
Ya ampun, kenapa aku bicara jadi panjang lebar begini. Memang orangnya dengar apa?
Cukup lama mereka sama-sama terdiam, seolah sibuk dengan apa yang di fikiran mereka masing-masing.
“Jadi gimana Kak Za mau sholat disini atau di mesjid saja?”
Za terpaku sesaat lalu melangkah meninggalkan Zi
Ih orang ini benar-benar tak bisa ditebak, kadang bicara baik-baik, kadang bicara secuil, ini malah lebih parah lagi bicara pakai bahasa isyarat
*****
Za akhirnya kembali bersama Pa Haji dan anak-anak rumah singgah selepas Sholat Isya.
“Semangat ya Nak Za, jangan putus asa, enggak ada kata terlambat untuk jadi pribadi yang lebih baik”
“Terimakasih banyak ya Pa”
“Kak Za, Candra siap bantu kakak jika kakak perlu bantuan, meskipun Candra tak begitu pintar juga sih Kak hehe”
Za hanya tersenyum menatap Candra, sambil mengusap-usap kepalanya.
*****
Hari berganti hari, tragedi Zi dilabrak kakak tingkatnya sudah hilang di telan bumi, tak ada lagi yang berani mengusik anak itu, meskipun masalah lainnya muncul.
“Ya Allah Ta, gimana ini mata kuliah ini aku benar-benar enggak faham, terus kalau sampai nilai aku anjlok, beasiswa aku terancam, pupuslah sudah harapanku Ta” Zi menundukkan kepalanya di atas meja
“Tenang Zi tenang, kita cari solusinya sama-sama, kalau kamu saja enggak faham apa kabar otakku yang hanya seper sekian nya dari otak kamu Zi?”
“Hussh jangan bicara seperti itu, mana ada otak seper sekian. Kamu itu pinter banyak hal Ta, beladiri, berenang daaaan masih baaaaanyak lainnya” merekapun tertawa bersama
“Itu tuh ada Iqbal coba kamu tanya dia”
“Bal, kamu bisa bantu jelaskan mata kuliah tadi enggak?, aku benar-benar enggak faham Bal, mana dosennya killer lagi Huaaaaa” Zi mulai meratapi nasibnya
“Ish malah tadinya aku yang ingin tanya kamu Zi, masalahnya kalau ada apa-apa dengan nilai aku, apa kabar beasiswa” iqbal tampak sedang kembali berfikir
__ADS_1
“Hmmmm…. Aku punya ide, beberapa kali aku ketemu di acara Rohis dengan Kak Rizky, beberapa anak arsitektur aku perhatikan banyak yang meminta bantuan Kak Rizky menjelaskan mata kuliah mereka, mana orangnya baik sekali lagi. Gimana mau kita coba saja?”
“Boleh itu Bal, tapi kamu yang minta tolong ya, biar enak” Pinta Zi
“Sipp kalau soal itu sih gampang”
Rizky dengan senang hati akan membantu mereka belajar. Mereka janji bertemu di sebuah café dekat kampus yang dirasa nyaman, agar mereka bisa dengan leluasa berdiskusi tanpa harus merasa terganggu dengan suara mahasiswa lainnya.
Iqbal, Zi dan Shinta sudah sampai terlebih dulu. Rizky datang dengan sedikit berlari karena terlambat 15 menit dari waktu yang disepakati.
“Assalaamu’alaikum, aduh maaf saya telat nih”
“Tak apa ko kak, kita berterima kasih sekali Kak Rizky mau membantu kita belajar” Ucap Iqbal
“Iya enggak apa-apa, saya senang bantu kalian, gimana bagian mana yang yang masih bingung?”
Mereka bertiga pun memulai diskusinya. Rizky menjelaskan panjang lebar, penuh kesabaran, tak terburu-buru, sehingga mudah untuk dicerna ketiga anak ini, sampai tanpa Zi sadari dalam hatinya berkata
Masya Allah Kak Rizky cerdas sekali, pantas saja banyak perempuan terkagum-kagum, meskipun tak separah fans sahabatnya sih, tapi aku jadi tahu alasan wanita-wanita itu mengaguminya. Solih, tampan, baik, cerdas kurang apalagi coba. Astaghfirulloh sadar Zi sadar, kamu kesini tuh buat belajar bukan buat menghayal kesana-kemari.
“Gimana, masih ada yang mau ditanyakan lagi?”
“Nah sudah saya duga, kalian pasti bingung di Bab yang ini, tapi karena saya juga enggak begitu faham dengan bagian ini, saya sudah minta tolong teman nih untuk bantu kalian juga, tapi mana ya itu anak masih belum datang juga sampai sekarang”
“Hallo, lo sudah sampai mana? Oh oke oke” Rizky menutup teleponnya
“Nah itu orangnya datang” Semua orang menoleh ke arah pintu masuk
Munculah Za seperti biasa dengan wajah cool nya, Iqbal menyalami Za, lalu dia tos dengan Rizky. Zi dan Shinta hanya mengangguk.
Ya ampun, orang ini lagi. Kira-kira sekarang menjelaskannya dia pakai jurus yang mana ya, bicara singkat apa pakai bahasa isyarat.
“Sebenarnya kalian minta tolong saya tuh agak-agak salah alamat, kalian memangnya tidak tahu ya pemilik IPK tertinggi di arsitektur siapa? Ya orang ini nih.” Tunjuk Rizky pada Za
“Sudah diam lo jangan suka merendah untuk meninggi”
“Lah memang kenyatannya ko, dari SMP lo kan selalu juara umum, gue juga heran lo kan enggak pernah belajar ya tapi ko bisa juara umum terus sih Za?”
__ADS_1
“Sialan lo, lo fikir gue dapat nilai bagus dapat minta-minta gitu?”
Iqbal, Zi dan Shinta pun terkekeh mendengar obrolan kedua sahabat ini.
“Gimana kalian bingung yang mana?”
Iqbal mulai menunjukkan posisi Bab yang dirasa kurang faham, Za mulai menjelaskan dari teori basic. Sangat jelas terlihat jika ilmu yang dimilikinya memang bukan isapan jempol belaka. Kedua sahabat ini memang memiliki otak yang sangat diakui di Fakultas Arsitektur.
“Gimana sudah puas belum?” Tanya Rizky
“Alhamdulillah sudah kak, makasih banyak Kak Rizky dan kak Za, sudah bersedia menemani kami belajar, disela kesibukan kakak berdua” Ucap Iqbal dengan wajah sumringah, karena satu kekhawatiran telah ia lewati.
“Ya sama-sama, lagipula ilmu kalau tidak dibagi kan sayang, tak jadi pahala Jariyah. Nah Kita dari tadi kan hanya ngemil saja, sekarang kita pesan makanan ya” Rizky kembali memanggil pelayan café tersebut.
Setelah makanan datang, mereka makan sambil berbincang tentang kegiatan kampus, rohis dan hal lainnya.
“Zi bagaimana, kakak tingkat kamu masih ada yang suka ganggu?” Tanya Rizky penasaran. Iqbal yang tak faham dengan apa yang terjadi, hanya menampakkan wajah bingung, tanpa berani bertanya lebih jauh.
“Alhamdulillaah kak enggak ada, pokoknya aman” Ucap Zi sambil tersenyum malu
“Sorry itu salah gue” Ucap Za sambil menyantap makanannya. Zi tersedak mendengar ucapan pria itu
“Minum Zi minum” Shinta membantu memberikan minuman. Zi hanya terdiam bingung harus merespon apa.
“Eh sudah adzan maghrib tuh, kita sholat dulu saja ya di mushola sini” ajak Rizky.
Merekapun beranjak menuju mushola
Alhamdulillah ternyata orang ini sudah konsisten dengan sholatnya
Saat sholat akan dimulai, Rizky masih menunggu Za yang belum masuk, setelah yang ditunggu datang mereka memulai sholat jama’ahnya.
Rizky mempersilakan Iqbal menjadi imam tapi Iqbal kembali malah mempersilahkan Rizky. Kemudian Rizky meminta Za yang menjadi imam malah dijawab oleh pria itu
__ADS_1
"Jangan bercanda lo Ki” tepuk Za dibahu Rizky