Hanya Zi

Hanya Zi
Mereka yang Pasang Badan


__ADS_3

Zi melewati hari demi hari dengan semangat juang yang tak pernah redup. Grup chat geng ulat yang selalu hidup setiap harinya bercerita pengalaman mereka awal-awal di kampus, hingga curhat ditatap tajam kakak kelas yang kelewat kejam.


Seperti biasa Reno akan pasang badan jika ada yang berani dengan sahabat-sahabatnya.


Zi mulai aktif kegiatan Rohis, semenjak kejadian Zi pingsan, Zi semakin dekat dengan Zahra. Kakak barunya ini banyak memberikan perubahan besar di diri Zi, dari mulai cara berpakaian hingga cara berinteraksi dengan lawan jenis.


Bahkan tak jarang Zahra membangunkan Zi saat dini hari untuk membangunkan sholat malam. Hal ini yang membuat Zi merasa semakin nyaman saat berada di dekat Zahra.


Bahkan sekarang Zi mulai mengajak Shinta dan Ina dengan-sama ikut organisasi Rohis, baru Shinta yang memberikan respon toh tak ada salahnya belajar memperbaiki diri, Ina menjawab hanya mesem-mesem, “nanti lagi deh Zi aku belum siap, bagi waktunya aku susah, Insya Allah nanti ya” Zi pun hanya bisa mengangguk pelan.


Saat Zi menuju toilet bersama Shinta terdengar kasak-kusuk di lorong kampus


“Itu perempuan bajunya jadul ya”


“Norak tahu enggak, tak ada modis-modis nya sama sekali”


“Iya, dia anak baru, tapi kabarnya cukup bisa mengambil perhatian beberapa dosen dan pria-pria disini karena pinter katanya anaknya”


“Iya tapi melihat dandanan seperti itu yang ada hilang feeling juga kali, kampungan”


Shinta yang pendengarannya masih tajam mulai menatap tak ramah pada sumber suara-suara tadi, Zi yang menyadari itu dengan segera menarik tangan Shinta menuju toilet.


“Sudah Ta, kenapa matanya begitu?”


“Kamu enggak dengar Zi?”

__ADS_1


“Dengar Ta, tapi cemoohan seperti itu bukan untuk diladeni bukan. Aku memang berniat akan sedikit demi sedikit merubah penampilanku tapi bukan karena omongan-omongan miring di luar sana. Kak Zahra selalu mengajarkanku bagaimana cara berpakaian yang baik menurut agama kita, bukan menurut orang-orang di luar sana”


Shinta pun merasa tenang mendengar jawaban sahabatnya itu, dia khawatir Zi akan minder atau menjadi tak semangat menjalankan kuliah hanya karena cemoohan orang-orang melihat baju yang ia pakai.


Perlahan tapi pasti Zi mulai merubah penampilannya, Zi mulai meninggalkan celana panjang saat bepergian. Alhamdulillah Ayah dan Ibu ada rezeki lebih untuk membelikan Zi baju baru mengingat anak gadisnya itu baru belajar berhijab sehingga butuh beberapa baju yang jauh lebih layak pakai dibanding baju Zi sebelumnya.


Hingga ada satu kejadian Reno dan Reza datang ke kosan Zi, tentu saja hanya sampai ruang tamu, kalau tidak pentungan dan peluit Bapa Kosan bertindak.


Mereka membawa satu buah kotak besar, kalian tahu isinya apa baju, rok, gamis serta hijab dari geng ulat. Zi menangis menatap barang-barang itu


“Laah Zi ko kamu malah nangis?” Reno mulai kebingungan


“Kalian buat apa bawa barang-barang ini segala buat aku?”


“Sebenarnya sih ini ide Reno Zi, gara-gara ada kejadian enggak enak kemarin”


Reno sedang berdiri di depan papan pengumuman fakultas tehnik, di sana ada sekelompok mahasiswa laki-laki dan perempuan yang diyakini di atas angkatan Reno mengingat buku yang mereka bawa, mata kuliah Tingkat 3


“Gila ya gue enggak habis pikir dengan selera pria di kampus ini, masa senangnya sama perempuan yang penampilannya norak begitu?” Lia mulai menampakkan raut tak sukanya


“Kamu lagi ngomongin siapa sih memangnya?” Tanya gadis di sebelahnya


“Itu tuh siapa namanya, enggak penting juga sih diinget ji apa Zi gitu. Zidna Ilma” Lia masih ingat dia gadis yang pernah didekati Viko


Reno yang awalnya tak tertarik dengan obrolan mereka, mendengar nama Zi disebut, mulai menajamkan telinganya, karena sahabatnya yang ternyata jadi perbincangan

__ADS_1


“Coba kalian perhatikan baik-baik menariknya apa coba, kerudungan begitu, bajunya juga baju kampung, Iya sih gue akui dia memang cantik meskipun tanpa makeup, tapi memang cantik saja cukup ya buat menarik mata pria-pria seperti kalian ini” Lia mulai menunjuk ke arah dimana Zi berada.


“Oh iya gue juga dengar di tehnik nama anak itu memang lumayan santer, secara katanya anaknya pinter”


“Eh Lia, buat kita nih kaum adam kadang fisik jadi urusan nomor 2, yang penting kelakukan nya enggak minus kaya loe” Lia mulai mengarahkan tinjunya ke pria itu.


Teman-teman Lia disini mulai sadar kalau Lia sedang cemburu karena Viko pria yang dia incar sering terlihat mendekati gadis itu.


“Iya sih penampilannya memang agak norak, hanya kalau sudah dipoles sedikit bakal jadi keren itu anak”


Reno mulai mengepalkan tangannya. Malam itu juga dia bertekad menghubungi teman-teman geng ulat lainnya dengan chat japri menceritakan apa yang terjadi tadi siang. Dan tanpa diduga respon mereka sangat baik ada yang memberi beberapa stelan baju baru, hijab bahkan uang cash disisihkan dari uang saku mereka. Dinda anak geng ulat menelpon Reno


“Gila Ren, loe benar semenjak orientasi kemarin Zi memang jadi buah bibir bukan hanya di Fakultas Tehnik, selain karena dia pinter, supel, tapi banyak wanita-wanita yang mulai iri dengan dia, mulai deh membahas baju yang Zi pakai, padahal kan enggak penting sama sekali ya buat dibahas” Omel Dinda


“Iya empet dah aku lama-lama di dunia, kalau yang dibahas selalu enggak jauh dari materi. Oh iya Nda ini uang yang terkumpul di aku buat bajunya Zi kan banyak nih, cuma karena aku laki-laki enggk faham masalah begitu, bisa minta tolong Nda kamu sama teman-teman perempuan yang lain belanja deh baju yang cocok buat Zi, pokoknya kita pria-pria tahu beres oke?”


“Siap Ren kalau soal itu, nanti aku kerahkan anak-anak gadis geng ulat muter-muter tanah abang, atau kalau perlu mall sekalian”


Flashback Off


“Ya ampun Ren, padahal enggak perlu digubris omongan seperti itu, aku pede pede saja ko pakai baju yang ada sekarang, tak pernah berusaha buat mendengarkan omongan orang selama aku pakai baju sopan, menutup aurat aku kan? Lagipula Alhamdulillah kemarin juga orang tua aku sudah kirim beberapa baju”


“Iya tapi aku mumet dengarnya Zi, risih” Reno menggosok-gosok telinganya


Reza cekikikan

__ADS_1


“Ga kebayang Ren sama istri loe nanti akan seprotektif apa dirimu, dengan sahabat sendiri saja loe totalitas begini. Salut aku sama Kamu Ren” Sambil menempelkan jempolnya di depan hidung Reno


“Sialan Kamu, sudah Zi kamu jangan nangis lagi ya, kan Abang jadi ikutan sedih kalau neng Zi nangis” Reno pura-pura mengelap matanya yang tak berair membuat Zi kembali tertawa


__ADS_2