Hanya Zi

Hanya Zi
Ujian Macam Apalagi Ini


__ADS_3

“Loe bener enggak apa-apa Ki?”


“Iya bener serius enggak apa-apa”


“Kak Rizky lebih baik Zi saja yang tunggu Sarah disini, kan sama-sama perempuan, takutnya nanti Sarah kikuk lagi ditunggu laki-laki”


“Ya ampun Zi, memangnya kamu fikir aku mau ngapain, kan masih ada banyak perawat yang bisa diminta tolong, lagipula nanti keluarganya akan segera datang ko”


“Tapi Kak, Zi kasihan sama Sarah enggak enak juga kalau harus ditinggal”


“Memang besok kamu enggak ada kuliah Zi?”


“Ya ada sih kak, ada kuis malah, tapi enggak apa-apa nanti Zi bisa minta izin dosennya Kak”


“Sudah enggak apa-apa, kamu percayakan sahabat kamu sama aku, sampai nanti keluarganya ada yang datang, sekarang kamu pulang diantar Za ya, karena anak-anak yang lain sudah pada di jalan pulang. Za titip Zi, awas loe marah-marah sama anak orang”


“Sialan Loe"


Zi masih ragu meninggalkan Sarah, ditambah lagi saat ini dia akan bersama dengan mahluk jutek ini di dalam mobil hanya berdua, ya hanya berdua hal yang saat ini mulai Zi hindari apalagi dengan jarak tempuh 2-3 jam menuju kosannya, tak terbayangkan ujian apalagi yang akan Zi hadapi berikutnya.


Kikukkikukkikuk (suara jam burung hantu)


Satu jam berlalu tanpa ada yang memulai pembicaraan. Akhirnya Za memutuskan untuk memutar radio, tak lama berselang terdengarlah lagu favorit Zi.


Tanpa Zi sadari dia ikut bersenandung mengikuti alunan musik, Za yang secara sadar mendengar suara Zi pun bergumam dalam hati


Bagus juga suara ini, aku kira anak seperti dia tak bisa bernyanyi indah


“Eh maaf kak, berisik ya maaf kelepasan”


Za tak menggubris perkataan Zi


 


Astaghfirullohal’adzim sabar Zi.. sabar

__ADS_1


 


“Kak maaf, kita boleh berhenti sholat dulu enggak? Sepertinya sudah masuk waktu sholat maghrib Kak”


“Di pom bensin saja gimana? biar gue sekalian isi bensin”


Eh ini orang bisa bicara juga ternyata. Ya iyalah bisa Zi, terus kemarin-kemarin yang berdiri di depan menyampaikan sambutan ketua BEM memangnya siapa? Ya kaaaali mahluk ini bisa membelah diri, atau punya dua kepribadian gitu.


Zi menertawakan fikirannya sendiri.


“Iya enggak apa-apa Kak”


Saat Za mulai mengisi bensin, Zi keluar dari mobil langsung menuju mushola, 10 menit berlalu, Za sudah menunggu Zi di samping kiri pom bensin


Kak Za, sudah sholat belum ya? Ah mungkin sudah, biasanya laki-laki kan lebih cepat lebih simpel


“Gue lapar mau cari makan dulu”


Zi tak menjawab, dia bingung harus menjawab apa, yang ada di fikirannya saat ini adalah ingin segera merebahkan diri di atas kasur tercintanya, agar penderitaan bersama laki-laki menyebalkan ini segera berakhir, meskipun sebenarnya perutnya telah meronta dari tadi.


Za menepikan mobilnya di dekat penjual nasi goreng, lalu turun meninggal Zi seorang diri di dalam mobil.


Saat Zi masih berkutat dengan pikirannya


“Woi, loe enggak lapar mau sampai kapan disitu terus?”


Zi masih tampak bingung, akhirnya dia pun memutuskan untuk ikut makan bersama Za, karena takut sakit maag nya kambuh.


Zi mengambil posisi disamping Za tapi dengan jarak yang agak jauh bisa muat untuk dua orang diantara mereka, karena di depan mereka bangkunya terisi penuh oleh rombongan satu keluarga.


Saat Zi mulai menikmati nasi gorengnya, datang lagi tiga rombongan ibu-ibu yang hebohnya luar biasa, meminta Zi untuk menggeser duduknya dengan nada yang tak ada ramah-ramahnya.


“Mba duduknya geser dong, kita enggak kebagian tempat duduk ini”


Belum sempat Zi bicara Ibu tersebut sudah memaksa menggeser tubuh Zi dengan pinggulnya, mau tak mau akhirnya Zi duduk berdampingan persis di sebelah Za, tanpa ada jarak diantara lengan mereka, berhubung postur tiga orang Ibu-Ibu itu yang memang jumbo.

__ADS_1


Tak lama setelah kedatangan tiga Ibu-Ibu itu, muncul dua orang wanita yang menatap Zi dan Za dengan tatapan penuh curiga.


Zi merasakan lengannya yang terkena lengan Za, mulai tak nyaman dengan situasi ini, saat Zi hendak meninggalkan kursi, Za sudah terlebih dulu bangkit sambil menelpon seseorang.


Alhamdulillaah Ya Allah, untung saja Kak Za berdiri makanan aku kan belum habis juga, ini Ibu-Ibu kenapa bar-bar sekali sih mending aku makan di mobil saja tadi kalau tahu begini. Aduuh benar-benar perasaan aku tak enak, ternyata ada kejadian buruk kan


Setelah mereka menghabiskan makanannya, Za pun segera mengantar Zi untuk kembali ke kosan, yang tak jauh letaknya dari kampus.


Zi pun telah sampai di depan gang kosannya, setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Za, yang sudah sudi mengantar sampai membayarkan makan mereka tadi. Meskipun lagi-lagi tanpa di jawab apapun oleh mahluk aneh itu.


*****


“Jess sepertinya gue ada info penting nih buat loe, ini juga kalau gue enggak salah lihat ya, Aku kirim chat ya” Suara seorang gadis sedang menelepon


Keesokan Harinya


BUUUKKK!!!


“Heh perempuan aneh, berani-beraninya lo dekat-dekat sama calon pacar gue!” Jessica menggebrak meja Zi, saat teman-teman kelasnya Zi sudah beranjak keluar.


Di kelas saat itu hanya tersisa Zi dan Shinta, Jessica datang bersama dua orang sahabatnya


“Maaf kak maksudnya apa ya?” Zi mulai tampak bingung


“Lo kemarin jalan berdua sama Za kan?” Jessica menunjuk-nunjuk ke arah muka Zi


“Ya Allah kak kita bukan jalan, tapi pulang acara LDK ada kejadian yang enggak terduga, sampai akhirnya aku terpaksa ikut pulang kak Za, karena teman-teman yang lain sudah pulang lebih dulu” Zi mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan wajah masih terlihat tenang


“Ahhhhh enggak usah banyak alasan deh Loe!” Jessica mulai menaikkan lagi suaranya


“Maaf nih kak, tadi kan teman saya sudah coba jelaskan, kalau mau nyelesain masalah enggak usah pakai gebrak-gebrak meja sambil tunjuk-tunjuk segala juga bisa kan kak?” Shinta mulai maju membela Zi


“Eh lo lagi ikut-ikutan, urusan gue bukan sama lo tapi sama perempuan yang sok suci ini, penampilan sama kelakuan enggak sinkron sama sekali, bisa-bisanya mau rebut pacar orang”


“Pacar apa baru calon pacar kak? Enggak konsisten” Shinta mulai memancing emosi Jessica, tapi tertahan karena ucapan Zi

__ADS_1


“Oke, kalau begitu terserah kakak mau percaya atau tidak, kalau memang benar kakak calon pacarnya kak Za kenapa kakak enggak coba tanya langsung saja sama kak Za?”


“Eh berani-berani nya lo ngatur-ngatur gue, terserah gue dong mau ngapain, mau labrak siapa, mau percaya sama siapa, yang jelas gue peringatkan lo jangan berani-berani untuk dekat-dekat Za, ngerti lo?


__ADS_2