Hanya Zi

Hanya Zi
Penyebab Sarah Menghilang


__ADS_3

“Kamu kenapa bisa cantik begini?” setelah puas memandang wajah istrinya, Za kembali menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda karena kedatangan Ibunya.


Zi masuk ke ruangan itu pukul setengah 2 tapi sekarang sudah menunjukkan pukul 4 sore, gadis itu sama sekali tak terlihat sudah bangun dari tidurnya, Za yang sedikit heran, mencoba membangunkan gadis itu lembut.


“Zi… masih pusing?”


“Sayang.., ini sudah sore, kamu belum sholat Ashar loh”


Kenapa gadis ini jadi sulit bangun begini, apa mungkin dia kelelahan?


Zi tampak tak terusik, gadis itu benar-benar lelap, Za berniat mencoba menjahilinya


“Sayang…. ayo bangun kalau masih tak bangun nanti aku terkam mau hm..?” dia masih tak berkutik


Za memastikan berkali-kali bahwa Zi masih bernafas seperti biasa, kemudian memeriksa denyut nadinya yang masih teraba, karena segala usahanya msih tak membuahkan hasil, Za memutuskan untuk kembali membangunkannya pukul 5 sore nanti, jika masih tak berhasil ia akan membawa istrinya ke rumah sakt, khawatir terjadi hal buruk padanya.


Perkara nanti semua karyawannya menatap heran dan bertanya-tanya ia sama sekali tak perduli.


Saat waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore, Za mulai benar-benar khawatir, dia kembali beranjak dari meja kerjanya mendekati sofa dimana istrinya sedang tertidur.


Tapi sebelum ia benar-benar duduk, Zi terlihat mulai bergerak, memegang pelipisnya kemudian perlahan duduk


“Gimana masih pusing?”


“Tinggal sedikit Kak, tapi sepertinya tadi pusingnya Zi benar-benar karena mengantuk Kak, Zi lama ya tidurnya?”


“Lumayan, ini sudah jam 5 loh”


“Hah, Zi tidur disini lama dong. Kak Zi pamit sholat dulu ya?”


“Tidak sholat disini saja?”

__ADS_1


“Tak usah Kak, Zi sholat di bawah saja” gadis itu dengan segera keluar dari ruangan suaminya sambil mengembalikan kesadarannya karena pening di kepalanya belum sepenuhnya hilang.


Silvi yang terkejut karena pintu Bos nya yang terkunci perlahan terbuka dan melihat gadis yang mulai tak ia sukai keluar dari sana, sambil memegang pelipisnya.


Apakah tadi ia yang meminum kopi itu? Rencanaku gagal


*****


Keesokan harinya saat Zi masih disibukkan dengan pekerjaan, sebuah pesan masuk


📩 "Assalaamu’alaikum.. Bisa kita bertemu jam makan siang ini? Di café dekat tempat kerjamu saja. Sarah"


Zi sedikit tertegun membaca pesan itu, setelah sekian lama anak ini menghilang dari peredaran anak-anak geng ulat, lalu tiba-tiba ia meminta bertemu dengan nomor barunya.


📤"Baiklah, Insya Alloh kita bertemu nanti siang ya Sarah"


Saat jam makan siang pun tiba, Zi memenuhi janjinya datang ke café itu, sepertinya Sarah telah lebih dulu tiba. Zi melangkah membuka pintu café hingga terdengar suara denting lonceng pintu yang menandakan seorang pengunjung café tiba.


“Assalaamu’alaikum Sarah, kamu apa kabar? Apa yang terjadi kenapa kamu tiba-tiba menghilang begitu saja sih?” Zi memeluk temannya itu erat, yang dibalas pelukan membingungkan oleh Sarah


Sarah tersenyum kecut, antara meratapi kebodohan dan hidupnya yang entah harus berjalan seperti apa. Zi yang masih belum mendengar jawaban gadis itu memilih untuk memesan beberapa makanan di sana.


“Coba cerita Sarah, kamu kemana saja, terus kenapa kamu lepas hijabnya?”


“Aku bingung harus bercerita mulai darimana Zi, dosaku terlalu banyak”


Flashback On


Sarah 15 Tahun, hari itu pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah SMU yang telah ia impi-impikan. Selang satu minggu tanpa sengaja ia ditabrak seorang pria yang merubah hidupnya, sangat-sangat mendominasi isi kepalanya.


Pria itu meminta maaf karena telah menjatuhkan buku-buku pelajarannya, lalu kembali menyerahkan buku-buku pada Sarah dengan kembali mengucapkan maaf.

__ADS_1


Sarah saat itu terpana sejak pandangan pertama, pria itu baik, tampan ditambah lagi dari berita yang ia dengar pria itu adalah anak orang kaya.


Jangan tanya dia dapat info darimana, karena di sekolah itu berita pria yang ia kagumi serta sahabatnya, sudah menjadi santapan sehari-hari yang selalu dicari-cari kaum Hawa.


Sarah tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa mencari sosok itu, entah di kelasnya yang dengan sengaja ia lewati, di kantin, di lapangan basket meskipun tanpa keberanian untuk menyapanya sedikitpun, hanya mengaguminya dalam diam.


Selidik punya selidik, pria yang duduk di kelas 3 itu terlihat mulai menunjukkan perubahannya di sekolah. Ia lebih sering mengunjungi mesjid sekolahnya, serta berkumpul dengan anak-anak Rohis untuk mengikuti beberapa kegiatan yang rohis gelar di sekolah itu.


Melihat perubahan yang terjadi, akhirnya Sarah tergerak untuk mengikuti ekskul Rohis dengan maksud agar bisa lebih sering melihat dan bertemu dengan pria itu.


Tapi apa yang ia harapkan tak terjadi, meskipun pria itu sering hadir di acara Rohis, tapi peraturan yang mengharuskan antara pria dan wanita yang harus selalu menjaga jarak, jika ada kegiatan di dalam mesjid pun harus dihalangi kain pemisah, Sarah tak mendapatkan apa yang ia mau, alhasil jangankan ilmu yang ia dapat bisa menempel pada isi kepalanya, jusru malah nama pria itu yang semakin membuatnya terpatri, tanpa bisa berkonsentrasi pada hal lainnya.


Sarah adalah gadis pendiam yang memiliki paras cantik, bahkan kakak kelas dan teman sekelasnya pun beberapa kali ada yang menyatakan cinta pada gadis itu, tentu saja semuanya tak ia gubris.


Ia tak cukup percaya diri mendekati seorang pria secara agresif, meskipun wajahnya cantik tapi pria itu seolah sama sekali tak menyadari keberadaanya di sekolah itu.


Hingga suatu hari, saat kelulusan pria itu, Sarah memberanikan diri memberi sebuah surat pada pria itu, antara malu dan bingung, ia menyerahkan surat lalu dengan segera berlari meninggalkannya.


Rasanya ia tak akan memiliki kesempatan lagi untuk mengutarakan isi hatinya yang entah akan berujung dimana. Sarah sengaja, menulis nomor Hp nya di bawah surat dengan harapan pria itu mau menghubunginya.


Ya pria itu benar-benar menghubunginya. Dia mengirim pesan


"Assalaamu’alaikum Sarah, terimakasih untuk suratmu, tapi maaf aku tidak ingin berpacaran. Wassalam"


Antara patah hati dan bahagia karena suratnya di respon, tapi Sarah lega karena pria itu telah mengetahui isi hati yang selama ini ia pendam.


Melihat perubahan pria itu akhir-akhir ini yang tak mungkin akan memiliki pacar, Sarah semakin bersemangat mengejarnya hingga ke bangku kuliah, berharap kelak pria itu akan menjadi jodohnya. Pria pertama yang membuatnya jatuh cinta sekaligus hilang akal.


Sarah mencari tau kampus dimana pria itu berkuliah, lalu ia mendaftarkan diri di kampus itu meskipun dengan jurusan yang berbeda.


Benar dugaannya, pria itu terlihat semakin religius dan menawan, hingga saat acara MOS berlangsung Sarah memutuskan untuk mengenakan hijab, bukan atas kesadaran karena perintah Rabb Nya, tapi karena misi yang ia jalankan untuk mendekat pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2