
“Tapi setau aku, Zi belum berniat menikah dalam waktu dekat, mau cari kerja dulu katanya, ingin membahagiakan orangtuanya”
“Yaaah, berarti harus menunggu?” Ucap Rizky kecewa
“Memangnya kamu mau beri makan istri kamu apa, sudah dapat kerja?”
“Alhamdulillah sudah Zahra, aku bergabung dengan Perusahaan ayahnya Za” Terang Rizky
“Bukannya Ayah kamu punya perusahaan sendiri?”
“Iya ada, hanya aku ingin bebas saja, tak ingin terkukung, supaya lebih mandiri” Zahra hanya manggut-manggut mulai memahami.
“Ya bisa saja kalau mau coba ta’aruf sekarang, tapi barusan sekali aku tanya anaknya jawabannya begitu”.
“Ya sudah sepertinya aku harus sedikit bersabar ya untuk mendapatkan berlian” Zahra mengacungkan jempolnya.
Malamnya saat Zi sudah sampai di kosan, hp nya berbunyi tanda ada pesan masuk
JAUHI RIZKY!!!
“Ya Allah ini maksudnya apa ya? Jauhi Rizky bagaimana maksudnya? Memang siapa juga yang dekat-dekat Kak Rizky, kiriman orang iseng sepertinya” Zi memilih untuk tak menggubris pesan itu, karena dia sama sekali tak berniat untuk mendekati Rizky.
*****
Kurang lebih selama dua bulan Zi tak pernah mengunjungi rumah singgah Pa Haji, dan hari ini Zi merasa rindunya sudah tak tertahan untuk bertemu anak-anak solih menggemaskan itu.
Zi menatap bangunan itu takjub, banyak yang berubah, bukan banyak tapi banyak sekali Zi hampir tak bisa mengenali bangunan di depannya ini.
“Masya Allah Pa Haji, rumahnya di renovasi?”
“Iya Nak Zi, Alhamdulillah ada donatur yang baik sekali, bersedia membangun rumah ini, bahkan kalau Nak Zi lihat tanah Bapak ini dimaksimalkan pembangunannya, jadi Bapak bisa menambah jumlah anak asuh disini”.
“Alhamdulillah Pa, Zi ikut senang melihatnya. Ko bisa Bapak dapat donatur sebesar ini?”
__ADS_1
“Bapak tidak melakukan apapun Nak Zi, orang ini yang memang biasa sering berkunjung kesini menemui anak-anak”
“Oh ya, Zi kenal orangnya Pa Haji?”
“Kenal sekali Nak, dia Nak Za”
Zi tertegun, sambil memandangi bangunan di depannya ini
Pantas saja, bangunannya terlihat terkonsep dengan baik, ternyata orang itu memang punya karakter yang tak bisa ditebak
“Nak Zi tahu, bahkan sudah tiga Bulan terakhir ini, Nak Za memberikan donasinya rutin untuk rumah singgah ini. Bapak sama sekali tidak menyangka anak muda itu sampai terfikir untuk membantu adik-adiknya disini agar mereka bisa makan dan sekolah dengan layak”
“Alhamdulillah Pa, Allah yang sudah menggerakkan kebaikan hati kak Za”
Rumah singgah itu direnovasi menjadi 2 Lantai dengan memaksimalkan jumlah tanah yang ada, hanya tersisa untuk parkir motor, teras dan taman agar rumah tersebut terlihat asri.
Lantai pertama terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar Utama Pa Haji, ruang pertemuan (ruang berkumpul), tempat mencuci, tempat menjemur.
Sedangkan di lantai atas full digunakan untuk tempat tidur anak-anak, dimana di dalamnya sudah dilengkapi tempat tidur 2 tingkat yang masing-masing kamar berisi 4 buah tempat tidur, 4 buah meja belajar, dan 4 buah lemari pakaian, serta kamar mandi di masing-masing kamar.
“Ta, sudah lama sekali kita tidak kumpul dengan Ina, anak itu kemana saja?”
“Hm.. jangan ditanya dia sibuk di luar, tak tahu tuh sibuk apa saja, bahkan beberapa kali dia nyaris tuh terkunci di luar gerbang gara-gara hampir lewat jam malam”
“Ya Allah, kumpul deh yuk sekalian kita ngobrol, aku khawatir sekali sama anak itu”
“Jadi sama aku tak khawatir nih?” Tanya shinta
“Kalau kamu sih hampir tiap hari juga ketemu sudah seperti anak kembar kan kita”
*****
Di Gedung lantai 15 Hartono Grup
__ADS_1
“Assalaamu’alaikum Pa Boss, mau jam berapa kita makan siang?” Tanya Rizky pada Za
“Wa’alaikumussalaam sebentar lagi ya Ki, tanggung nih”
“Sudah dilanjut nanti saja, kita belum sholat lagi”
“Ya sudah oke oke” Za menyerah setelah diancam urusan sholat.
Sejak tiga Bulan Lalu, Za telah resmi menjadi CEO di Hartono Grup, Sedangkan Rizky berada di Posisi Drafter.
Awalnya Za akan menjadikan Rizky sebagai asisten atau orang kepercayaannya di kantor tersebut, tapi Rizky menolak mentah-mentah karena niat awal Rizky bergabung di sana, hanya ingin mengasah kemampuan sekaligus menghindari kekangan orang tuanya, agar ia bisa hidup mandiri tanpa bayang-bayang nama besar orangtuanya.
Za menjadikan Silvi teman di kampus sekaligus teman di BEM nya dulu sebagai sekretaris, karena kemampuannya yang dirasa cukup mumpuni, meskipun dulu sempat terdengar kabar bahwa Silvi memiliki ketertarikan kepada Za, tapi karena sikapnya masih terbilang normal tak seperti Jessica dan Sisil, makanya Za berani menjadikannya sekretaris dengan pertimbangan kemampuan yang dia miliki.
Sedangkan untuk asisten Pribadinya, Za menjadikan Rio orang kepercayaan Ayahnya untuk membantunya di Perusahaan tersebut, dengan pertimbangan Rio akan banyak membantu pekerjaan Za dengan pengalamannya di perusahaan itu selama 5 Tahun.
Awalnya Za tak ingin bekerja di perusahaan ayahnya, sama seperti Rizky dia berniat untuk terbebas dari nama besar orang tuanya, tapi mempertimbangkan kesehatan Ayahnya yang saat ini tinggal di luar negeri bersama Ibu dan Adiknya untuk menjalani pengobatan, serta dengan syarat merenovasi rumah singgah Pa Haji dan menjadi donatur tetap, Za akhirnya bersedia untuk menjadi CEO di sana.
Alasannya cukup sederhana karena Za menemukan ketenangan setiap mengunjungi rumah itu.
Pa Haji yang selama ini membimbingnya untuk mengingat kembali bacaan sholat, memperbaiki gerakannya, serta belajar cara membaca Al-Qur'an dengan tartil.
Bahkan tanpa merasa malu sedikitpun kadang Candra ikut membantu Pa Haji membimbingnya.
Untuk ilmu lainnya belum sepenuhnya Za pelajari mengingat kesibukannya selama ini yang masih terasa sulit untuk membagi waktu lebih lama di sana.
“Sepertinya gue harus renovasi tempat sholat ini, masih kurang berasa nyess, mana tempatnya kurang besar lagi” Ucap Za saat memandangi Mushola yang terletak di lantai satu, samping kantin gedung tersebut
“Ya gue setuju Za, gue harap dengan adanya lo sebagai pemimpin saat ini, bisa membawa energi positif untuk anak-banak buah lo, karena yang gue tahu ketenangan rohani seseorang bisa berpengaruh besar terhadap perkembangan diri, orang sekeliling bahkan meningkatkan kinerja di kantor”
“Iya Ki, kalau itu gue setuju, nanti gue akan bicarakan ini dengan Papa”
Merekapun mulai beranjak, meninggalkan mushola menuju kantin di kantor tesebut. Kantin yang cukup mewah dan memenuhi setiap kebutuhan perut karyawan di sana dengan berbagai menu yang menjadi pilihan setiap harinya. Saat Za dan Rizky mulai memasuki kantin tersebut semua karyawan menganggukan kepalanya tanda hormat.
__ADS_1
Sebagian diantara mereka ada yang berbisik mengagumi sosok muda tampan dan cerdas itu, disisi lain ada yang mencibir karena merasa usianya yang terlalu muda tak akan mungkin sanggup memikul beban perusahaan sebesar itu.