
Beberapa kali Zi mengedarkan pandangannya pada pembeli yang berkunjung di sana. Sepertinya aman, begitu fikirnya, ia tak tahu bahwa sejak mereka datang ada segerombolan pria bermotor besar lainnya mengawasi mereka dari jarak yang tak terlalu jauh.
“Pak Za bagaimana bisa tadi melihatku di Mall?”
“Saya tadi berada di café yang sama dengan kalian” Zi hanya mengangguk faham, tak ingin bertanya untuk urusan apa, toh rasanya itu tak penting juga buatnya.
Kegugupan Zi perlahan hilang karena lagu yang di bawakan pengamen-pengamen itu. Bahkan beberapa kali ia terdengar mengikuti nyanyian yang ia sukai.
Pria di sebelahnya membiarkan gadis itu berlama-lama menikmati sajian malam itu, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan Pukul dua belas malam.
“Astaghfirullohal’adzim Pak Za kita kemalaman” Zi dengan terburu-buru meraih tas nya, lalu segera beranjak dari tempat ia duduk saat itu.
Setelah Za membayar makanannya mereka segera beranjak menuju motor. Saat Zi memegang pundak pria itu untuk mencoba naik, tangan Za dengan beraninya menahannya tanpa bicara.
Zi yang gelagapan menunda maksudnya itu, ternyata helm Zi belum terkunci, dan dengan manisnya pria itu memasangkan helm gadis yang baru beberapa hari ia nikahi itu.
“Begini saja lupa” Zi yang sedang tak berniat untuk berdebat, karena sedang mengatur detak jantungnya sendiri, memilih untuk segera menaiki motor itu.
Baru beberapa meter mereka pergi, terlihat gerombolan anak-anak motor tadi mengikuti motor Za. Za tampak mengamati motor itu, memastikan apa ia mengenalnya atau tidak.
Salah satu motor berjalan menyusul Za, memberikan kode supaya Za meminggirkan motornya, tapi Za tak menggubris permintaan pria itu.
Jika saja Zi saat ini sedang tak bersamanya, dia pasti akan segera turun dan memastikan apa maunya mereka tanpa rasa takut sedikitpun.
Zi yang mulai ketakutan mulai memegang jaket pria di depannya. Padahal tadi ia sama sekali tak ingin melakukannya, alhasil yang ia pegang hanya bagian samping atau belakang motornya untuk berpegangan.
“Zi pegang yang kuat, saya akan mengebut”
“Ini saya sudah pegang Pak, apa mereka begal?”
__ADS_1
Ish kau bodoh sekali Zi, mana ada begal menggunakan motor sekeren itu, tapi bisa saja kan motor itu hasil begal mereka, lalu digunakan saat beroperasi kembali.
Pikiran Zi mulai tak menentu.
“Pak Za, ayo kita cepat pulang Zi takut”
Karena wanita itu masih tak mengikuti perintahnya juga, akhirnya Za menarik paksa kedua tangan Zi, agar segera memeluk pinggangnya erat, karena kali ini ia akan benar-benar menaikkan kecepatannya, jiga dia hanya memegang seperti tadi, khawatir badannya terpelanting tak bisa menjaga keseimbangan.
Zi kaget bukan kepalang, untuk pertama kalinya ia duduk sedekat ini dengan seorang pria, dan saat ini dadanya menempel pada punggung pria itu
Aaaaa Tidaakkk!!!
Karena takut wanitanya akan melakukan aksi unjuk rasa, Za benar-benar mempercepat laju motornya hingga pria-pria tadi tak bisa mengejar keberadaan motor Za.
Za langsung membawa gadis itu ke depan pintu gerbang kosannya, bukan di depan gang. Zi yang sudah tak bisa berpikiran jernih, seolah pasrah mau dibawa kemanapun oleh pria itu, yang terpenting dia bisa secepatnya sampai ke kamarnya.
Zi turun dari motor dengan badan lemas nya, berjalan gontai membuka kunci gerbang kosannya itu, sudah tak ingin memikirkan ada yang melihat mereka atau tidak.
Zi merebahkan diri dengan perasaan tak menentu, hingga akhirnya rasa lelah membawanya sampai ke alam mimpi, berharap hal yang ia alami malam ini benar-benar hanya bunga tidur.
*****
Senin pagi, Zi berusaha untuk bersikap sewajarnya saat dengan terpaksa harus memberikan laporan pada pria itu. Karena pekerjaan kantor yang sedikit banyak, Zi memutuskan untuk bekerja lembur hari ini bersama tiga orang partner kerjanya.
Pukul sembilan malam, partner kerja Zi izin untuk pulang lebih dulu, karena jarak rumah mereka yang terbilang jauh, sedangkan Zi memutuskan untuk beranjak pukul sepuluh nanti.
Seperti biasa, ia berjalan melewati gang menuju kosannya. Ia terkejut, karena selama ini saat ia pulang malam pukul delapan tak pernah mendapati pemandangan seperti di depannya saat ini.
Di sana terdapat sekelompok pemuda yang terlihat sedang mengobrol sampai menghabiskan jalanan di gang tersebut, Zi yang bingung dan risih jika harus melewati sekelompok pemuda itu, mengedarkan pandangannya ke belakang, berharap ada warga lain berniat melewati jalan yang sama sepertinya.
__ADS_1
Tapi nihil dia tak menemukan seorang pun di sana, akhirnya Zi memutuskan melewati jalan lain.
Tak ada yang pria berkerumun di sana, berarti aman, hanya ada dua orang pria di belakangnya, sepertinya warga sekitar, semoga saja pikirnya.
Tapi entah kenapa semakin lama, perasaan Zi semakin tak enak, pria-pria tadi seolah sengaja berjalan perlahan di belakangnya.
Saat Zi berusaha untuk melangkah sedikit cepat, kedua pria tadi serta merta mendekat padanya.
“Serahkan barang-barangmu” Zi yang terkesiap karena merasa ada sebilah pisau yang di tempelkan di pinggangnya. Dengan perasaan takut dan gemetar Zi menyerahkan tas yang ia pegang, tak memikirkan hal lain, hanya keselamatan nya saat ini yang utama.
Setelah Zi pasrah menyerahkan barangnya, dan bersiap untuk berlari menuju kosannya terdengar
BUUUGGG!!!
Flashback On
Malam itu, ternyata tak hanya Tim Drafter yang melaksanakan kerja lembur, begitupun dengan Boss mereka. Tanpa Zi tahu sejak tadi Za memantau CCTV yang berada di ruangan gadis itu.
Sebenarnya semenjak Pukul sembilan dia sudah menyelesaikan pekerjaannya, tapi karena melihat gadis itu belum beranjak, entah kenapa perasaannya menjadi tak enak.
Saat terlihat Zi bersiap-siap meninggalkan mejanya, Za dengan serta merta pula beringsut meninggalkan mejanya untuk segera menuju mobilnya.
Pria itu melihat Zi keluar dari gang yang biasanya ia lewati, sempat bertanya-tanya gadis itu akan pergi kemana lagi, ternyata gadis itu tak nyaman jika harus berjalan melewati segerombolan pemuda yang berkumpul hingga hampir menghabiskan jalan yang tak besar itu.
Melihat jalan alternatif yang Zi lewati saat itu sedang sepi, entah kenapa pikiran Za memerintahkannya untuk bertahan sejenak, memastikan ia baik-baik saja.
Ternyata feelingnya benar, wanita itu sedang dalam bahaya. Saat melihat pria-pria tadi mengambil tas milik gadis itu, ia segera berlari meninggalkan mobilnya.
Flashback Off
__ADS_1
Zi memastikan apa yang terjadi di belakangnya, ia menghentikan langkahnya, saat melihat apa yang terjadi. Kedua pria tadi lari terbirit-birit setelah wajahnya dibuat babak belur.
Zi menatap ngeri saat pertarungan tadi, karena kedua pria itu membawa senjata tajam, tapi dengan mudahnya senjata itu Za rebut.