Hanya Zi

Hanya Zi
Dia yang Bisa Tertawa


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Rizky dan Za seolah kompak menyerahkan masalah presentasi project mereka pada Zi.


Antara bersyukur dan sedikit tertekan, Zi merasa kedua mantan kakak tingkatnya ini ingin mengasah sejauh mana kemampuan Zi dari hari ke hari.


Dan saat ini Zi diminta CEO nya untuk menghadap melaporkan progress project lainnya. Setelah Zi mengetuk pintu dan mengucapkan salam, gadis itu pun masuk setelah mendapat sahutan pria dingin itu.


Lima belas menit waktu berlalu, seperti biasa Zi tak akan dengan mudahnya keluar dari ruangan itu, sebelum dicecar oleh berbagai macam pertanyaan yang membuat emosinya mulai naik.


Emosinya naik karena terlihat Boss nya itu sedang menguji bukan sedang bertanya. Hingga di saat pria itu berkata


“Kalau hanya untuk….” Ucap Za sambil berfikir akan melanjutkan kata-katanya


“Mengejar laki-laki lain?” Zi malah melanjutkan ucapan Za dengan salah satu lirik dangdut.


Wajah Za terlihat bengong, seolah tak asing dengan kata-kata itu. Zi hanya berusaha menahan tawanya sekuat tenaga.


Bagaimana bisa seorang Zi bisa menghafal lirik lagu dangdut? hal ini tak lain dan tak bukan karena "jasa" tetangga di samping rumahnya di kampung yang selalu memutar genre musik itu di pagi dan sore hari.


Pernah suatu hari Zi iseng-iseng berhadiah menegur tetangganya, sangsi anak semuda usianya, bisa mengalahkan fanatisme tetangganya terhadap musik itu.


Flashback On


“Kang, boleh dikecilkan tidak suaranya, Zi sedang belajar” Ucap Zi pada anak sulung di samping rumahnya yang memang memiliki hobi mendengarkan musik itu, dan jawabannya hanya


“Neng Zi, musik begini enaknya di dengar kencang-kencang nanti neng Zi pasti ikutan joget” dan Zi pun hanya nyengir kuda, sudah kehabisan kata-kata untuk menegur pria dewasa itu.


Joget dari Hongkong, aku bukannya ingin joget Kang, tapi malah ingin lempar tape recorder Akang ke dalam sumur biar penghuni sumur saja yang joget sana.


Jadi tak heran jika gadis itu tanpa sengaja bisa menghafal puluhan lirik lagu dangdut atas jasa tetangganya satu itu.

__ADS_1


Flashback Off


“Sudah pak tak usah difikirkan seserius itu” Zi kembali iseng


“Sepertinya kamu sudah mulai bosan berada di sini, baiklah silahkan kamu boleh kembali” Saat Zi akan melangkahkan kaki ke luar pintu


“Jika tak keberatan, bisa buatkan saya kopi?” Zi celingak-celinguk ke meja Silvi, memang dia sedang tak ada di tempat.


Kenapa tak minta tolong Cleaning Service saja, sudah pasti mereka lebih ahli. Apa tak takut aku memasukkan racun?


Zi beranjak menuju pantry, ternyata di sana ada petugas cleaning service yang tampak sedang beristirahat.


Tak tega untuk mengusiknya, Zi akhirnya memutuskan untuk membuatnya sendiri. Zi masih tak lupa racikan kopi yang a buat untuk sang Ayah, berharap semoga saja selera pria itu sama dengan Ayahnya.


Meskipun bedanya kopi yang berada di rumah kopi adalah kopi warung biasa, tapi kopi disini benar-benar tersedia kopi asli, disertai gula dan creamer.


Semoga anda tidak muntah-muntah setelah meminum ini ya Tuan Za yang terhormat, menyebalkan dan kelewat dingin. Jika tak ingat kau yang telah menggaji ku, aku pasti akan melawan mu lebih sering dari yang sekarang aku lakukan haha…


“Dasar tak sopan, ternyata gadis itu malah membaca lirik lagu dangdut” Za tak bisa menahan tawanya saat itu, meratap kebodohannya sendiri. Tanpa ia sadari Zi sudah berada di ambang pintu


Dia tertawa? Tak salah? Berarti dia bukan alien, tapi masih cooler bag


“Silahkan Pak, semoga setelah meminum ini Bapak tak merasakan hal-hal aneh di perut Bapak ya, karena saya tak berani bertanggung jawab” Zi memilih untuk segera pamit meninggalkan ruangan dingin yang terasa panas itu, daripada urusannya akan bertambah sengit dan panjang, hingga akhirnya pria itu meminum kopinya perlahan


Enak juga kopi buatannya, lebih baik dari yang biasa dibuatkan petugas clening service. Bahkan Silvi saja tak becus mengurus hal sepele seperti ini


Menjelang istirahat siang, Zi janji berkumpul dengan kawan-kawan senasib sepenanggungan saat interview yang tak lain dan tak bukan Iqbal, Leo, Suci dan Rani.


Mereka mulai memilih makanan yang mengundang selera perut masing-masing.

__ADS_1


Setelah berkumpul di meja, obrolan dari mulai yang penting sampai yang tak faedah sama sekali pun mulai terlontar satu persatu.


Dari mulai membicarakan ribetnya kemauan klien perfectionist, deadline project yang saling berkejaran satu sama lain serta hal-hal konyol yang dilakukan seorang Leo.


Akhirnya setelah kehabisan ide, pria itu pun melontarkan pertanyaan pada kawan-kawannya


“Gila… Coba kalian lihat, menurut kalian di video kecelakaan lalu lintas ini siapa yang salah?” Tanya Leo pada ke empat kawannya sambil memperlihatkan HP nya. Suci dan Rani tampak bergidik ngeri sambil mengomel pada pria itu “Kalau kasih lihat video yang benar dong, buat orang tak bisa tidur lo ini”


Suci memukul punggung Leo.


“Ga penting Leo bahas begitu, yang penting kalau di jalan, bawa kendaraan pakai otak jangan pakai nafsu” Rani berkomentar sambil bergidik ngeri


Iqbal memilih untuk tak berkomentar. Leo masih menunggu jawaban Zi yang terlihat malas buat mengomentari


“Yang salah itu motor sama mobilnya, bukan orangnya”


“Loh.. kenapa?”


“Mau-maunya mereka digerakkan ke kanan dan ke kiri mengikuti keinginan driver, berarti dia tak punya pendirian kan?” Jawab Zi santai


“Zi kamu sehat?” Tanya Leo yang diiringi tatapan heran ke empat kawannya


“Alhamdulillah sehat, tapi kalau lama-lama diam disini sama kamu, bisa sakit betulan.


“Kamu sudah bosan ya selalu jadi murid berprestasi, lalu lulus dari Universitas ternama dengan hasil cumlaude, jadinya mulai ngereceh begitu ya” Leo masih tak habis pikir


“Bisa jadi, lumayan receh juga bisa buat ongkos naik haji. Lain kali kalau mau kasih lihat video yang kira-kira, kasihan keluarganya tahu, awas kalau dishare” Zi mengepalkan tinju lalu pergi meninggalkan Leo dan Iqbal disusul oleh dua gadis lainnya, karena obrolan yang sudah tak jelas juntrungannya.


Setelah kejadian pertama kali Zi membuatkan kopi dan berhasil, hari-hari berikutnya jika Zi sedang menyerahkan laporan ke ruangan CEO, Za tak melewatkan kesempatan untuk meminta Zi kembali membuatkannya kopi.

__ADS_1


Awalnya Zi sempat risih, bahkan sempat mengadu pada Silvi agar ia tak kembali dijahili boss nya untuk membuat kopi. Zi sampai mengajarkan Silvi takaran yang pas yang biasa ia buat, tapi tetap saja di lidah Za rasanya berbeda.


Zi pun semakin geram tapi ia tak hilang akal, saat akan menyerahkan laporan, dia akan meminta Suci yang mengantarkan ke ruangan CEO mereka, karena Zi tahu Boss nya tak akan dengan sengaja menelepon memintanya membuatkan kopi jika Zi tak naik ke ruangannya.


__ADS_2