
“Pak Za, maaf” Zi merasa bersalah karena telah membuat pria tadi dalam masalah
“Mulai besok kau tinggal bersamaku” Zi yang menatapnya bingung, sedang tak bisa berpikir
“Tapi Pak……” Zi hendak berargumen, tapi segera dipotong oleh Za
“Kamu berani membantah? Ini bukan perintah atasanmu, tapi amanat ayahmu yang memintaku menjaga anak gadisnya” Mendengar kata-kata itu Zi tak bisa berkutik.
Za mengantar gadis itu sampai lokasi yang dirasa aman, karena gadis itu memintanya untuk mengantar sampai terlihat pemukiman warga yang mulai padat.
Setelah gadis itu mengucapkan terimakasih, Za memutuskan untuk segera pulang.
*****
Keesokan harinya, Zi kembali bekerja lembur. Kali ini ia lembur hingga pukul sembilan malam, sudah tak ada seorang pun di kantor itu, tunggu ternyata ada satu orang lagi, pria itu.
Pria itu saat ini sedang berada di ambang pintu menuju kantor lantai 14 dimana Zi berada, menatap gadis itu tajam.
Zi yang merasa ngeri dengan tatapannya kali ini, memutuskan untuk membawa satu stel baju cadangan yang selalu ia simpan di lemari kerjanya.
Di kantor itu terdapat tiga Buah Lift, satu buah lift hanya untuk VIP sedangkan sisanya khusus untuk karyawan. Zi berdiri di lift pegawai, sedangkan Bos nya berdiri di lift VIP.
Saat kedua lift terbuka bersamaan, Za menarik tangan gadis itu paksa
“Pemborosan”
Terserah anda saja Tuan, aku sedang tak ingin melawan mu
Mereka berdiri berjauhan, Za di dekat tombol lift, sedangkan gadis itu memilih untuk berdiri di pojok lift.
Saat mereka keluar beriringan menuju basemen pria itu bersuara
“Semenjak Papa sakit, saya lebih sering tinggal di Apartemen, kamu tak apa-apa tinggal di sana?” Zi hanya mengangguk sambil tertunduk.
Dia bingung dengan isi kepalanya sendiri, seakan tak siap menjadi seorang istri Zayn Lazuardi.
__ADS_1
Saat mereka akan keluar dari kantor tersebut Zi memilih untuk menyembunyikan dirinya di bawah jok yang ia duduki, Za yang melihat hal itu tersenyum
Kenapa dia takut sekali, jika orang lain melihatnya bersamaku
Saat Zi akan kembali duduk
JEDDUGG!
“Allohu Akbar, Aduuuhh” punggung Zi terbentur dashboard mobil.
Za tak kuat untuk tak menahan tawanya
“Siapa suruh pakai acara sembunyi-sembunyi segala”
“Bapak senang ya, kalau saya jadi bahan gosip karyawan sekantor?” Za tak menjawab pertanyaan gadis itu.
Akhirnya mereka sampai di apartemen Za yang terlihat mewah itu. Zi melangkahkan kakinya takut-takut, seolah sedang di bawa pergi oleh pria jahat masuk ke dalam hotel, tapi bedanya ia mengikuti pria itu dengan sukarela meskipun ya awalnya dengan paksaan.
“Maaf kalau apartemennya sedikit berantakan, kamar disini hanya ada satu, jika kamu keberatan kita berbagi kasur, saya akan tidur di sofa”.
“Jangan ngaco kamu, mana mungkin saya tega”
“Tapi saya juga tak tega Pak, ini kan tempat tinggal Bapak”
“Jadi?”
“Kita sama-sama tidur di sofa begitu?” Oceh Zi asal, tanpa dijawab oleh Za
Susah bicara dengan anak kecil. Za
“Pak Za lapar, mau Zi buatkan sesuatu?” Zi mulai melunak mengingat kebaikan pria itu yang beberapa kali telah menyelamatkannya. Ia tak ingin jadi manusia yang tak tahu berterimakasih
“Memang kamu bisa masak?” Ucap Za sangsi
“Jago sih tidak, tapi kalau bisa ya lumayan, kadang suka bantu Ibu di rumah”
__ADS_1
“Sudah tak perlu, kamu juga pasti capek, kita pesan online saja”
Za memilih mandi terlebih dulu, sedangkan Zi lebih tertarik untuk melihat isi apartemen pria aneh itu.
Zi memperhatikan apartemen milik suaminya itu perlahan, cukup besar dan sangat rapih untuk hitungan seorang pria single. Zi tertarik dengan ruang kerjanya, yang nampak berbagai jenis buku yang tertata sangat rapi serta beberapa majalah arsitektur.
Pantas saja anda sangat cerdas Tuan, banyak sekali buku yang terlihat asing dan rasanya perlu kening berkerut untuk membacanya
Zi beralih pada ruangan di samping ruang kerja, terdapat beberapa peralatan olahraga yang dilengkapi dengan satu buah kaca besar, layaknya di fitness club.
Setelah puas dengan beberapa ruangan tadi, Zi tampak penasaran, ingin sekali membuka tirai yang berada di ruang tengah. Dia sibak tirai dengan jendela besar tersebut perlahan
“Masya Allah… Indah sekali” Zi tak dapat menutupi kekagumannya. Sejak kecil dia senang sekali melihat lampu-lampu, apalagi saat ini dia melihat pemandangan itu dari atas ketinggian yang cukup membuat lututnya lemas.
Di samping jendela besar itu, terdapat pintu menuju balkon, tapi saat Zi akan membuka pintunya “Oh iya aku lupa, aku kan sedikit takut ketinggian” ketakutan yang tidak mencapai taraf phobia tapi saat ia di titik yang terlalu tinggi, kepalanya bisa tiba-tiba pusing, atau lututnya yang menjadi lemas.
Zi memilih untuk mengurungkan niatnya. Itulah alasannya selama hampir 2 Tahun Zi bekerja di Hartono Grup, dia tak berani mendekati jendela dari Lantai 14 yang berjarak 5 m di belakang meja kerjanya, dari pada konsentrasinya buyar dan tak bisa menuntaskan pekerjaannya, ia lebih baik mengurungkan rasa ingin tahunya itu.
Tapi lain dengan hari ini, dia merasa sangat ingin membuka tirai itu, dan melihat seberapa indah pemandangan yang tercipta di sana.
Tak lama, terlihat pria bertubuh atletis itu keluar dari kamarnya. Za memberikan handuk baru untuk gadis itu, lalu dengan sedikit malu Zi memberanikan diri meminjam kaos lengan panjang milik Za, karena baju cadangan yang ia bawa, adalah baju kerja untuk ia berangkat besok. Untuk rok kerja yang ia pakai hari itu, tak apa ia akan gunakan kembali malam ini.
Zi akhirnya mencoba memberanikan diri masuk ke kamar pria itu, menguncinya lalu mulai melangkahkan kakinya perlahan seperti seorang penguntit. Dia beralih ke sebuah lemari pakaian besar dengan pintu slide
Sreeeettt…
Masya Allah banyak sekali, benarkah anda ini seorang pria, kenapa jumlah pakaiannya lebih banyak dariku yang bahkan seorang wanita tulen, yang secara teori bisa mengalahkan 2-3 kali lipat dari jumlah pakaian pria.
Ternyata ini alasan anda selalu terlihat keren Tuan, koleksi pakaian anda sangat banyak, bahkan aku yakin seyakin-yakinnya jika di rumah anda pasti akan jauh lebih banyak dari ini.
Mengingat kata rumah, perasaan khawatir Zi mulai menghantui, apakah keluarga suaminya nanti akan menerimanya dengan tangan terbuka, ataukah sebaliknya. Apakah hal buruk akan terjadi? Dan ia akan menjadi janda di usia muda.
Zi beristighfar mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk itu dari kepalanya.
Setelah memastikan semuanya sudah Zi bawa, handuk, pakaian, serta alat mandi ia mulai masuk ke kamar mandi dengan perasaan sedikit gugup, karena untuk pertama kalinya dia berada berdua di rumah seorang pria asing, bahkan sekarang ia berada di kamar mandi pribadinya.
__ADS_1