
Ruang Rapat BEM
“Ini mungkin akan jadi rapat terakhir yang saya pimpin, tapi sebagai tugas pamungkas kami BEM angkatan XX, kami berencana ingin mengadakan bakti sosial kepada masyarakat di sekitar kampus kita” Za mulai memimpin rapat, sedangkan anggota rapat yang lain mulai mengangguk – anggukkan kepala.
“Gimana teman-teman semua bersedia membantu?”
“Siap Kak Za” Jawab mereka serempak
“Oke untuk teknisnya Pertama : Kumpulkan donasi dari semua mahasiswa dengan bentuk apapun jenis donasinya kita terima, kita beri target waktu satu minggu"
"Kedua : Kita tentukan tempat mana saja yang mau diberikan donasi, jika jumlah donasinya banyak nanti kita bagi personil saat proses pembagiannya. Gimana semuanya setuju? Kita mulai besok ya untuk penyebaran informasinya”
Dan akhirnya Zi mendapatkan tugas, untuk menentukan titik pembagian, kebetulan tempat kos Zi, termasuk pemukiman padat penduduk, dan disana terdapat rumah singgah untuk anak-anak yang kurang beruntung.
Seingat Zi rumah singgah itu milik seorang Pa Haji yang hanya tinggal sebatang kara, dan akhirnya Pa Haji tersebut memutuskan untuk menjadikan rumah tinggalnya sebagai rumah singgah.
Meskipun sangat sederhana, tapi cukup untuk menampung 15 orang anak yang kurang beruntung disana, daripada mereka harus kehujanan dan luntang lantung di jalanan.
"Sipp, aku sudah dapat nih satu tempat dengan mencatat kriteria usia penerima donasi, sisanya nanti sepertinya aku akan meminta bantuan Iqbal saja”
Tanpa mereka sangka, antusiasme anak-anak kampus yang memberikan donasi sangat luar biasa, dari mulai pakaian bekas layak pakai, pakaian baru, makanan, sembako, perlengkapan ibadah sampai uang tunai.
Akhirnya setelah berembuk, diputuskan pembagian donasi akan dilakukan di 20 titik. Masing-masing tim mendapat tugas untuk membagikan di 2 titik yang saling berdekatan.
Panitia mulai melaksanakan tugasnya masing-masing, mereka mulai berpencar Iqbal, Zi, Shinta, Zahra, Dito kebagian tugas di titik rumah singgah yang Zi pilih dan panti asuhan dekat kosan Iqbal karena jaraknya yang tak begitu jauh.
Untuk setiap titik, mereka memerlukan personil yang cukup banyak mengingat lokasi tempat donasi rata-rata tak bisa dijangkau dengan menggunakan mobil. Alhasil dari jalan raya mereka harus berjalan cukup jauh hingga sampai ke tempat yang dituju.
“Ya ampun mobil gue kenapa enggak mau menyala ya, Zahra lo bawa mobil?” Zahra menggeleng
“Lah terus bagaimana, kalau harus sewa mobil nunggunya bakalan lama lagi”
__ADS_1
Tak jauh darisana Za tampak berlari ke arah parkiran
“Eh Za Za lo mau kemana?”
“Mau ikut antar donasi lah, tadi gue dipanggil dulu dosen jadi baru mau nyusul nih. Memang kenapa?”
“Ini mobil gue tiba-tiba mogok, lo bawa mobil kan? Lo ikut ke titik kita saja Za, daripada ini kita kebingungan angkut barangnya mau pakai apaan coba.”
“Ya sudah ayo”
Mereka mulai beranjak ke panti asuhan dekat kosan Iqbal. Serah terima mulai dilakukan oleh Za, Dito tak lupa mendokumentasikan penyerahan donasi mereka.
Hingga akhirnya mereka mulai beranjak ke rumah singgah kosan Zi.
“Stop di depan saja kak Za parkirnya” Za menghentikan mobilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Shinta, Zahra, Dito sudah berjalan terlebih dulu sambil membawa barang yang mau didonasikan, sedangkan Zi tertinggal di belakang karena tadi mengangkat telepon dulu dari Ibu.
“Enggak usah Bal Insya Alloh bisa, itu juga barang bawaan kamu banyak”
Baru beberapa meter berjalan, kaki Zi tersandung karena pandangannya terhalang barang yang dia bawa, untung saja dia tak sampai jatuh.
Tanpa Zi sadari ternyata Za masih tertinggal di belakang, memperbaiki posisi parkir mobilnya yang masih kurang tepi.
“Makanya, jangan sok-sokan bisa bawa barang banyak, kesandung kan akhirnya”
Tanpa aba-aba Za membawa satu barang yang Zi pegang kemudian berlalu mendahului Zi.
Astaghfirullohal’adzim ini orang kenapa sih, juteknya kebangetan. Siapa yang sok sokan, itu namanya bukan sok sok an tapi belajar buat enggak manja, dikit-dikit minta bantuan. Terserah dia saja mau mikir apa, enggak lagi-lagi deh berurusan sama orang ini, bikin emosi Ya Alloooh
Zi menatap punggung Za dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Sesampainya di rumah singgah itu, mereka menatap bangunan di depannya lekat-lekat, bangunan semi permanen yang atapnya sudah terlihat kurang layak, terdiri dari 5 kamar dengan sekat seadanya, ruang tengah tanpa keramik yang mampu menampung sekitar 30 orang.
Pa Haji menerima kedatangan mereka dengan sangat baik, sebelumnya Zi memang sudah menyampaikan rencana kedatangan mereka saat Zi mendata jumlah anak disana.
Dari obrolan panjang itu akhirnya mereka tahu, bahwa Pa Haji penduduk asli sana, mendapatkan tanah warisan seluas 350m, tapi karena keterbatasan biaya, Pa Haji hanya membangun separuh dari keseluruhan tanah, itupun dengan kondisi seadanya.
Pa haji sehari-hari berjualan sayuran di pasar, kemudian sore harinya mengajar mengaji anak-anak di masjid yang tak jauh dari sana.
Sama sekali tak meminta bantuan donasi kesana kemari, cukup hanya dengan bermodalkan penghasilan yang ia terima setiap harinya.
Tanpa Zi sadari ia meneteskan air mata saat melihat anak-anak itu tinggal di tempat sederhana, tapi dicintai dengan cara yang tak biasa.
Saat sampai Zi langsung menggendong seorang gadis paling kecil disana.
“Lila mau coklat?” Zi mulai mengeluarkan makanan yang dia bawa di tas selempang nya
Gadis 3 Tahun itu pun mengangguk dengan malu-malu, sambil langsung melahap coklat yang Zi berikan, Sang Kakak yang berada tak jauh dari sana, memandang adiknya itu dengan tersenyum.
“Kak Candra mau?” gadis kecil itu menatap kakak yang tak jauh berada di sampingnya
“Enggak usah, itu buat Lila saja, kakak masih kenyang”
Mereka pun berpamitan, tampak Za masih berbincang-bincang dengan Pa Haji.
Sebelum mereka pamit, mereka sempatkan mengelilingi keseluruhan rumah singgah itu, sungguh jauh dari kata layak, jangankan berniat untuk memperbaiki tempat mereka bernaung, bisa makan setiap hari saja, sudah syukur yang tak terkira, itu yang berkali-kali disampaikan Pa Haji.
Dari perjalanan mereka kali ini, mereka mendapatkan pelajaran besar, dengan mengeluh hanya akan menambah bebanmu, dengan bersyukur akan memperkaya hati dan jiwamu, seberapa banyak pun Rizki yang mereka miliki saat ini.
Mereka semua tampak termenung setelah kunjungan tadi, Zi dan Shinta berpamitan langsung kembali ke kosan mereka.
“Ta, ko aku sedih sekali ya melihat mereka, kemarin waktu survey pertama aku hanya bertemu dengan Pa Haji dan Lila saja, jadi belum begitu terasa sedihnya, tapi saat tadi melihat mereka kumpul dengan kondisi seadanya, aku masih banyak sekali kurang bersyukurnya Ta”
__ADS_1
“Kamu benar Zi, kita badan sama usia saja yang sudah lebih dewasa dari mereka, tapi kesabaran mereka kalah jauh kita Zi”