Hanya Zi

Hanya Zi
Tak Disangka


__ADS_3

Giliran ditukar dengan anak laki-laki mereka seolah-olah kompak ingin mengerjai Zi, dengan wajahnya yang terlihat lucu saat ketakutan, dengan entengnya mereka bilang


“Sudah enggak apa-apa pakai saja Zi, orangnya enggak akan gigit kamu kok, biar nanti suruh Reno saja yang kembalikan”


“Oh iya ya benar juga ya. Ya sudah deh kalau begitu”


Dan akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kelompok Zi akhirnya maju di urutan ke 3 karena kelompok lain ada yang sudah lebih cepat siap tampil.


“Sebelum pentas kita berdo’a dulu Bismillaahirrohmaanirrohiim, Ya Allah semoga nanti kakak-kakaknya tak ada yang ngambek Ya Allah, enggak ada yang baper, kalau tidak masa depan kami di kampus terancam Ya Allah..Aamiin” Reno mengakhiri do’anya, disertai cekikikan dari teman-teman kelompok lainnya.


Pertama Reza tampil menjadi petugas TATIB (tata tertib) yang tugasnya memastikan anak-anak datang tepat waktu tanpa menggunakan kendaraan dari jarak 250m, memastikan barisan rapih, memastikan rambut tak ada yang gondrong, dan sebagainya.


Reza maju dengan PD nya membawa Pentungan dan Pluit, diikuti 2 orang teman Zi yang membawa TOA


Tak pelak hal itu membuat gelak tawa di barisan panitia


“Hey Bos TATIB, sejak kapan loe ngamanin anak-anak pakai pentungan dan pluit haha” ejek teman ketua TATIB


“Waaah enggak sopan banget itu bocah, pakai niru-niru gue segala, mana enggak elit lagi pakai alat macam begitu haha”


Sebenarnya panitia yang berada di posisi TATIB , sosok aslinya bukanlah sosok yang galak, menyeramkan, banyak yang justru berbanding terbalik dari tugas mereka saat ini, tapi berhubung tuntutan peran jadi mereka dituntut untuk profesional, bahkan untuk urusan lirik melirik anak baru sekalipun.


Dibawah pimpinan Za, tak ada yang berani mengerjai anak-anak MOS diluar batas, apalagi anak perempuan, bisa kena semprot bos nanti termasuk yang genit tebar pesona dan hal lainnya hukumannya dijamin akan berat, karena mencoreng nama baik organisasi.

__ADS_1


Penampilan Reza selesai diakhiri tepuk tangan meriah dari peserta MOS lainnya, dilanjutkan penampilan teman-teman Zi yang lain, ada yang memerankan tokoh kakak panitia yang konyol, kakak yang centil, kakak yang dirasa paling cantik, kakak panitia yang kelewat jutek tak pelak mengundang tawa peserta MOS yang lain, karena dialog mereka dibuat selucu mungkin, jangan tanya itu dialog hasil karya siapa tentu saja sang ketua geng.


Terakhir ketua geng Zi yang akan tampil, akan jadi siapakah dia?


Di sisi yang lain Za menatap tajam ke arah Reno “Perasaan itu bukan jas gue yang tadi dia pinjam, lah terus jas tadi siapa yang pakai?”


Za mulai mengedarkan pandangannya akhirnya dia menangkap sosok itu “Laah ko malah dipakai anak itu?” Ya, yang tadi Zi pegang adalah jas almamater ketua BEM kampus ini.


Karena ukurannya besar di badan Zi yang imut itu, akhirnya Zi menggulung di bagian lengannya.


Dengan pedenya Reno berjalan cool, menggunakan kacamata lalu memegang mic


“ehm..ehm.., teman-temen ada yang tahu gue akan jadi siapa?”


“Naaah, betul cerdas kamu, gue akan memerankan Ketua BEM kita” diselingi tepuk tangan dan teriakan riuh dari panitia dan peserta, tak lama ada peserta MOS pria mengangkat tangan.


“Mohon izin mau tanya, memang sejak kapan Kak Za pakai kacamata hitam?”


“Ini nih yang seperti ini nih yang harus serba dijelaskan, kacamata ini membantu seorang Reno agar terlihat keren, secara kalau gue enggak pakai kacamata, memangnya gue akan berhasil keliatan keren?" Reno mulai sadar diri bahwa dia tak cukup keren memerankan Za, tapi dirinya ngotot karena harus ada salah satu dari mereka yang berani memerankannya, meskipun taruhannya mendapat tatapan tajam dari pria dingin itu.


"Nanti gue gagal dong memerankan ketua BEM kita yang keren dan dipuja-puja gadis-gadis disini, benar tidak?”


"Bagus bagus ternyata kamu sadar diri Ren" ucap pria yang tadi menunjukkan jari, karena Reno sudah mulai dikenal anak baru angkatan itu karena kegilaannya.

__ADS_1


Mereka kembali tertawa diikuti anggukan pria tadi yang mengangkat tangan sambil tersenyum.


Reno mulai beraksi, memeragakan berjalan cool diikuti tatapan teman-teman Zi yang ceritanya menjadi pemuja Za, Reno menghentikan langkahnya dan berkata “Biasa aja mandanginnya enggak usah sampai keluar air liur begitu” sontak mereka tertawa kembali, diselingi dengan kebiasaan-kebiasaan Za yang lain, dari mulai tatapan tajam, irit bicara jika tak perlu dan sebagainya.


Akhirnya penampilan kelompok Zi usai, diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari semua peserta dan panitia. Reno berhasil memerankannya meskipun tetap gagal dari sisi wajah.


Satu persatu kelompok tampil, akhirnya menginjak ke acara penutupan, dimana akan diumumkan kelompok terbaik, dan peserta teraktif di Masa Orientasi Tahun ini.


Tak disangka, tak dinyana, peserta teraktif ternyata dimenangkan oleh Reno, sang ketua geng Zi yang tak ada habisnya membuat hidup suasana oleh tingkah-tingkah konyolnya, bahkan tak jarang saat panitia yang sebelas dua belas dengan Reno sedang stand up comedy di depan, secara spontan Reno menimpali tanpa harus ada teks maupun skenario sebelumnya, memang benar-benar bakat alam anak betawi satu ini.


Untuk kelompok terbaik dan terkompak adalah kelompok Zi. Tak pelak hal ini menambah kehebohan yang terjadi di kelompok itu, hingga akhirnya Zi mewakili kelompoknya maju ke depan berjalan beriringan dengan Reno.


Reno mengucapkan sepatah dua patah kata “Terima kasih gue ucapkan kepada Enyak dan Babeh yang sudah mendidik gue, sehingga gue enggak bisa berhenti ngebanyol, barangkali lucu itupun, bicara melulu ngelantur sana sini mengalahkan perempuan bawel, bakat alam yang sulit untuk gue hindari ya karena bibitnya dari Enyak Babeh gue, jadi kepada kakak-kakak panitia semua, gue minta maaf jika ada salah dan khilaf kalau enggak dimaafkan bisa berabe hidup gue 5 Tahun di kampus ini kan” Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tak lama terdengar teriakan dari arah panitia “Ren, itu temannya suruh bicara juga!”


Dito mulai iseng ingin mengerjai Zi, yang langsung dibalas tepukan buku di kepalanya oleh Za yang saat itu ada di samping Dito.


“Iseng banget jadi orang"


Secara refleks Reno menyerahkan mic nya pada Zi,


“Tak usah grogi Zi, biasa saja anggap saja disini aku semua haha”.

__ADS_1


Reno tak tahu saat di SMA nya dulu Zi sering ikut speech kontes, diminta memberikan sambutan oleh Kepala Sekolah bahkan oleh teman-teman sekelasnya sekalipun jika mereka sedang ada kegiatan sekolah.


__ADS_2