan bahu
__ADS_1
“Tadi itu Za” Terang Rizky dengan senyum penuh kemenangan
“Masya Allah seriusan Ki?” Zahra masih tak percaya melihat Rizky yang mengangguk
“Alhamdulillah akhirnya anak itu sadar juga hehe” wajah Rizky terlihat bahagia
Zi yang hanya jadi pendengar obrolan merekapun terkejut mengetahui kenyataan siapa yang menjadi imam dengan suara merdu tadi.
Alhamdulillaah ternyata orang itu sudah benar-benar menemukan cahayanya.
“Aku itu senang sekali Zahra melihat perubahan Za, kamu tahu kan dia seperti apa dari awal masuk kampus, bahkan saat kamu bawel di dekat telinganya sekalipun untuk memintanya sholat tak pernah digubris sama sekali bukan.”
“Iya aku juga senang mendengarnya, syukurlah dia sudah dewasa juga, masa iya disuruh sholat saja lebih susah dari nyuruh anak bocah. Memang dari kapan dia sholat lagi?” Hal inilah yang membuat Zahra saat itu kesal ingin menimpuk pria itu dengan bukunya, saking bebalnya tak mau disuruh sholat.
“Mungkin ada sekitar setahun yang lalu, tapi progressnya aku lihat benar-benar cepat, aku saja nih yang mulai belajar mengaji sejak SMA sepertinya tersalip progresnya anak itu” Rizky menjelaskan sambil melanjutkan makannya
Flashback On
“Lo gila ya Ki, jangan bercanda” Za mulai sewot
“Idih siapa yang bercanda, lo mau acara ini gagal hanya karena enggak ada imam sholat?”
“Lah kan ada lo, kenapa enggak lo saja yang jadi imam Ki?”
“Alasan saja lo, gue belikan obat batuk deh sekarang gampang kan?”
“Ya kali batuknya langsung sembuh, hanya sholat maghrib saja Za, kalau Isya dengan Tarawih nanti biar diserahkan ke Iqbal, beres kan ya ya oke? oke sipp”
“Apa-apaan lo nanya dijawab sendiri, musibah banget ya gue punya sahabat iseng satu kaya lo”
Flashback Off
Setelah mereka selesai makan, terlihat Bu Laila dan Aldi menghampiri Zi. Aldi terlihat tampan menggunakan koko modernnya ditambah perawakan tinggi dan kulit putihnya.
Senyumnya pun terlihat menghiasi wajah pria tampan itu.
“Ya ampun Zi masih sibuk ya?”
“Aduh Bu maaf tadi Zi belum sempat menyapa Ibu dan Kak Aldi, makasih banyak ya Bu, Kak Aldi sudah bersedia datang kesini"
“Iya sama-sama, tadi Aldi nih yang semangat sekali ingin datang kesini, tapi kurang tahu juga semangat mau dengar Ustadz nya atau mau lihat yang lain” Goda Bu Laila
Rizky yang mendengar perkataan Bu Laila menatap Zi dan Aldi bergantian. Mulai mencurigai sesuatu pada Ibu dosennya ini.
__ADS_1
Tak disangka ternyata ada sepasang mata dari sudut yang lain memandang ke arah Zi dan pria yang bersama Bu Laila.
“Ibu pamit pulang lebih dulu tak apa-apa ya Zi, kita mau sholat tarawih di rumah saja”
“Iya tidak apa-apa Bu, makasih banyak support nya ya Bu, Kak Aldi” Zi mencium tangan Bu Laila.
Setelah Bu Laila dan Aldi beranjak Zahra mulai kepo.
“Tadi siapanya Bu Laila Zi, anaknya ya? Jangan-jangan mau dijodohkan sama kamu lagi, sampai diajak-ajak kesini” Zahra mulai iseng
“Ish kak Zahra ada-ada saja, ya bukan begitu juga lah Kak, memang ingin datang saja mungkin”
“Enggak mungkin, Kakak mencium ada aroma-aroma perjodohan hihi” Zi mencubit lengan Zahra, obrolan kedua gadis itu masih tak terlewat dari pendengaran Rizky
*****
Di dalam mobil
“Bang, jadi bagaimana Zi?”
“Apanya yang bagaimana Ma?”
“Hm.. anak Mama suka pura-pura, kamu itu sudah S2 masa diberi kode begitu saja tak faham”
“Ya keliatannya baik, sopan, untuk selebihnya sepertinya nya Mama lebih tahu” Aldi mulai berkomentar
“Maksud Mama, kamu tertarik tidak sama Zi?”
Aldi hanya tersenyum, di dalam hatinya berkata Mamanya ini ko ngebet sekali menjodohkan dia dengan mahasiswa kesayangannya itu.
“Biar waktu yang jawab ya Mamaku sayang, lagipula tipe seperti Zi begitu pasti enggak akan mau pacaran kan Ma?”
“Lah… memang siapa yang mau suruh kamu pacaran?”
“Lah terus memang Zi mau kalau diajak nikah?”
“Nah kan kan keceplosan, mulai nih menunjukkan isi hatinya. Jadi benar kan kamu tertarik dengan Zi, kalau masalah itu, asal kamu siap nanti Mama bisa coba tanya ke Zi serius” Aldi lagi-lagi tersenyum
“Idih kamu ini dari tadi senyum-senyum terus, jadi gimana?”
“Iya Abang serahkan semua ke Mama saja”
“Alhamdulillaah, nah begitu dong tak usah malu-malu kucing begitu. Yang tadi semangat sekali mau datang ke acara, sampai ganti baju berapa kali kamu Bang?”
__ADS_1