Hanya Zi

Hanya Zi
Masa Depan Aku Akan Menghadapimu


__ADS_3

Wahai masa depan, akan sejauh apa kelak kau mengujiku semoga kau sudi berbaik hati dengan perlahan memberikan sumber senyuman diantara ujian-ujian itu. Tapi sepahit apapun ujian darimu nanti wahai MASA DEPAN, Insya Allah aku akan siap menghadapi mu.


Zi mulai menghela nafas sambil mengepalkan tangannya di depan dada, tak disangka ternyata ada Bapak security kampus yang memperhatikan tak jauh dari sana sambil tersenyum, Ini anak lucu sekali batinnya.


Bagaimana tidak saat itu Zi sedang celingak celinguk sambil telujuknya bergantian menunjuk kanan dan kiri seolah-olah sedang memilih persimpangan.


Disaat Zi kebingungan sambil kakinya melangkah ragu ke kanan berhenti sebentar terus beralih menjadi belok ke kiri dan kebingungan itu terjadi sebanyak dua kali, hingga akhirnya dari belakang muncul pengendara sepeda motor besar sambil memijit klakson motornya.


Tidiiiiiiitttt………!!!


“Astaghfirullohal’adzim..!” Zi kaget dan dia terjatuh


“Kalau jalan yang bener dong, kalau mau ke kanan ya ke kanan, ke kiri ya ke kiri, jangan seperti orang plin plan begitu. Kalau loe kenapa-napa sudah pasti gue yang disalahin!” Pria itu marah-marah tanpa turun dari motornya


“Ya maaf Mas namanya juga bingung” Zi mulai berdiri sambil membersihkan kotoran yang menempel di baju dan rok nya


“Mas, mas.. Loe kira gue jualan mas, orang Jawa juga bukan, manggil-manggil Mas” Pria itu masih terlihat marah.


“Ya ampun orang sudah minta maaf baik-baik jadi panjang ya urusan, terus maunya dipanggil apa?!!!” Zi mulai hilang kesabaran.


Tapi ternyata Pria itu mulai malas memperpanjang urusan, dia memilih langsung pergi karna dia ada pertemuan organisasi hari itu, dia pergi dengan kecepatan motor yang tinggi meninggalkan Zi yang terbatuk-batuk karena asap knalpotnya tepat di depan wajah Zi.


“Ya Allah baru hari pertama, ujiannya sudah muncul begini, semangat Zi semangat itu belum seberapa”. Zi mencoba menenangkan dirinya sendiri


Saat itu Zi menggunakan rok motif berwarna hijau, kaos lengan panjang hijau yang ditutup kardigan tipis putih, serta hijab putihnya.


Tak lama Bapa security tadi menghampiri Zi. “Adik ini sebenarnya mau kemana, nampak seperti orang bingung begitu?”


“Iya nih Pak, sebenarnya saya hanya ingin melihat-lihat fasilitas kampus, hanya saja saya tadi bingung harus melalui jalan yang mana dulu ke kanan atau ke kiri, eh tak tahunya malah mau tertabrak motor” Zi menceritakan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


“Oh begitu, kalau begitu lebih baik adik ambil jalan kiri saja, disana banyak fasilitas olahraga dan taman, saat pagi seperti ini jalan-jalannya enak Dik masih segar, nah nanti lama-lama jalan itu terhubung ke bagian kanan bangunan ini.” Dengan sabarnya Bapak itu memberikan penjelasan.


“Ya ampun Pak, terimakasih banyak ya, saya akan coba ikuti saran Bapak, nama Bapak Pak Rahmat ya" sambil Zi menunjuk bagian kanan baju Bapak security itu,


“Sekali lagi terimakasih banyak ya Pa Rahmat, nanti saya pasti merepotkan Bapak lagi”. Ucap Zi sambil tersenyum


“Sama-sama Dik hati-hati ya, kalau ada apa-apa yang mau adik tanyakan, jangan sungkan tanya Bapak saja ya, kebetulan Bapak disini kebagian jaga pagi terus.”


“Siap Bapak terimakasih banyak ya Pak” Zi mencium tangan Pak Rahmat lalu mulai berjalan mengelilingi kampusnya. Kebiasaan Zi yang tak hilang, mencium tangan saat bertemu atau berpamitan dengan orang yang lebih tua.


Tuh kan benar setelah ujian tadi terkena marah mas-mas itu, eh ada Bapak baik hati menunjukkan ku jalan sampai menawarkan bantuan, baik sekali.


Zi mulai menikmati perjalanannya, betul kata Pa Rahmat jika Zi berjalan ke zona kiri ini siang hari, pasti terasa sekali panasnya, karena sarana olahraganya lebih banyak di outdoor, tapi disisi lainnya ada taman dengan pohon rindang dan kursi-kursi yang bisa digunakan untuk belajar atau berkumpul dengan teman-teman.


Tak lama terdengar suara seorang Pria


Zi yang gelagapan karena kaget akhirnya mengulurkan tangannya juga “Oh iya Mas saya anak baru disini, nama saya Zi”


“Idih jangan panggil Mas, kurang enak di dengarnya, panggil saja Viko atau Kak Viko boleh, aku disini sudah semester 5”


Perasaan daritadi pria-pria disini seperti tak suka dengan panggilan Mas, pantas saja tadi aku kena semprot, oh ternyata biasanya dipanggil Kak.


“Oh iya Kak, Kak Viko jadi panitia MABA (Mahasiswa Baru) juga, anggota BEM kak?”


“Iya aku anggota BEM, ini sekarang kita mau rapat buat acara senin, kamu sudah siap dikerjain kakak tingkat kamu?”


“Ish… kok dikerjain sih kak, terdengar mengerikan”


“Dikerjain biar jadi pinter maksudnya Zi” Viko menjawab sambil tersenyum “Mau ditemani keliling-kelilingnya?”

__ADS_1


“Katanya tadi Kak Vico ada rapat, tak usah Kak Zi bisa sendiri”.


“Serius nih, tak masalah seandainya aku telat ikut rapat ada teman-teman lainnya yang sudah datang lebih dulu.” Viko terkesan memaksa


“Tak usah Kak sekali lagi terima kasih banyak” Viko pun mulai beranjak meninggalkan Zi, tak jauh dari sana ada 3 temannya yang sudah melambai-lambaikan tangan, 2 laki-laki 1 perempuan.


Sebenarnya Zi sedikit kurang nyaman berjalan berdua dengan orang asing, apalagi ini laki-laki, kalau dari tampangnya sepertinya Viko anak baik dengan kulit putih, tinggi, badan atletis berhubung dia anggota basket juga, kalau wanita-wanita lainnya mungkin berasa didampingi body guard ganteng kali ya.


Untungnya Zi tak memandang itu, saat dia tak nyaman mau seberapa indah pun pemandangan di depan sana, dia akan lebih memilih untuk sendiri atau berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.


“Hm.. Viko.. Viko... udah kilat aja loe mepet anak baru” kata 1 teman laki-laki Viko


“Biasalaaaah insting tajam bro” Ujar Viko sambil tertawa bangga.


“Sejak kapan loe doyan model begituan, bajunya norak, tuh lihat roknya seperti pakaian ibu-ibu mana pakai hijab lagi, jadi seperti ibu-ibu betulan tahu enggak? Kata teman pria Viko yang lainnya.


"Ih.. Kalian itu memang enggak bisa lihat berlian, lihat mukanya dari dekat cantik banget polos tanpa make up begitu, kalau masalah baju sih gampang banget di permak nya.”


Lia mulai menampakkan wajah tak sukanya, karena ia sebenarnya menaruh hati pada ketua tim basket itu. Lia kembali melihat gadis yang tadi berbicara dengan Viko memperhatikannya lebih seksama.


Ruang Rapat BEM


Seorang pria sedang berdiri di meja depan memimpin rapat, didampingi 3 rekan lainnya.


“Bagaimana teman-teman semua sudah siap untuk acara kita senin ini?” Za memastikan kesiapan teman-temannya”


Tok..Tok..Tok..


“Maaf Za gue telat” pria itu masuk dengan wajah tanpa dosanya

__ADS_1


__ADS_2