Hanya Zi

Hanya Zi
Tragedi Motor Merah


__ADS_3

“Ya Alloh mereka kenapa memberi kita barang dan uang sebanyak ini?”


“Mereka baik sekali Kek” Khafi langsung memeluk kakek yang teramat sangat ia cintai itu, menciuminya layaknya barang berharga yang patut ia jaga


“Ini pasti karena Kakek baik” Khafi kembali berceloteh polos


“Kalau Kakek tak baik, mana mungkin Alloh memberi kita ini semua?” Pa Saeful tampak mengelus-ngelus kepala cucunya.


Ia menerawang pahitnya kehidupan yang ia jalani, ditinggal meninggal oleh istri tercinta, lalu ditinggalkan anak dan menantu satu-satunya yang pergi entah kemana dengan meninggalkan Khafi bersamanya.


*****


Di dalam mobil Zi kembali menangis. Dia membayangkan betapa menyedihkannya kondisi Khafi tadi, bahkan jika dibandingkan Lila dan Chandra kedua anak itu jauh lebih beruntung dari Khafi karena bisa tinggal di tempat yang layak dengan makanan dan pendidikan yang terjamin dari Papa Mertuanya.


Za yang faham dengan perasaan istrinya menggenggam tangan gadis itu, lalu mengecupnya


“Kamu pasti sedih ya?” yang hanya dijawab anggukan oleh Zi


“Tadi aku juga menyelipkan sedikit uang disana, semoga membantu mereka ya” Zi menatap takjub suaminya, tersenyum lalu mengecup pipi pria itu.


“Eh..” Za spontan memegang pipinya


“Terimakasih ya Kak” Zi mengelus pipi suaminya yang dihadiahi ciuman di jemari lentik itu


“Sama-sama sayang…” Za kembali mengingat sesuatu


“Jangan lupa malam ini 3 kali ya”


“Hah, kita kan seri Kak jadi sama-sama tak dapat hadiah”


“Enak saja, yang jelas aku tidak kalah, kalah saja dapatnya satu apalagi seri” Za mulai meluncurkan modus nya


“Ih aturan darimana itu?” Zi masih tak terima, tapi memilih untuk tak memperpanjang urusan dengan suaminya itu.


*****


Keesokan harinya saat sarapan Za membuka obrolan


“Hari ini ruanganku akan sedikit di rombak, kamu ada ide apa?”

__ADS_1


“Memangnya Kak Za mau rombak seperti apa?”


“Aku ingin membuat ruangan untuk istirahat di samping ruang kerja” Zi tampak manggut-mangut sambil sedikit berpikir


“Sepertinya untuk urusan itu, Kak Za lebih faham. Tapi kalau Kak Za minta pendapatku jika ada aquarium tampaknya akan lebih bagus untuk relaksasi”


“Oke ide bagus”


Dan hari itu pekerjaan renovasi ruangan CEO benar-benar dimulai, tak akan memerlukan waktu lama karena Za menginginkan ruangan itu segera rampung. Za menempatkan sebuah kaca besar tembus pandang di dinding sebelah kiri ruang kerjanya.


Kaca yang saat dilihat dari ruangan CEO hanya terlihat sebagai cermin, sedangkan jika dilihat dari ruangan istirahatnya maka ia bisa melihat aktifitas apapun yang berada di ruangan CEO.


Sore harinya saat pulang kantor Zi dan suaminya berniat mengunjungi kediaman Pak Saeful dan Khafi, Zi berangkat lebih dulu menggunakan taxi online sedangkan Za segera menyusul 5 menit kemudian.


Zi berhenti di sebuah gang yang kemarin ditunjukkan Pa Saiful, ragu-ragu untuk masuk Zi memilih untuk menunggu suaminya, tak berselang lama Za muncul dengan memberikan senyum menawannya.


“Kenapa sekarang Kak Za sering sekali tersenyum pada Zi?”


“Tak suka? lebih suka aku memasang wajah dingin?”


“Kenapa pertanyaan Zi selalu dijawab pertanyaan lagi sih? Bisa tidak to the point langsung jawab saja. Kenapa jatuh cinta ya?”


“Ihhh Kak Za!” Zi berusaha menyusul kaki panjang suaminya


“Sejak kapan memangnya?” Za hanya tesenyum tak menjawab pertanyaan gadis itu.


Za melihat ada seorang Ibu yang sepertinya bisa dijadikan tempat bertanya.


“Bu maaf, Ibu tahu rumah Pak Saiful?”


“Oh Pa Saiful Kakeknya Khafi? Itu yang di depan Mas yang banyak tumpukkan barang bekas. Mas sama Mba ada perlu dengan Pak Saiful?”


“Iya Bu, ada keperluan sedikit”


“Kalau jam segini, biasanya Pak Saiful dan cucunya sedang berkeliling, lebih baik kalau berkunjung saat pagi hari. Maaf Mas dan Mba kenal Pak Saiful dimana?” mereka hanya saling pandang kemudian djawab oleh Zi


“Kemarin kami bertemu di jalan tak jauh dari sini Bu” Ibu tersebut terlihat manggut-manggut mengerti, sambil melihat penampilan kedua orang yang ada di hadapannya ini


“Pak Saiful itu orang baik, pekerja keras padahal usianya sudah mulai sepuh. Bahkan kemarin saya diberi beberapa bahan makanan, katanya dapat rezeki dari orang baik dan jumlahnya terlalu banyak, jadi Beliau membagi-bagikan sebagian makanan itu pada kami tetangganya disini” kembali sepasang suami istri itu saling pandang dengan tatapan takjub.

__ADS_1


Setelah Ibu itu pergi meninggalkan mereka, Za memilih untuk melihat kediaman Pa Saiful dari kaca yang sudah mulai pudar warnanya. Bangunan setengah permanen itu sudah sangat-sangat tidak layak, mereka kecewa karena tak bisa bertemu dengan dua orang menakjubkan itu, tapi Zi berniat saat weekend nanti akan kembali mengunjungi mereka dengan harapan semoga berjodoh bisa bertemu kembali.


Saat mereka berjalan menuju tempat diparkirkannya mobil mereka. Zi yang terlihat sedikit melamun tak menyadari jika langkah kakinya terlalu mendekati bagian jalan raya sehingga tak lama


“Tidiiiiit” sebuah motor sport hampir menabrak Zi.


“Woi kalau jalan itu di pinggir!” pria itu terlihat mengumpat. Za yang mencoba menahan emosinya, membantu gadis itu untuk berdiri.


“Kamu tak apa-apa sayang, ada yang sakit?” Zi memandang wajah suaminya dengan tatapan bingung, seolah mengingat sesuatu. Tak mau kembali melamun akhirnya mereka memutuskan untuk menunaikan sholat Maghrib di mesjid yang tak jauh dari apartemen mereka.


Saat berada di parkiran, lagi-lagi Zi memandang motor sport milik suaminya, hingga akhirnya ia menemukan sesuatu. Zi menyiapkan makan malam mereka yang kali ini ia beli dari aplikasi makanan online menyiapkannya di tempat makan favorit mereka, duduk di atas karpet di ruang tengah.


“Enak tidak Mas?”


“Hm… tumben coba ulangi sekali lagi?” Za sedikit aneh dengan panggilan istrinya kali ini


“Mas… makanannya enak tidak?” Kali ini Zi berbicara dengan suara lebih lembut sambil mengerjap-ngerjapkan matanya agar terlihat imut


“Enak sekali sayang. Coba panggil lagi?”


“Ga mau!!! Sejak kapan Kak Za suka dipanggil dengan sebutan Mas?”


“Sejak istriku memanggil seperti itu” jawab Za dengan senyum cuek. Saking kesal dan gemasnya Zi memukul lengan suaminya


“Kak Za tahu tidak, Kak Za orang terjahat yang pernah Zi temui”


“Loh kok begitu?”


“Kak Za masih tak mau mengaku. Kak Za pernah bertemu dengan Zi tidak saat menggunakan motor merah itu?”


“Kan aku sudah bilang pernah di kampus”


“Lalu apa yang terjadi? Kapan pertama kali Kak Za bertemu dengan Zi?”


“Hm… saat di pintu masuk kampus” Za mulai berpikir apakah nyawanya akan terancam kali ini


“Lalu?”


“Lalu aku memarahimu”

__ADS_1


__ADS_2