Hanya Zi

Hanya Zi
Jangan Mengemis


__ADS_3

“Hah, berapapun yang Kak.. yang Mas mau” Jawab Zi tak karuan sambil kembali menyamarkan suaranya dengan suara tikus kejepit tadi


“Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan” Tanya Za lagi


“Apapun yang penting sehat solih solihah” jawaban Zi mulai tak ngaco


“Baiklah kita buat malam ini ya, aku mau 5 anak”


“Hah” Zi menutup mulutnya


“Tapi sepertinya kita harus bersabar, karena kita kan belum lama menikah, jadi tak usah diambil pusing ya” Lagi-lagi Za mengecup jemari tangan Zi, lebih parahnya lagi kini dia mengecup dahi gadis itu di depan umum.


Zi yang terkesiap memelototkan matanya di balik kacamata hitamnya (ya mana keliatan Zi)


Ternyata rencana Za tepat Leo pergi meninggalkan resto itu.


Sepertinya mereka bukan Pak Za dan Zi, mana mungkin gadis seperti Zi mau maunya bermesraan di depan umum dengan seorang pria seperti tadi. Lagipula mereka tampak seperti pengantin baru yang lebay dan norak. Sepertinya aku mulai termakan gosip di kantor, apa aku harus memeriksakan mataku besok?


Setelah memastikan Leo benar-benar meninggalkan resto itu, sepasang suami istri itu bernafas dengan lega


“Kenapa suaramu tadi terdengar aneh begitu?” Za akhirnya mengeluarkan tawa yang sejak tadi ditahannya


“Habisnya kalau Zi berbicara dengan suara yang biasa Leo dengar, bisa terbongkar semua Kak. Kak Za benar ingin punya 5 anak?”


“Ya, tentu saja kenapa memangnya kamu keberatan? Baiklah kalau kamu keberatan kita buat 7 saja”


“Hah!” Zi membenturkan kepalanya pada meja yang saat ini ada di hadapannya


Setelah mereka memutuskan untuk membawa pulang makanan mereka karena perasaan Zi yang tak tenang layaknya buronan polisi, mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang, setelah sebelumnya mengambil barang belanjaan mereka terlebih dulu.

__ADS_1


Di dalam mobil mengecek struk belanjaan, ternyata jumlah item barang yang mereka peroleh sama persis, meskipun ada beberapa jenis barang yang berbeda. Saat di pinggir jalan tak jauh dari posisi apartemen mereka, Zi melihat pemulung yang sudah terlihat sepuh bersama seorang anak pria berusia sekitar 7 Tahun, sedang mengambil dan memilih-milih sampah plastik.


Zi meminta suaminya untuk menghentikan mobil di depan mereka


“Permisi Pa, maaf saya boleh ngobrol sebentar” Zi menyapa pria sepuh dan anak itu dengan ramah, baru disusul suaminya.


“Bapak kenapa masih bekerja padahal ini sudah malam” mereka mengobrol sambil duduk di atas trotoar


“Mau bagaimana lagi Nak, Bapak ini sudah tua mulai tak kuat saat berjalan di siang hari, lagipula cucu Bapa sekolah saat pagi. Dia memaksa untuk selalu ikut, padahal Bapa selalu melarang”


“Nama kamu siapa Dik? Kelas berapa sekolahnya?


“Nama saya Khafi Kak, saya baru masuk kelas satu SD” anak pria itu tersenyum ramah


“Masya Alloh nama yang bagus, Khafi kenapa ingin ikut Kakek bekerja”


“Ya Alloh Nak, hatimu mulia sekali” Zi yang tanpa sadar meneteskan air mata, mengingat kepedihan hidupnya dulu sama sekali tak ada artinya dengan kerasnya hidup anak ini. Sedangkan Za mengusap kepala anak itu lembut.


“Setelah ini Bapa dan Khafi mau kemana, kita antar saja ya?” tawar Zi


“Tak usah Nak terimakasih gubuk kami sudah dekat, lagipula kalau nanti kami diantar menggunakan mobil, roda barang kami akan ditaruh dimana?” Kakek itu tertawa seolah tawaran Zi benar-benar lucu.


“Bapa dan Khafi memangnya tinggal dimana?” Kali ini Za yang bertanya


“Tak jauh di depan Nak di gang kedua sebelah kiri” Jawab Kakek itu sambil meminum air mineral yang Beliau bawa. Zi memberi kode pada suaminya untuk membawa separuh barang belanjaan yang tadi mereka bawa.


Mereka menyerahkan sembako dan beberapa barang kebutuhan sehari-hari pada kedua orang yang baru mereka temui itu.


“Bapa mohon maaf sekali, semoga Bapa berkenan ini ada sedikit makanan buat Bapa dan Adik, semoga Bapa berkenan menerimanya. Oh iya nama Bapa siapa? Tadi saya lupa bertanya” Ucap Zi halus, karena takut menyinggung perasaan Bapa tersebut

__ADS_1


“Saya Saiful Nak, tak usah Nak Bapa tak ingin merepotkan siapapun, apalagi meminta-minta. Sesulit apapun kondisi Bapa saat ini, Bapa tak pernah berniat sedikitpun untuk mengemis meminta bantuan pada orang lain” Zi memandang suaminya bingung, karena Pak Saiful terlihat akan segera beranjak meninggalkan mereka.


“Pa maaf sekali, kami tidak bermaksud menyinggung perasaan Bapa. Bapa tak perlu sungkan, karena Bapa memang tak meminta apapun dari kami, dan bahkan Bapa sama sekali tak mengemis apapun pada kami. Ini benar-benar murni keinginan kami membantu Bapa dan Khafi. Coba Bapa liat Khafi, cucu Bapa pintar pasti Bapa berharap kelak ia akan jadi anak Solih, berguna untuk orang lain, mungkin makanan yang tak seberapa ini bisa membantu mengantarkan lebih banyak kebaikan untuk Bapa dan Khafi.”


Za mencoba membujuk Pa Saeful agar menerima pemberiannya. Tanpa Zi sadari saat suaminya tadi mengambil belanjaan mereka, Za menyelipkan 10 lembar uang merah diantara tumpukan belanjaannya.


“Sekali lagi terima ini demi cucu Bapa ya” Za kembali membujuk karena terlihat Pa Saeful masih tak bergeming


“Bapa hanya takut, jika Bapa menerima bantuan seperti ini, Bapa menjadi orang cengeng dan mengajarkan cucu Bapa menjadi orang yang tak mau bekerja keras”


“Bapa tahu, ini mungkin hadiah dari Alloh untuk Bapa dan Khafi karena Bapa orang yang teguh berprinsip tak mau mengemis belas kasih dari orang lain, demi memberikan makanan halal untuk cucu Bapa” Zi membantu suaminya meyakinkan kembali pria itu.


Pa Saeful kembali menatap wajah cucu yang ia sayangi. Akhirnya ia bersedia menerima 3 kresek besar belanjaan sepasang suami istri itu, serta uang yang diselipkan diantara barang-barang belanjaan mereka.


“Kapan-kapan saya boleh mampir ke rumah Bapa?”


“Boleh Nak, datanglah tapi maaf jika gubuk kami tak cukup layak untuk menjamu tamu” Zi hanya tersenyum, sambil menatap kepergian kedua orang itu. Tak lama Khafi berbalik kembali berjalan mendekati mereka lalu berkata


“Terimakasih banyak Kak” Khafi mencium tangan sepasang suami istri itu, lalu berlari mengejar kakeknya yang sudah mulai berjalan jauh.


*****


Saat Pa Saeful dan Khafi sampai di tempat tinggal mereka, mereka mulai merapikan barang bekas yang mereka dapatkan hari ini di depan rumah sederhana mereka, untuk dipilah keesokan harinya. Khafi terlihat kesulitan mengangkat kresek belajaan yang tadi ia terima, akhirnya Kakek membantu cucunya mengangkat ke tiga kresek besar itu.


Saking senangnya melihat bahan makanan sebanyak itu, Khafi tanpa sadar sampai mengabsennya satu persatu.


“Beras, telur, mie instan, terigu, minyak goreng, kecap, saus, daging, sayuran buah-buahan ya ampun Kek ini banyak sekali. Sabun mandi, sabun cuci” Khafi terlihat semakin kegirangan saat melihat kresek terakhir yang berisi cemilan yang belum pernah ia makan sebelumnya.


“Kek, kenapa ini ada uangnya?!” Khafi terlihat terkejut lalu menyerahkan uang di dalam kresek itu pada Kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2