
Zi tak bisa menahan air matanya, apalagi saat Ibu mengatakan “Jangan lupa Istikharah ya Nak, Allah akan menggerakkan kemana hatimu akan berlabuh, kami disini hanya bisa bantu do’a untuk kebahagiaan akhirat dan duniamu”
Mulai malam itu Zi setiap hari beristikaharah, karena rasanya tak elok membiarkan kedua orang ini menunggu jawaban dirinya terrlalu lama. Beberapa kali Zi bersitatap dengan Rizky di kantor, mereka sama-sama bersikap profesional untuk tak menampakkan apa yang sedang mereka jalani saat ini.
Satu Bulan berlalu, akhirnya Zi telah menemukan jawabannya, yang Insya Allah menjadi akhir yang terbaik bagi semua. Malam itu Zi memutuskan untuk menelepon Bu Laila, dengan menarik nafas panjang beberapa kali.
Zi memutuskan untuk tak menerima pinangan Kak Aldi. Terdengar nada kekecewaan dari seberang telepon, Zi sampai memohon maaf berkali-kali pada dosennya itu, juga secara tak langsung untuk menyampaikan permintaan maaf pada anak sulung Bu Laila yang sudah memiliki niat baik padanya.
Selanjutnya Zi langsung menelepon Zahra untuk memberikan kabar kelanjutan proses Ta’aruf Zi dan Rizky, jangan tanya bagaimana reaksi Kak Zahra, mungkin dia jadi salah seorang yang merasa paling bahagia karena dua orang yang dia kenal baik, dan Insya Allah akan berjodoh.
Kenapa Zahra begitu yakin dengan kedua sahabatnya ini, karena dia bisa melihat bagaimana sikap, karakter dan interaksi mereka selama di kampus.
Esok harinya saat Zi mulai menginjakkan kaki di kantor, masih pagi sekali karena dia berniat menyelesaikan beberapa deadline yang harus segera dikejar. Dia melihat dua buah coklat yang terikat pita cantik dengan satu kotak sandwich beserta tulisan :
“Dimakan Ya, Jangan Lupa Baca Do’a Hehe”
“Kerja giat itu boleh, tapi jangan sampai lupa kalau badanmu butuh nutrisi”
“RD”
Zi hanya tersenyum memandang makanan yang ada di hadapannya, dia harus segera menyimpan coklat berpita itu, sebelum tim nya heboh tak karuan.
Tapi ngomong-ngomong jam berapa dia datang, sungguh anda berniat sekali Tuan Rizky. Dari mana dia tahu kalau aku sering melewatkan jam makan ku. Anda ini benar-benar pandai menyimpan perasaan.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama dengan perasaannya, Zi mulai menyantap satu buah sandwich yang tampak menggugah selera itu.
*****
Setelah kesepakatan selama 3 Bulan masa ta’aruf hari ini Rizky dan Zi memutuskan, apakah prosesnya akan dilanjutkan atau tidak. Jangan tanya apakah proses ini diketahui oleh rekan-rekan mereka di kantor?
Tentu saja tidak, hanya Za yang mengetahui ini, mengingat dia adalah sahabat satu-satunya Rizky yang selalu setia semenjak mereka SMP.
“Ma Rizky mohon Ma, Mama percaya dengan wanita yang Rizky pilih” Ucap Rizky memohon pada Ibu yang sangat ia sayangi itu. Tapi Ibunya tak bergeming.
“Mama sudah lihat kan CV Zi, dia gadis baik Ma, gadis cerdas, hanya memang keluarganya bukan keluarga yang berada, tapi itu tak masalah bukan, toh kekayaan itu bisa dicari dan tak kita bawa mati kan Ma?” Ibunya masih tak bergeming.
Di satu sisi dia ingin melihat anaknya ini bahagia dengan pilihannya, tapi di sisi lain, wanita yang Rizky pilih sangat jauh dari apa yang Ibunya bayangkan.
“Apa tak ada pilihan lain Ma?”
“Terserah, kamu yang pilih sendiri gadis itu atau kebebasan mu?”
Setelah proses negosiasi yang alot, akhirnya keluarga Rizky akan melaksanakan khitbah minggu depan.
*****
Zi mengajukan cuti satu hari di kantornya untuk mempersiapkan hari penting itu, agar Ibunya tak kerepotan seorang diri. Ibu begitu rindu dengan putri tersayangnya ini, apalagi saat ini ia akan menjalani satu tahap baru dalam kehidupannya.
__ADS_1
Kedua orang tua Zi sudah membaca biodata yang Rizky berikan, ditambah cerita Zi bagaimana sikap baik Rizky selama mereka saling mengenal di Organisasi kampus.
Sedangkan Rizky sudah mengajukan surat pengunduran diri dari Hartono Grup, untuk memulai menjajaki pekerjaan di perusahaan Ayahnya.
Saat proses khitbah, Rizky hanya membawa ke dua orangtuanya saja, sedangkan dari keluarga Zi tak ada satu orangpun sanak saudara yang hadir, karena semenjak Ayahnya Zi mengalami kebangkrutan, mereka sudah putus kontak dengan saudara lainnya.
Ibu hanya ditemani tetangga terdekatnya saja di kampung, yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Sedangkan untuk Zahra, Shinta dan Ina mereka tak bisa hadir karena pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan, tapi mereka berjanji saat pernikahan Zi nanti mereka usahakan untuk datang mendampingi sahabatnya itu.
Ibu Rizky memandangi rumah keluarga Zi berkali-kali, Beliau masih tak menyangka bagaimana mungkin putranya memilih wanita dari kalangan seperti ini. Terlalu sederhana, dan sangat jauh dari ekspektasi Sang Ibu.
Apa jadinya nanti, jika rekan bisnis dan kelompok arisannya mengetahui latar belakang calon menantunya ini, bisa habis dia diolok-olok begitu pikirnya, mana penampilannya tak ada elegan-elegannya sama sekali.
Proses khitbah pun berjalan lancar, diwakili Ayahnya Rizky yang mengutarakan maksud dan tujuannya, Tetangga yang hadir disitu sejak tadi ramai berbisik-bisik memuji ketampanan dan kehebatan calon besan Pa Rizal tersebut.
Tapi lain dengan Ibu, sejak tadi Ibu merasa tak nyaman dengan tatapan Mama Rizky yang tak menunjukkan sikap ramah sama sekali. Ibu mencoba menepis perasaannya, mungkin saja calon besannya ini sedang kelelahan karena perjalanan jauh Jakarta - Tasikmalaya.
Setelah proses khitbah, disepakati pernikahan mereka akan dilaksanakan 3 Bulan mendatang, karena alasan deadline pekerjaan yang harus Rizky dan Zi selesaikan di kantor. Tapi atas permintaan Keluarga Rizky, hanya akan dilangsungkan aqad terlebih dahulu di kampung halaman Zi, baru resepsi akan dilaksanakan 1 Bulan kemudian di Jakarta, dengan pertimbangan kolega bisnis Ayah Rizky.
Keluarga Zi hanya mengikuti saja permintaan besannya ini yang terpenting anak-anak mereka bisa menjadi pasangan yang sah di mata agama dan hukum negara, untuk urusan resepsi mereka menyerahkan pada keluarga Rizky sepenuhnya.
Semenjak hari khitbah mereka, Rizky semakin sering mengirimkan kejutan kecil, terutama saat menjelang makan siang. Zi sering mendapatkan kiriman paket makanan yang diantar ojeg online, atau sarapan yang dititipkan pada Bapak Security kantor dengan jumlah yang banyak, sehingga Zi bisa membaginya dengan Bapak-Bapak tersebut.
Tak lama dari proses khitbah Zi, Zahra sudah melangsungkan pernikahan lebih dulu, dan betapa bahagianya Zi saat menghadiri pernikahan sahabatnya ini. Sesuai janjinya dulu Zi, akan memberikan hadiah yang lebih baik dari yang pernah ia berikan, dan itu ia tunaikan saat Zahra melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
Zi menghadiahinya gamis indah dengan payet menawan yang Zi beli dengan harga cukup mahal, tapi tak apa karena Zahra adalah salah satu orang yang sangat berjasa di kehidupan seorang Zi, bahkan berjasa sampai di titik Zi menemukan jodohnya.