Hanya Zi

Hanya Zi
Mencari Cahaya


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


“Assalaamu’alaikum adiknya kakak yang imut-imut, Lila apa kabar?”


“Wa'alaikumussalam kakak, Alhamdulillaah Lila sehat” Zi langsung mendudukkan Lila di pangkuannya.


“Nih kakak bawa makanan, kalian sudah pada makan belum?”


“Alhamdulillaah sudah Kak” Jawab Candra sambil mengusap kepala adiknya.


“Ya sudah ini buat cemilan kalian nanti malam saja ya”


Tak lama Pa Haji pun datang menghampiri Zi dengan sudah mengenakan sarung serta peci.


“Eh ada nak Zi, maaf Bapak mau langsung ke mesjid ya Nak Zi tidak apa-apa ya Bapak tinggal, masalahnya sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib”


“Iya Pa enggak apa-apa, tapi anak-anak perempuan tidak apa-apa ya pa, kali ini solatnya dengan Zi saja di rumah, Zi masih rindu sekali sama mereka” Pa Haji pun menganggukkan kepalanya


Zi mengimami sholat, diikuti 7 orang anak perempuan di rumah itu yang menjadi makmumnya.


Saat Zi mulai membaca Surat Al-Fatihah


Seorang pria melangkahkan kakinya di teras rumah Pa Haji


“Assalaa…..”


Suaranya terhenti melihat pemandangan di depannya. Pintu rumah sengaja Zi buka, karena saat itu udara terasa lebih panas dari biasanya.


Akhirnya pria itu memutuskan untuk menunggu di teras sambil mendengarkan suara merdu Zi yang sedang memimpin sholat.


Zi mulai membimbing anak-anak berdzikir, kemudian membaca do’a kedua orang tua serta do’a selamat dunia akhirat. Zi mengedarkan pandangannya ke luar dilihatnya ada seseorang sedang duduk di sana. Zi pun meninggalkan anak-anak dan mulai beranjak.


“Assalaamu’alaikum, Pa Hajinya…….” Suara Zi tertahan


ya ampun orang ini lagi


“Kak Za, mau bertemu Pa Haji?”


kira-kira akan bersikap dingin lagi kah orang ini?

__ADS_1


“Iya” Jawab Za sambil sesekali menunduk dan mengedarkan pandangannya


“Eh ada temannya Kak Zi ya?” Tanya anak-anak rumah singgah yang tadi sholat berjama’ah dengan Zi


“Ayo salim sama kakaknya, namanya Kak Za” Za tersenyum menatap anak-anak itu


Tumben sekali dia tersenyum


Anak-anak pun kembali ke dalam.


Zi memutuskan untuk duduk di luar dengan jarak sedikit jauh dari Za, sambil membiarkan Lila di pangkuannya


“Kamu senang anak kecil?


What??? tak salah ini orang memancing obrolan lebih dulu, ada angin apa gerangan?


“Iya Kak, suka sekali mungkin karena Zi anak satu-satunya” Za kembali menatap Lila yang sedang asyik memegang mainan yang baru Zi belikan.


“Kak Za sudah sholat? eh maaf Kak Za muslim?”


Suara Za tercekat, dia tak langsung menjawab pertanyaan Zi, malah memandang langit yang saat itu tak nampak bintang dengan sekali.


“Sama Kak, Zi juga belum jadi muslim yang baik”


 


Eh tumben-tumbenan sekali kita ngobrol tak pakai urat, baso sih enak ini kalau ngobrol pakai urat, perang namanya.


 


“lo jauh lebih baik dari gue Zi” Jawab Za sambil menatap lurus ke depan


“Maksudnya Kak?”


“Gue sudah lama enggak pernah sholat, terakhir mungkin SD, saat gue bermain dengan anak-anak di kampung sebelah rumah gue, ibadah lainnya jangan tanya, sholat saja berani gue tinggalin bertahun-tahun, apalagi memikirkan ibadah lainnya”


Zi pun mulai beristighfar dalam hati, dia berfikir pasti ada yang terjadi dengan pria ini hingga ia berani meninggalkan kewajibannya.


“Zi pun juga sama Kak, sebagai mahluk masih banyak sekali khilaf yang Zi perbuat, tapi untuk urusan kewajiban satu itu, Zi rasa Kakak yang harus menjemputnya sendiri Kak.

__ADS_1


Hidayah bisa datang karena kita cari Kak bukan kita tunggu, Kakak pernah merasa hidup kakak sepi dan kosong?”


Untung saja tadi, aku baru baca buku dari Kak Zahra, menjemput hidayah hehe..


“Sering”


 


Ya ampun mulai irit lagi nih bicaranya, tenang Zi tenang Alloh menyertaimu


 


“Itu dia jawabannya kak, Kakak merasa sendiri karena kakak sendiri yang menjauh dari sumber ketenangan itu"


"Coba kakak bayangkan hidup kakak tanpa seorangpun di dunia ini sepi kan, tapi itu urusannya baru bergantung pada mahluk, kalau sudah urusannya terlepas dari Sang Pencipta sepinya akan jauh lebih dahsyat, dan bisa –bisa bikin depresi kak, karena kita tak memiliki tempat bergantung sama sekali.


"Kakak coba hitung nikmat apa saja yang sudah Allah beri ke kakak, Kak Za sehat, berada, cerdas, masa diberi perintah yang hanya menghabiskan waktu kurang lebih 20-25 menit saja Kak Za tak sanggup”


Yess, kapan lagi coba bikin Kak Za mati kutu seperti ini. Eh Astaghfirullohal'adzim Zi, kamu tuh kenapa sih berasa puas segala, kalau niat mau kasih tahu ya kasih tahu saja enggak usah pakai yas yes yas yes segala. Lagipula Allah itu masih tutup aib kamu di depan orang lain, mau tahu rasa apa dibuka aibnya sama Allah.. Hiiyyy Na'udzubillahimindzalik


Zi mulai mengetok-ngetok kepalanya pelan, merasa bodoh dengan apa yang baru saja dia fikirkan. Sangat jelas terasa syaitan dan malaikat sedang mengobrak-abrik isi kepala dan hatinya.


Lila yang mash berada di pangkuannya hanya menatap keheranan.


Za tak menjawab, hanya diam dan sesekali tertunduk.


“Kak Za tahu, saat Zi menginjakkan kaki di kampus kita, Zi baru belajar mengenakan hijab, karena masih dalam hitungan minggu"


"Jujur saja saat memutuskan untuk mengenakannya Zi bimbang, bimbang akan banyak hal, termasuk rasa takut jika Zi malah melakukan hal buruk dengan hijab ini, membuatnya malu dan bahkan bisa membuat diri Zi semakin malu”


“Tapi Zi fikir kembali, jika kebimbangan itu muncul karena ketakutan yang bersifat duniawi, mau sampai kapan kita terkukung dengan rasa itu, sedangkan Alloh sudah memberi Zi nikmat yang teramat banyak".


"Orangtua yang penuh kasih sayang, nikmat sehat, anggota tubuh yang sempurna, oksigen yang bisa dengan bebas Zi hirup, sahabat-sahabat yang baik, nikmat bisa beribadah tanpa rasa takut”.


“Dari semua nikmat itu, Alloh meminta Zi untuk menutup aurat yang memang semestinya tak terlihat, itu mungkin sama sulitnya dengan kondisi Kak Za saat ini, tapi sungguh sama sekali tak ada bandingannya dengan segala nikmat yang sudah Zi terima"


"Hingga akhirnya Zi mencoba memberanikan diri melawan ketakutan-ketakutan itu, dan Alhamdulillaah meskipun Zi menghadapi ujian-ujian baru setelah mengenakan hijab, tapi rasa tenang yang Zi rasakan tak sebanding dengan itu semua Kak”


“Mungkin Kak Za pernah dengar, tapi belum tentu juga sih hehe, awal-awal Zi masuk kampus, banyak sekali kakak kelas Zi bahkan teman sekelas Zi sekalipun yang memandang Zi sebelah mata karena apa yang Zi kenakan, memang sih saat itu baju yang Zi pakai sepertinya sedikit ketingalan zaman dan tak modis sama sekali, tapi Zi coba kuatkan hati sampai akhirnya pertolongan itu datang satu persatu”

__ADS_1


__ADS_2